Program yang digelar pukul 09.00 hingga 12.00 tersebut bertujuan memberikan kemudahan akses uang layak edar sekaligus membantu masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga terjangkau. Terutama pascabencana alam yang berdampak pada stabilitas harga di sejumlah wilayah Sumatera Barat.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado mengatakan, masyarakat bebas menukarkan uang dalam nominal berapa pun. Layanan ini mencakup penukaran uang lusuh dengan uang baru, penukaran pecahan besar ke kecil, maupun sebaliknya.
“Ini merupakan kegiatan penukaran uang, baik uang yang lusuh atau dari nominal besar ke kecil, maupun sebaliknya. Setelah menukar uang, masyarakat akan mendapatkan voucer beras senilai Rp25 ribu,” ujar Andy, Selasa (20/1).
Voucer tersebut dapat langsung digunakan untuk membeli beras di stan Perum Bulog yang disediakan di lokasi kegiatan. BI Sumbar bekerja sama dengan Bulog menyediakan dua jenis beras, yakni beras Suntiang dan beras Setra Ramos pulen, masing-masing dalam kemasan 5 kilogram.
Harga normal beras tersebut sebesar Rp 77 ribu per karung. Dengan adanya voucer diskon dari BI, masyarakat cukup membayar Rp 52 ribu. Menurut Andy, skema ini dirancang untuk membantu menekan beban pengeluaran masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.
“Harga beras cenderung naik pascabencana alam di beberapa daerah. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu masyarakat mendapatkan beras berkualitas dengan harga di bawah pasar,” jelasnya.
Untuk mendukung kelancaran transaksi, BI Sumbar menyiapkan uang tunai senilai total Rp 1,8 miliar selama dua hari pelaksanaan. Setiap harinya, disiapkan Rp 900 juta dengan pecahan mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000 guna memenuhi kebutuhan uang kecil para pedagang.
Selain layanan ekonomi, BI juga menyisipkan edukasi kepada masyarakat mengenai cara merawat uang Rupiah agar tetap layak edar dan tidak cepat rusak. Warga yang berpartisipasi juga mendapatkan suvenir sebagai bentuk apresiasi.
Pemilihan jenis beras turut menjadi bagian dari edukasi konsumsi. Selain beras Suntiang yang sudah familiar bagi masyarakat lokal, BI dan Bulog juga memperkenalkan beras Setra Ramos bertekstur pulen.
“Kita juga mencoba mensosialisasikan beras pulen, karena anak-anak biasanya lebih menyukai tekstur seperti ini. Jadi ada variasi pilihan beras dengan rasa enak dan harga terjangkau,” tutur Andy.
Baca Juga: Longsor di Koto Gaek Guguak, Jalan Lintas Solok–Padang Diberlakukan Sistem Satu Arah
Selama dua hari kegiatan, tersedia total 500 karung beras ukuran 5 kilogram, terdiri dari 300 karung beras Suntiang dan 200 karung beras Setra Ramos pulen. Stok tersebut dibatasi setiap harinya agar distribusi melalui voucer dapat merata.
Antusiasme warga terlihat sejak pagi, dengan antrean yang mengular di area penukaran uang. Lokasi Pasar Raya dipilih karena merupakan pusat aktivitas ekonomi, khususnya bagi pedagang yang membutuhkan uang pecahan kecil untuk transaksi harian.
Salah seorang pedagang Pasar Raya Padang, Isaf, 52, mengaku sangat terbantu dengan program tersebut. “Saya sangat antusias. Bisa menukarkan uang besar jadi kecil, itu sangat membantu untuk uang kembalian pembeli,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi adanya voucer beras dan souvenir dari BI. “Selain urusan uang beres, saya juga bisa bawa pulang beras. Semoga kegiatan seperti ini sering dilakukan,” tambahnya.
Ke depan, BI Sumbar membuka peluang untuk menggelar kegiatan serupa di daerah lain di Sumatera Barat, menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kondisi stabilitas harga pangan di masing-masing kabupaten dan kota.
Melalui sinergi antara Bank Indonesia dan Bulog, diharapkan daya beli masyarakat tetap terjaga serta perputaran ekonomi kerakyatan di pasar tradisional dapat terus berjalan secara sehat. (cr3)
Editor : Adetio Purtama