Empat hari ke depan, festival akan diisi Lomba Ujicoba Cita Rasa, Pameran Kopi, Kuliner, Kerajinan, serta Talkshow.
Untuk Lomba Ujicoba, Disperindag menyediakan ratusan booth untuk peserta. “Seratus lebih barista muda akan mengikuti lomba ini,“ ujar Asben Hendri, Kepala Dinas.
Tidak tanggung-tanggung, hadiah besar juga disediakan. Selain puluhan juta untuk pemenang I, II, dan III, juga disediakan mesin kopi bagi masing-masing juara. “Juri juga disediakan yang profesional,” tambah Asben (9/12).
Ketua DPRD Sumbar, Supardi menyatakan, kopi dari Minang tidak kalah hebat. “Ada peserta yang masih memakai kopi saat ditanam zaman Belanda. Ia hanya mengubah sedikit rasa dan menang. Saya menyaksikannya di Jakarta,” ujar Supardi, sore hari (9/12) di Agamjua.
Memang, katanya, kopi ikut mengubah sejarah Minangkabau. Dari kopi, perekonomian penduduk sebelum kolonial membaik. Para Alim Ulama berkali naik haji karena perkebunan kopi hampir tumbuh di setiap sudut Sumatera Barat. “Bersama emas dan akasia, kopi tumbuh menjadi tiga serangkai yang memakmurkan Sumatera. Ini yang mengubah sejarah,” ujarnya.
Kegiatan ini sudah berlangsung sebelumnya dengan workshop Barista. Kegiatan berlangsung di Hotel Mangkuto pada 4-7 Desember. 44 barista mendalami ilmu kopi dari beberapa instruktur. “Kegiatan ini penting untuk pengetahuan para barista pemula,” ujar Yoga Pratama, seorang peserta. (*) Editor : Hendra Efison