Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hu Jintao, Segitiga Maut, dan Dilema Malaka

j
Penulis: jpg❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM - Sudah dua abad berlalu, tapi doktrin “siapa yang menguasai samudera, menguasai dunia” dari Alfred Thayer Mahan masih terus relevan. Apa yang terjadi di Selat Hormuz adalah contoh sempurna.

Iran mengunci selat sempit itu sejak diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel 28 Februari lalu dan dunia langsung meriang. Harga minyak serta gas meroket serta memaksa AS, dengan berbagai dalih, mengajak Iran ke meja perundingan.

Yang kini ditunggu reaksinya adalah Tiongkok setelah AS meneken kerja sama pertahanan dengan Indonesia. Perjanjian itu memang tak mencantumkan kontrol wilayah, tapi Negeri Paman Sam tersebut jelas sekarang punya akses lebih leluasa di wilayah Indonesia.

Advertisement

Termasuk tentunya memantau pergerakan di Selat Malaka yang memisahkan Indonesia dengan Malaysia dan perpanjangannya, Selat Singapura, dengan Singapura. Padahal, 80 persen impor minyak dan gas Tiongkok melewati selat yang lebih sempit ketimbang Selat Hormuz tersebut.

Inilah yang oleh Hu Jintao pada 2003, ketika itu sekjen Partai Komunis sekaligus Presiden Tiongkok, disebut sebagai “Dilema Malaka.” “Di luar besarnya kekuatan Tiongkok dan upayanya untuk menguasai akses militer dan merangkul negara mitra, Dilema Malaka tetap ada dalam skenario mereka seandainya terjadi perang,” tulis Georgetown Journal of International Affairs edisi Maret 2023.

Advertisement

Mengutip Modern Diplomacy, Tiongkok memang negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dalam sejarah dunia (dihitung dari purchasing power parity, mencapai 18 persen dari gross domestic bruto global). Negeri yang beribu kota di Beijing itu juga mitra dagang utama bagi 120 negara dan memiliki personel militer dalam jumlah terbanyak sejagat.

Keadidayaan meteorik itu utamanya dibahanbakari industrialisasi, urbanisasi, dan globalisasi masif. Semuanya itu pun pada akhirnya menuntut konsumsi energi dalam jumlah jumbo.

Terciptalah apa yang disebut sebagai “segitiga maut”: dilema terus-menerus yang melibatkan pertumbuhan cepat, tingginya tuntutan ketersediaan energi, dan bermuara pada eskalasi militerisasi serta strategisasi di Asia.

Di hari ini, tekanan itu bertumbukan dengan kompetisi kekuatan serta geopolitik—khususnya terkait Selat Malaka. “Konsumsi Tiongkok mencapai 25 persen dari keseluruhan konsumsi energi dunia. Khusus minyak, mencapai 15 persen dari keseluruhan konsumsi minyak dunia,” tulis ipdefenseforum.com.

Dan, 80 persen dari kebutuhan energi yang begitu besar itu diimpor lewat jalur Selat Malaka. Ketika kemudian si seteru klasik, AS, kini telah menjalin kerja sama pertahanan dengan Indonesia, Beijing otomatis dituntut untuk segera merespons.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Harga Minyak Naik setelah AS Blokade Pelabuhan

Harga Minyak Naik setelah AS Blokade Pelabuhan

Iran menutup Selat Hormuz. Amerika Serikat (AS) membalasnya dengan memblo­kade pelabuhan-pelabuhan negara tersebut.

Harga Minyak Kian Memanas

Harga Minyak Kian Memanas

Kenaikan harga minyak dunia yang efeknya merembet sampai ke Indonesia dipicu ketegangan di Timur Tengah.

Biaya Logistik Bertambah, Harga Barang Melonjak, Pengamat Perkirakan Kenaikan BBM Picu Efek Domino

Biaya Logistik Bertambah, Harga Barang Melonjak, Pengamat Perkirakan Kenaikan BBM Picu Efek Domino

Pengamat ekonomi menyoroti kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sejak 4 Mei 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer