Makanan manis dan gurih ini hanya tersedia saat bulan Ramadan, menjelang Lebaran, sehingga menjadi incaran para penikmat kuliner tradisional.
Bongko terbuat dari tepung beras, santan kelapa, gula merah, garam, kelapa parut, dan daun pandan. Adonan kental ini diolah menjadi takjil lembut dan beraroma khas.
Tradisi masyarakat setempat menegaskan bahwa bongko tidak dibuat di luar bulan puasa, yang disebut bulan “carai”.
Penjual Langka di Batang Agam
Setelah menelusuri informasi dari warga, Padang Ekspres menemukan Wiwit (55), penjual bongko dari Padang Karambia, di pinggir Sungai Batang Agam, Kelurahan Tanjung Pauh, perbatasan Pakan Sinayan, pada Jumat menjelang waktu berbuka. Dalam lapak sederhana, bungkus bongko tersusun rapi menunggu pembeli.
“Ini makanan khas Padang Karambia. Dari dulu sudah ada, dan biasanya dibuat hanya saat Ramadan,” kata Wiwit. Ia menambahkan, keberadaan bongko semakin langka karena sedikit orang yang masih mempertahankan tradisi ini di Payakumbuh.
Bongko: Lebih dari Sekadar Takjil
Bagi warga, bongko bukan hanya makanan berbuka. Heri (47), seorang perantau yang mengetahui bongko melalui media sosial, menilai kuliner tradisional ini memiliki nilai budaya yang penting.
“Sekarang banyak makanan kekinian. Tapi makanan tradisional seperti ini punya cerita dan sejarah,” ujarnya.
Asnimar (66) juga mengungkapkan nostalgia saat membeli bongko pada masa muda.
Ia menekankan bahwa keberadaan bongko kini bergantung pada upaya individu yang masih mau membuatnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kuliner tradisional bisa tergerus modernisasi jika tidak dijaga.
Bongko bukan sekadar makanan, melainkan simbol identitas budaya dan tradisi Ramadan masyarakat Padang Karambia.
Lapak Wiwit di tepi Batang Agam menjadi bukti bahwa tradisi lama masih bertahan, meski perlahan terdesak oleh perubahan zaman.
Selama Ramadan hadir setiap tahun, harapan untuk tetap menemukan bongko di Payakumbuh tetap ada bagi penikmat kuliner tradisional.(*)
Editor : Hendra Efison