Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Saat Ramadan, Puncak Blood Moon jelang Buka Puasa

Dila Kartika Sari • Senin, 2 Maret 2026 | 11:48 WIB

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—Langit Indonesia akan dihiasi fenomena astronomi langka pada Selasa (3/3/2026). Gerhana Bulan Total yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menghadirkan pemandangan dramatis berupa Blood Moon atau bulan berwarna merah darah.

Fenomena Gerhana Bulan Total ini diprediksi dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Menariknya, puncak gerhana terjadi bertepatan dengan waktu masyarakat di wilayah barat Indonesia bersiap atau sedang melaksanakan buka puasa.

Puncak Gerhana Terjadi Pukul 18.34 WIB

Berdasarkan jadwal resmi, fase gerhana total dimulai pukul 18.04 WIB dan mencapai puncak pada 18.34 WIB. Gerhana total berakhir sekitar pukul 19.02 WIB, sementara keseluruhan rangkaian gerhana selesai pada 20.17 WIB.

Berikut jadwal lengkap fase gerhana di Indonesia:

Zona WIB

Zona WITA

Zona WIT

Secara teknis, gerhana telah dimulai sejak fase penumbra pukul 15.43 WIB. Namun fase awal ini tidak terlihat jelas karena Bulan masih berada dalam kondisi terang.

Aman Dilihat tanpa Alat Pelindung

Kepala BMKG Padangpanjang, Suaidi Ahadi, menegaskan bahwa gerhana bulan total sepenuhnya aman untuk dilihat dengan mata telanjang.

“Berbeda dengan gerhana matahari, gerhana bulan aman diamati tanpa alat pelindung khusus. Bulan akan tampak kemerahan dan bisa dipotret menggunakan kamera ponsel maupun kamera profesional,” ujar Suaidi, Senin (2/3/2026).

Baca Juga: Harga Emas dan Minyak Melonjak Setelah Serangan AS–Israel ke Iran

Pengamatan resmi akan dipusatkan di Masjid Raya Syech Ahmad Khatib Al Minangkabawi atau Masjid Raya Sumbar di Kota Padang. BMKG bekerja sama dengan pengelola masjid menyediakan teleskop untuk masyarakat mulai selepas salat Asar. Selain observasi ilmiah, umat Muslim juga dianjurkan melaksanakan salat gerhana (khusuf) secara berjemaah.

Mengapa Bulan Berwarna Merah?

Gerhana bulan total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Saat fase total inilah Bulan tampak berwarna merah gelap.

Fenomena “Blood Moon” terjadi akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Cahaya biru tersaring, sementara cahaya merah tetap diteruskan ke permukaan Bulan, sehingga menciptakan efek warna kemerahan yang dramatis.

Keterlihatan di Berbagai Wilayah

Wilayah barat dan tengah Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara dapat menyaksikan seluruh fase gerhana dari awal hingga akhir.

Sementara itu, wilayah timur seperti Maluku dan Papua baru dapat menyaksikan fase akhir karena Bulan terbit saat gerhana sudah berlangsung.

Faktor Cuaca jadi Penentu

BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca dapat memengaruhi keterlihatan fenomena ini. Berdasarkan prakiraan sementara, sebagian wilayah Sumatera Barat, termasuk Kota Padang, berpotensi mengalami hujan pada Selasa sore.

“Kami berharap saat puncak gerhana langit tetap cerah sehingga masyarakat dapat menyaksikannya dengan optimal,” kata Suaidi.

Masyarakat diimbau untuk memeriksa prakiraan cuaca sebelum melakukan pengamatan dan mengikuti jadwal fase gerhana sesuai zona waktu masing-masing.

Gerhana Bulan Total yang bertepatan dengan Ramadan ini menjadi momen langka yang layak dinikmati bersama keluarga, sekaligus momentum refleksi spiritual di bawah langit Indonesia. (cr8)

Editor : Adetio Purtama
#blood moon #gerhana bulan total #ramadan #3 maret 2026