Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tradisi Babako Tetap Kuat di Padangpariaman Meski Harga Emas Naik Tajam

Aris Prima Gunawan • Kamis, 24 April 2025 | 05:10 WIB

Emas perhiasan. (Dok. Padekjawapos)
Emas perhiasan. (Dok. Padekjawapos)
PADEK.JAWAPOS.COM– Kenaikan harga emas yang signifikan pasca Lebaran 2025 menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat, termasuk di Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat.

Namun, di tengah mahalnya logam mulia ini, tradisi babako—peran keluarga ayah dalam adat Minangkabau—justru tetap dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Dalam budaya Minangkabau, khususnya di Padangpariaman, pihak ayah atau bako memiliki tanggung jawab besar terhadap anak dari saudara laki-laki mereka, yang disebut anak pisang.

Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah memberikan emas saat momen penting seperti pernikahan dan syukuran kelahiran.

Tradisi ini tetap lestari meski harga emas melonjak. Di Pasar Pauah Kamba, harga emas 24 karat ukuran 2,5 gram telah menembus angka Rp4,8 juta.

Namun, hal ini tidak menyurutkan niat para bako untuk tetap memberi emas sebagai wujud kasih sayang dan tanggung jawab keluarga.

“Saya sempat kaget juga lihat harga emas sekarang. Tapi saya tetap beli karena anak pisang saya menikah dua minggu lagi,” ujar Murniati (46), warga Padangpariaman, Selasa (23/4/2025).

Ia menegaskan bahwa memberi emas bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari nilai adat yang mengikat secara emosional dan sosial.

“Sebagai bako, kita sama seperti ibu bagi mereka. Memberi emas itu bukan hanya tradisi, tapi bentuk tanggung jawab. Kalau kita tidak hadir, bisa saja ibunya sampai menggadaikan harta demi pernikahan anak,” jelasnya.

Peran bako dalam masyarakat Minangkabau sering kali disalahpahami sebagai beban finansial, padahal hakikatnya adalah semangat gotong royong dan menjaga kehormatan keluarga besar.

Dalam berbagai kegiatan sosial dan adat, mulai dari pembangunan rumah hingga acara besar seperti malamang, sambareh, dan bajamba, keluarga ayah selalu dilibatkan secara aktif.

“Selagi anak-anak Piaman punya bako, tak ada yang sampai tidur di tanah atau kelaparan,” tambah Murniati.

Ia menyebut sistem kekerabatan yang kuat, seperti peran mamak (paman dari ibu) dan bako, menjadi kekuatan sosial utama masyarakat Minangkabau.

Fenomena ini semakin terasa pasca Lebaran, saat frekuensi pernikahan meningkat di Padangpariaman. Toko-toko emas pun ramai dikunjungi meskipun harga emas tengah tinggi.

Salah seorang wanita yang hendak manjalang bako—mengunjungi keluarga ayah—mengaku terkejut dengan kenaikan harga.

“Target awal hanya sekitar Rp3 juta. Nyatanya sekarang hampir Rp5 juta per emas. Terpaksa membeli setengah emas,” ujarnya, enggan disebutkan namanya.

Meski tantangan ekonomi hadir, semangat adat dan kekeluargaan tetap menjadi fondasi utama dalam masyarakat Padangpariaman.

Tradisi babako menjadi bukti bahwa di balik lonjakan harga emas, nilai-nilai gotong royong dan cinta keluarga tetap bersinar. (apg)

Editor : Hendra Efison
#Harga Emas Naik Bako Panik #Meski Harga Emas Naik Tajam #Tanggung Jawab Keluarga Ayah #Tradisi Babako Tetap Kuat di Padangpariaman