Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UP2K Sarok Pintar Duokoto, Olah Sampah Jadi Kerajinan Bernilai Jual

Novitri Selvia • Rabu, 8 Februari 2023 | 11:24 WIB
BERNILAI: Wali Nagari Duokoto Joni Safri dan jajaran memamerkan karya kelompok Sarok.(IST)
BERNILAI: Wali Nagari Duokoto Joni Safri dan jajaran memamerkan karya kelompok Sarok.(IST)
Sekelompok masyarakat di Nagari Duokoto, Kecamatan Tanjungraya, Agam, aktif mengurangi sampah atau limbah rumah tangga yang mencemari lingkungan salingka Danau Maninjau semenjak tahun 2018 lalu. Mereka bersatu dalam kelompok Usaha
Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) Sarok Pintar Nagari Duokoto. Seperti apa kiprahnya?

Limbah anorganik menjadi salah satu penyumbang sampah yang cukup besar di Kabupaten Agam. Sehingga limbah ini membawa masalah yang cukup pelik. Namun secara perlahan ada solusi untuk penanganan masalah sampah tersebut.

Berbagai gerakan mendaur ulang sampah menjadi berbagai macam kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sehat bermunculan di kabupaten itu. Salah satunya kelompok UP2K Sarok Pintar di Nagari Duokoto.

Lewat tangan dingin orang-orang kreatif di kelompok ini menyulap limbah plastik yang biasanya dianggap tidak memiliki nilai manfaat jadi aneka kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Sampah plastik didaur ulang jadi tas, tikar, selendang hingga sepatu.

Ketua Kelompok Sarok Pintar Duokoto, Hagi mengatakan, kelompoknya sudah berkecimpung dalam pengolahan limbah sampah semenjak tahun 2018 lalu. Saat ini kelompok Sarok Pintar beranggotakan sekitar 15 orang.

“Belasan anggota kelompok ini terdiri dari masyarakat umum, pemuda dan termasuk ibu-ibu PKK nagari. Sarok Pintar merupakan inovasi kami dalam memanfaatkan sampah jadi produk yang memiliki daya jual dan menambah pendapatan keluarga,” kata Hegi kepada Padang Ekspres.

Ia menjelaskan, jenis olahan sampah anorganik yang didaur ulang pihaknya berupa sampah plastik, seperti bungkus kopi luwak, kopi kapal api dan jenis sampah plastik lainnya. Sampah ini disulap menjadi sebuah tas, cilemek, kantong sepatu, tas, tempat tisu dan karpet dan tikar.

Selain dirajut secara manual, pengolahan sampah juga dibantu oleh mesin khusus yang difasilitasi oleh pemerintah nagari setempat. Sementara, kerajinan yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan di Kabupaten Agam saja, melainkan sudah merambah pangsa pasar daerah luar provinsi, seperti Palembang dan Pekanbaru hingga Jakarta.

Masing-masing produk yang dihasilkan dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp70 ribu hingga Rp600 ribu. Keuntungan yang didapat dibagi sebagai pendapatan bagi keluarga anggota kelompok.

Wali Nagari Duokoto, Joni Safri mengatakan, Nagari Duokoto memiliki dua kelompok yang bergerak dalam bidang pengolahan sampah, baik organik maupun anorganik. Selain ada kelompok Sarok Pintar juga ada kelompok Lansani Pintar.

“Dua kelompok ini memiliki anggota yang berbeda. Kelompok Sarok Pintar kebanyakan mengolah sampah anorganik jadi kerajinan tangan, sementara Lansani Pintar lebih kepada sampah organik jadi pupuk kompos,” katanya.

Semenjak awal lahirnya kelompok tersebut lanjutnya, pihaknya selalu memberikan dukungan. Seperti membantu memfasilitasi kebutuhan bagi kelompok-kelompok itu yang kekurangan mengenai peralatan kelengkapan usaha secara bertahap.

“Seperti mesin jahit serta pelatihan-pelatihan sudah kita berikan kepada masyarakat. Alhamdulillah mereka dengan sungguh melakukannya, alhasil terbentuklah sebuah kelompok ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, sampah yang dikelola oleh kelompok Sarok Pintar dikumpulkan dari masyarakat. Ada yang dibeli, ada juga warga yang memberikan secara sukarela. Sebagian besar, sampah itu juga dipungut dari kawasan pasar.

“Sementara, kelompok Lansani Pintar yang memanfaatkan sampah organik, banyak mengolah enceng gondok yang tumbuh liar di Danau Maninjau. Sejenis tetumbuhan yang dianggap gulma,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran kelompok masyarakat itu telah membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Sampah limbah rumah tangga kata dia, dapat mempengaruhi pencemaran lingkungan seperti penurunan kualitas udara yang mempengaruhi terhadap tingkat kesehatan.

Secara tidak langsung, keberadaan kelompok Sarok Pintar maupun Lansani Pintar juga sedikit menggugah kesadaran masyarakat menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Di samping sederet manfaat baik itu, khusus inovasi pengolahan sampah yang dilakukan kelompok Sarok Pintar telah pernah mewakili Agam dalam lomba Gerakan PKK kategori Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) tingkat provinsi pada 2019 lalu. “Seingat saya, kalau tidak salah kelompok Sarok Pintar kami juara II pada lomba tersebut,” tutupnya. (***) Editor : Novitri Selvia
#Nagari Duokoto #Hagi #Lansani Pintar #UP2K Sarok Pintar Duokoto