Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dipicu Bakteri, Virus, dan Bahan Kimia

Novitri Selvia • Kamis, 2 Oktober 2025 | 13:17 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADDEK.JAWAPOS.COM DALAM rapat dengan Komisi IX DPR kemarin, Badan Gizin Nasional (BGN) menjelaskan penyebab keracunan. Itu disebabkan SPPG yang tidak mematuhi SOP serta bakteri, virus, dan bahan kimia.

Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut, kejadian keracunan pada Januari hingga Juli ada 24 kasus. Lalu, Agustus sampai September 51 kejadian.

BGN membagi wilayah SPPG menjadi tiga bagian, yakni wilayah 1 yang meliputi Sumatera, wilayah 2 Jawa, dan wilayah 3 ada di kawasan timur.

“Di wilayah 1 tercatat yang mengalami gangguan pencernaan 1307 (orang). Lalu di wilayah 2 sudah lebih dari 4.147 orang karena ditambah kejadian di Garut. Wilayah 3 ada 1003 orang,” jelas Dadan.

Di setiap wilayah, kata dia, rata-rata ada temuan kasus keracunan pada awal pemberian MBG dan masih ditemukan hingga September.

“Yang dominan di wilayah 2 karena pertumbuhan SPPG dominan. Kami sudah mencatat kejadian pertama kali di 14 Januari dan terakhir 30 September,” ujarnya.

Dadan mengakui keracunan banyak terjadi dalam dua bulan terakhir. Rata-rata kejadian itu muncul karena standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan BGN tidak dipatuhi. “Contohnya pemberian bahan baku yang harusny H-2 tapi ada yang beli H-4.

Ada juga proses masak sampai delivery tidak lebih dari 6 jam, ada yang delivery 9 jam lebih,” ungkapnya.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, dinas kesehatan (dinkes) sudah turun tangan dengan protokol yang biasa dilakukan ketika ada kasus keracunan.

Menurut dia, penyelidikan epidemiologis dilakukan ketika ada laporan kasus untuk melacak penyebabnya. “Penyebabnya karena ada bakteri, beberapa karena virus dan kimia,” katanya.

Penyebab keracunan, kata Budi, harus diketahui karena berkaitan dengan treatment yang akan diberikan. Kedepan laboratorium kesehatan masyarakat di kabupaten/kota harus siap melakukan penyelidikan penyebab keracunan MBG.

Kemenkes tengah menyiapkan alat-alat untuk penyelidikan. Kemenkes juga telah membentuk tim gugus cepat untuk menangani keracunan MBG.

Tim itu bergerak melalui puskesmas wilayah binaan SPPG. Menurut Budi, tim tersebut juga akan melakukan penapisan mana keracunan yang disebabkan MBG dan non-MBG.

Data yang didapat akan dikolaborasikan dengan data dari BGN. “Kalau urusan gizi ini berhasil maka masalah kesehatan 40 persen akan beres. Mulai stunting, kelainan konginetal, hingga kematian ibu dan anak,” ucap Budi.

Siswa SMKN 1 Cihampelas Meninggal

Sementara itu, siswa SMKN 1 Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Bunga Rahmawati, meninggal diduga karena mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (30/9). Sebelum berpulang, Bunga mengeluh mual.

Dari data SMKN 1 Cihampelas, Bunga merupakan penerima MBG. Namun, saat insiden keracunan yang menimpa 121 murid pada Rabu (24/9), almarhum tidak mengalami kejadian serupa.

Kepala Puskesmas Cihampelas Edah Jubaidah mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan penyebab meninggalnya Bunga.

“Sejak kejadian (keracunan massal), anak tersebut tidak mengeluh apa-apa. Bahkan, dia sempat bersekolah pada Senin 29 September 2025,” ucapnya kemarin (1/10).

Menurut Edah, Bunga tidak pernah menjalani pemeriksaan di posko, puskesmas, maupun rumah sakit (RS) karena tidak merasakan gejala yang mengkhawatirkan.

Informasi dari pihak keluarga, Senin, Bunga sempat ke sekolah. “Nah, pulang sekolah baru mengeluh mual. Awalnya keluarga hanya mengira masuk angin, apalagi Selasa pagi sempat membaik,” katanya.

Namun, pada pukul 13.00, Bunga kembali mengeluh mual dan langsung dibawa ke bidan terdekat. “Bidan konsul ke kita, kita langsung anjurkan ke RSUD Cililin. Tiba-tiba kita dapat kabar meninggal,” ujar Edah.

Baca Juga: Haaland Cetak Brace, Manchester City Ditahan Monaco 2-2 di Liga Champions

Dari gejala yang dialami, kata Edah, almarhum mengalami gejala keracunan. Tapi, pemicu keracunanya belum dapat disimpulkan dari MBG karena waktu konsumsi dengan gejala yang dirasakan pasien ada jeda 4-5 hari.

“Kemungkinan juga sudah mengonsumsi makanan lain selain MBG,” paparnya.

Guru SMKN 1 Cihampelas Dady mengungkapkan, Bunga merupakan salah satu siswa yang ikut mengkonsumsi MBG. Namun, dia tak tercatat ssbagai pasien yang mengalami keracunan.

“Dia tak tercatat masuk posko, puskesmas, maupun RS saat kejadian keracunan,” katanya.

Dilarikan ke Puskesmas

Puluhan siswa SMKN 1 Sine dan SMP 4 Muhammadiyah Sine, Ngawi, Jawa Timur dilarikan ke puskesmas kemarin (1/10). Mereka diduga keracunan MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya.

Gejala yang dialami mulai mual, pusing, sakit perut, kejang-kejang, bahkan pingsan. “Rasanya mual dan pusing,” kata Meilani, siswi kelas XI SMKN 1 Sine.

Data sementara, jumlah korban mencapai 51 murid. Mereka dari kelas X, XI, dan XII. Mereka ditangani di Puskesmas Sine, Ngrambe, Tambakboyo Mantingan, serta Klinik Aisyiyah Sine.

Orang tua siswa, Sri Lestari semula mengira anaknya masuk angin biasa. Keesokan hari tetap masuk sekolah walau kurang sehat. Namun, setelah upacara, kondisi bertambah parah.

“Anak saya mulai tak enak badan sejak Selasa (30/9) sekitar pukul 22.00,” jelasnya.

Kepala SMKN 1 Sine Agus Setyabudi menuturkan, peristiwa itu bermula seusai pelaksanaan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman sekolah.

“Setelah selesai, beberapa siswa mulai mengeluh sakit perut dengan gejala diare,” ungkap Agus.

Pelajar yang sakit terus bertambah. Kondisi itu membuat pihak sekolah panik. Siswa akhirnya dilarikan ke Puskesmas Sine. “Ada siswa yang sampai kejang-kejang dan pingsan,” ujar Agus.

Dia menambahkan, menu MBG pada Selasa (30/9), berupa nasi, ayam bumbu lada hitam, sayur brokoli, dan kacang koro. Sekitar 1000 siswa mendapatkan makanan itu.

MBG di SMKN 1 Sine baru berjalan delapan hari. Makanan dikirim SPPG Jendela Cahaya Kebaikan di Desa Jagir, Sine.

“Untuk mengetahui penyebab pastinya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi sudah mengambil sampel makanan untuk uji laboratorium,” tutur Agus. (kro/wit/ sae/den/lyn/aph/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#keracunan #Dadan Hindayana #budi gunadi sadikin #Mbg #BGN Badan Gizi Nasional