Berdasarkan pantauan lapangan pada Senin (23/2/2026), kerusakan jalur pejalan kaki tersebut tampak kontras dibandingkan ruas jalan lain di sekitarnya yang telah mendapatkan perbaikan.
Jalan Diponegoro merupakan salah satu jalur utama aktivitas masyarakat sekaligus akses penting menuju objek wisata sejarah dan budaya di jantung Kota Padang.
Kondisi trotoar terlihat memprihatinkan karena material batu sudah banyak yang hancur dan terlepas, bahkan di sejumlah titik bentuk aslinya tidak lagi terlihat akibat pecah dan terangkat dari permukaan.
Permukaan jalur pejalan kaki menjadi tidak rata dan dinilai membahayakan warga maupun wisatawan yang melintas, terutama pada jam-jam ramai aktivitas.
Kerusakan semakin diperparah oleh pertumbuhan akar pohon pelindung yang menyembul ke permukaan, sehingga mengangkat dan memecahkan beton serta ubin trotoar hingga akses jalan menyempit dan sulit dilalui.
Situasi tersebut dinilai menyulitkan kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas yang membutuhkan jalur pedestrian aman dan rata untuk beraktivitas.
Di sisi lain, hingga Senin siang, pembenahan trotoar baru terlihat dilakukan di sekitar ruas Jalan Pancasila yang mengarah ke kawasan Pantai Padang atau Taplau.
Sementara itu, sisi Jalan Diponegoro di depan Taman Budaya Sumatera Barat belum menunjukkan tanda-tanda peremajaan meski berada di kawasan strategis wisata.
Rizal (48), warga yang kerap beraktivitas di sekitar lokasi, menyebut kerusakan trotoar tersebut telah berlangsung cukup lama tanpa adanya perbaikan dari Pemerintah Kota Padang.
“Kondisi trotoar yang hancur ini sudah cukup lama dibiarkan. Sampai sekarang belum ada upaya pembenahan nyata dari pemerintah kota, padahal lokasinya berada di kawasan wisata,” ujar Rizal, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, Jalan Diponegoro merupakan jalur favorit wisatawan, termasuk turis asing yang berjalan kaki menikmati suasana kota dari kawasan Batang Arau menuju Taplau, melintasi Taman Budaya dan Museum Adityawarman.
Ia menilai kondisi infrastruktur yang rusak dapat menimbulkan kesan negatif bagi pelancong mancanegara yang harus menghindari lubang dan akar pohon saat berjalan kaki di depan pusat kebudayaan.
“Cukup sering kita temukan turis asing berjalan kaki di kawasan ini. Ini tentunya dapat memperburuk citra pariwisata kita. Malu kita kalau mereka melihat trotoar di depan pusat kebudayaan malah hancur berantakan seperti ini,” tambahnya.
Rizal berharap pemerintah kota tidak hanya fokus pada pembangunan destinasi wisata baru, tetapi juga memperhatikan estetika dan fungsionalitas infrastruktur pendukung yang menjadi bagian penting pelayanan publik.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menanti langkah Dinas Pekerjaan Umum atau instansi terkait untuk segera melakukan perbaikan trotoar di Jalan Diponegoro agar menyusul progres pembangunan di Jalan Pancasila.(*)
Editor : Hendra Efison