Berdasarkan data terbaru, gelombang berpotensi mencapai ketinggian 4 meter dalam periode 12 hingga 14 Februari 2026.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur, Sahat Mauli Pasaribu, menjelaskan bahwa kondisi sinoptik menunjukkan adanya pergerakan angin yang bertiup dari arah Barat hingga Barat Laut.
Kecepatan angin terpantau berada pada rentang 5 hingga 25 knots, yang memicu fluktuasi ketinggian ombak.
“Secara umum, kondisi cuaca di perairan Sumbar diprakirakan berawan hingga terjadi hujan ringan. Hal ini patut diwaspadai karena beresiko terhadap pelayaran,” ungkap Sahat, Rabu (11/2/2026) siang.
BMKG mencatat dua kategori peringatan gelombang tinggi yang perlu diwaspadai pelaut dan nelayan. Kategori pertama, gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di beberapa lokasi.
Wilayah yang termasuk dalam kategori ini meliputi perairan Agam-Pasaman Barat, perairan Padang-Padangpariaman, perairan Pesisir Selatan, serta perairan Timur Sipora, Timur Siberut, dan Timur Pagai.
Sementara itu, gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4,0 meter berpeluang terjadi di perairan bagian barat Kepulauan Mentawai. Lokasi yang dimaksud mencakup perairan Barat Sipora, Barat Siberut, dan Barat Pagai.
Mengingat kondisi tersebut, BMKG menekankan pentingnya memerhatikan risiko keselamatan bagi berbagai jenis transportasi laut. Untuk perahu nelayan, risiko muncul apabila kecepatan angin melampaui 15 knots dengan tinggi gelombang di atas 1.25 meter.
Sementara itu, kapal tongkang diimbau waspada terhadap angin berkecepatan 16 knots dengan tinggi gelombang 1.5 meter. Khusus untuk kapal ferry, risiko pelayaran meningkat tajam jika kecepatan angin mencapai 21 knots dengan tinggi gelombang menyentuh angka 2.5 meter.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG guna meminimalisir risiko kecelakaan di laut. (cc1)
Editor : Adetio Purtama