Hujan sekitar satu jam seringkali cukup untuk membuat kawasan ini tergenang, bahkan hingga banjir yang masuk ke rumah-rumah.
"Fenomena ini bukan kejadian baru, melainkan berlangsung selama bertahun-tahun," ungkap Mahatma Muhammad, Founder Komunitas Seni Nan Tumpah sekaligus Kurator Pameran dalam percakapannya dengan Pengurus Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Yulviadi Adek saat berkunjung ke Korong Kasai Creative Hub di Padangpariaman, Jumat (13/2/2026).
Mahatma menjelaskan bahwa meski menghadapi genangan rutin, warga tetap menjalankan aktivitas dan kreativitas sehari-hari tanpa mengeluh berlebihan.
Saat bantuan untuk korban banjir bandang Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu ditawarkan, sebagian warga menolak karena menganggap situasi di Korong Kasai sudah lumrah dan masih ada daerah lain yang lebih membutuhkan bantuan.
Meski demikian, genangan tidak menghentikan kehidupan kreatif Korong Kasai. Komunitas Seni Nan Tumpah aktif mengadakan kegiatan seni dan budaya di kawasan ini, mulai dari pameran, pertunjukan tari, teater, randai, hingga silat.
Pembelajaran seni tersedia untuk anak-anak maupun orang dewasa hampir setiap hari, menyatu dengan kehidupan sehari-hari di rumah, teras, dan ruang temu warga.
Korong Kasai juga dikenal sebagai penghasil sapu lidi yang digunakan di berbagai rumah di Sumatera Barat dan Riau.
Saat ini berlangsung Pameran Silotigo dan gelar karya Kelana Akhir Pekan dengan tema “Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan” serta “Zona Aman Seni” pada 7–14 Februari 2026.
Ini program tahunan "Ke Rumah Nan Tumpah #10" yang telah berjalan sejak tahun 2017.
Tema yang diangkat kali ini, mencerminkan pengalaman warga dalam menghadapi genangan, bagaimana kebersamaan terbentuk dari situasi yang tidak sepenuhnya dipilih, dan bagaimana bertahan di tengah genangan menjadi pengalaman kolektif yang membentuk cara pandang masyarakat.
Baca Juga: Tupai Janjang: Seni Bakaba Minangkabau yang Mulai Ditinggalkan Generasi Muda
Dalam pameran dan gelar karya tersebut, karya seni tidak hanya dipajang di galeri, tetapi juga ditempatkan di ruang rumah warga, seperti teras, dinding lembab, potongan seng, jemuran, dan area bekas banjir yang becek.
"Penempatan ini memungkinkan karya seni hadir berdialog dengan aktivitas sehari-hari, termasuk interaksi dengan perabot, tanaman, dan lalu-lalang warga," kata Mahatma.
Selama sepekan pameran, kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat dan pengunjung dari berbagai usia serta dari berbagai daerah di tanah air.
Pertunjukan tari, randai, dan teater berlangsung setiap hari, menjadi ruang berkumpul sekaligus media membaca ulang pengalaman bersama di tengah banjir rutin.
Pelaksanaan program ke-10 ini menghadirkan dua kegiatan utama. Pertama, Pameran Silotigo, kolektif seni yang digagas oleh Imam Teguh SY, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil, menampilkan karya personal maupun kolaboratif ketiga seniman.
Kedua, Gelar Karya Kelana Akhir Pekan, ruang presentasi karya siswa kelas seni binaan Komunitas Seni Nan Tumpah bagi anak-anak dan remaja Korong Kasai, mencakup pertunjukan tari, musik, teater, pameran seni rupa, dan peluncuran buku fiksi.
Pada hari terakhir penyelenggaraan, Sabtu, 14 Februari 2026 pukul 16.00 WIB, digelar Pertunjukan Dongeng Obe jo Gogo, serta pertunjukan seni dari Komunitas Kiraiku Nan Jombang dan Komunitas Laguna Nusantara, menutup rangkaian kegiatan yang berlangsung selama sepekan.
"Program ini menegaskan bahwa seni dan kreativitas tetap berlangsung meski Korong Kasai menghadapi banjir rutin setiap hujan singkat, sekaligus menjadi media pembelajaran dan ruang interaksi bagi sebagian masyarakat setempat,"(*)