PADEK.JAWAPOS.COM-Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya melanda ke Sumbar juga. Tepatnya di Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam.
Korban tidak hanya para siswa, tapi juga orang tua, dan guru. Berdasarkan data dari Dinas Kominfo Agam, hingga pukul 21.00 kemarin, tercatat 86 orang terindikasi keracunan massal.
Selain 57 orang murid, ada juga juga enam guru, dan dua orang tua. Sementara 21 orang lainnya tidak melapor. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam telah merespons cepat kejadiaan ini.
Yakni dengan mengeluarkan kebijakan tegas, termasuk jaminan biaya pengobatan bagi seluruh korban. Bupati Agam Benni Warlis dalam keterangannya menegaskan, sejumlah langkah penting yang harus dipatuhi.
Seluruh perizinan harus dipenuhi oleh pihak penyelenggara program makanan tambahan tersebut.
“Kita berkepentingan melindungi masyarakat kita. Usaha tanpa izin akan dihentikan,” tegas dia, terkait pentingnya kepatuhan regulasi demi keselamatan publik.
Kasus dugaan keracunan ini terindikasi bersumber dari makanan yang didistribusikan kepada peserta program MBG. Tercatat, makanan tersebut dikirimkan ke 27 sekolah berbeda di wilayah tersebut.
Total distribusi makanan yang berasal dari dapur umum Nagari Kampungtangah mencapai 2.669 porsi. Sebagai respons cepat penanganan kasus ini, Pemkab Agam telah menetapkan Puskesmas Manggopoh sebagai Posko KLB (Kejadian Luar Biasa).
Penetapan ini bertujuan untuk memusatkan koordinasi dan penanganan medis. Dalam upaya melindungi masyarakat dan memastikan semua korban mendapatkan perawatan yang layak, Pemkab Agam telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) penetapan KLB.
Konsekuensi dari penetapan ini adalah seluruh biaya pengobatan bagi masyarakat yang terindikasi keracunan akan ditanggung penuh oleh pemkab setempat.
Pemerintah daerah juga mengimbau kepada masyarakat umum, terutama mereka yang telah menerima makanan dari program tersebut dan mulai merasakan gejala-gejala keracunan, agar segera mengambil tindakan.
Mereka diminta untuk segera mendatangi rumah sakit atau puskesmas terdekat guna mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin.
Saat meninjau langsung kondisi korban di IGD RSUD Lubukbasung, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Agam Mhd Lutfhi menyampaikan, indikasi awal menunjukkan kasus bermula dari konsumsi nasi goreng yang menjadi menu MBG, dimasak di dapur MBG Nagari Kampungtangah, Lubukbasung.
“Korban berasal dari lima sekolah yang masuk wilayah operasional dapur MBG tersebut. Untuk memastikan penyebab pastinya, tim kesehatan sedang melakukan uji sampel makanan,” ujar Lutfhi, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Agam, Hendri Rusdian.
Atas kejadian ini, lanjutnya, Pemkab Agam menghentikan sementara operasional dapur MBG Kampungtangah. Penghentian aktivitas produksi ini diberlakukan sembari menanti hasil penelusuran menyeluruh yang dilakukan tim.
Selain itu, untuk biaya pengobatan pasien akan ditanggung pemerintah daerah. “Bagi pasien yang sudah terdaftar dalam BPJS, berarti sudah ditanggung biayanya. Bagi pasien yang tidak, akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah,” papar Sekkab.
Salah seorang orang tua murid, dilaporkan ikut menjadi korban setelah menyantap nasi goreng yang dibawa pulang oleh anaknya.
“Ibunya sakit setelah memakan nasi goreng MBG yang dibawa pulang anaknya, kini (kemarin) dirawat di IGD,” kata salah seorang kerabat yang enggan disebutkan namanya.
Gejala yang dialami korban umumnya berupa mual, muntah-muntah serta nyeri perut. Saat ini tim medis melakukan observasi intensif agar kondisi para pasien segera pulih.
Selain di RSUD Lubukbasung, para korban juga dirawat di Puskesmas Mangopoh dan RSIA Rizky Bunda.
Untuk memaksimalkan penanganan pasien, Pemkab Agam menyiagakan lima unit ambulans dari beberapa puskesmas terdekat, termasuk Puskesmas Tiku dan Puskesmas Lubukbasung, serta dari RSUD Lubukbasung.
Ambulans ini dipusatkan di Puskesmas Manggopoh sebagai lokasi yang banyak menangani pasien. Disiagakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk pasien yang perlu penanganan rujukan ke rumah sakit.
“Kami juga menyiapkan tim medis khusus di Puskesmas Manggopoh dan RSUD Lubukbasung agar penanganan berjalan cepat dan maksimal,” kata Kadinkes Agam Hendri Rusdian.
Hingga pukul 23.40, terangnya, dari 54 orang yang mendapat perawatan di Puskesmas Manggopoh, 43 di antaranya sudah boleh pulang.
Sementara itu dari 24 orang yang dirawat RSUD Lubukbasung, satu orang dalam observasi dan seorang lagi diperbolehkan pulang.
Kata Pakar Terpisah, pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Mohamad Reza menilai, persoalan keracunan ini erat kaitannya dengan keterbatasan penyedia MBG dalam menyiapkan makanan dalam volume besar.
“Saya berasumsi, keracunan tidak disengaja. Penyebab keracunan terjadi karena ketidakmampuan pengelola MBG dalam menyiapkan makanan dengan porsi yang banyak,” katanya.
Menurut dia, ketidaksiapan pengelola dalam memproduksi makanan dalam porsi besar sering kali menyebabkan kelalaian. Hal itu mencakup proses pencucian bahan makanan yang kurang bersih, waktu memasak yang terlalu dini, hingga potensi kontaminasi dari serangga.
“Hal-hal ini bisa saja terjadi, selain kualitas dapur MBG yang tidak higienis,” tambahnya. Mohamad Reza juga menyinggung praktik pengelolaan MBG di Jepang yang dinilainya lebih terstruktur.
“Waktu saya di Jepang, pemerintah memberikan pengelolaan makanan MBG satu sekolah hanya satu dapur. Alhasil pengelolaan tidak buru-buru, selain kualitas kontrol yang terus dilakukan pemerintah Jepang terhadap dapur MBG-nya,” jelasnya.
Di sisi lain, pakar kesehatan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Elsa Yuniarti menegaskan, solusi untuk mencegah keracunan di sekolah adalah setiap sekolah memiliki dapur sendiri dengan pengawasan ketat.
“Jika satu dapur satu sekolah, peluang keracunan semakin tipis terjadi. Selain itu, pengawasan dan kontrol yang ketat oleh dinas terkait harus selalu dilakukan setiap minggunya,” ujar Elsa Yuniarti.
Dari Kasus keracunan itu, MBG dinilai membutuhkan evaluasi menyeluruh. Para pakar menekankan pentingnya kontrol ketat dari pihak terkait serta perbaikan sistem pengelolaan makanan agar program MBG dapat berjalan aman dan sesuai tujuan awalnya. (cr2/ptr/edg/rpg)
Baca Juga: Hari Batik Nasional 2025, Masyarakat Indonesia Kompak Kenakan Batik pada 2 Oktober
Editor : Novitri Selvia