Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Agam Siapkan 40 Ton Cadangan Pangan, 6.206 Warga Masih Mengungsi

Putra Susanto • Selasa, 9 Desember 2025 | 11:33 WIB

CADANGAN PANGAN: Pendistribusian cadangan pangan ke dapur umum sebagai jaring pengaman bagi warga terdampak bencana di Agam, beberapa hari lalu.
CADANGAN PANGAN: Pendistribusian cadangan pangan ke dapur umum sebagai jaring pengaman bagi warga terdampak bencana di Agam, beberapa hari lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM-PEMERINTAH Kabupaten Agam menyiapkan 40 ton cadangan pangan sebagai jaring pengaman bagi warga terdampak bencana sepanjang masa tanggap darurat yang berlaku hingga 22 Desember 2025.

Langkah itu dipastikan untuk menjaga ketersediaan kebutuhan dasar di puluhan dapur umum yang kini beroperasi.

Kabid Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan (KSP) Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, Ediarta, mengatakan total cadangan yang digerakkan terdiri dari 20,5 ton cadangan pangan pemerintah daerah dan tambahan 20 ton dari Pemprov Sumbar.

“Penyaluran mulai dilakukan sejak 28 November, beriringan dengan beroperasinya dapur umum,” ujarnya.

Saat ini 26 dapur umum Dinas Sosial ditambah lima dapur umum dari Kemensos melayani konsumsi bagi korban bencana maupun tenaga relawan yang bekerja di lapangan.

Ediarta menegaskan, kebutuhan pangan untuk dapur umum menjadi prioritas selama fase tanggap darurat.

“Dapur umum tidak hanya memasak untuk para pengungsi, tapi juga untuk relawan yang bertugas. Selama bantuan logistik dari berbagai pihak terus mengalir, maka cadangan pangan pemerintah akan difokuskan sebagai stok siaga dan untuk kebutuhan posko,” katanya.

Dengan bertambahnya pasokan dari provinsi, pemerintah daerah memastikan distribusi pangan ke wilayah terdampak tetap stabil hingga masa darurat selesai.

Pemerintah juga memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi melalui penyaluran cadangan pangan secara bertahap ke seluruh dapur umum di lapangan.

6.206 Warga Masih Mengungsi

Sementara itu, hingga Minggu (7/12) per pukul 20.00, tercatat 6.206 warga masih mengungsi tersebar di sejumlah titik pengungsian di lima kecamatan terdampak.

Kecamatan Tanjungraya menampung pengungsi sebanyak 3.959 jiwa, sebagian besar berasal dari Jorong Galapuang, Paninjauan, dan Nagari Sungaibatang yang porak-poranda dihantam material galodo. Menyusul Palembayan dengan 1.719 jiwa, Matur 253 jiwa, Ampekkoto 245 jiwa, dan Palupuh 30 jiwa.

Kondisi di beberapa lokasi pengungsian masih memprihatinkan. Warga mengaku kekurangan logistik, selimut, serta kebutuhan bayi dan perempuan.

Akses menuju sejumlah nagari juga belum sepenuhnya pulih, membuat distribusi bantuan harus ditempuh lewat jalur darurat. Di sisi lain, jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 181 orang, dengan 24 korban belum teridentifikasi.

Palembayan menjadi wilayah dengan korban terbanyak, yakni 134 orang, disusul Malalak 11 orang, Tanjungraya 10 orang, Matur 2 orang, Lubukbasung 1 orang, dan Palupuah 1 orang. Sementara 76 warga masih dinyatakan hilang. 

Kadis Kominfo Agam Roza Syefridianti menyebut, pencarian terus digenjot. Tim SAR gabungan didukung relawan dari berbagai daerah, instansi pemerintah Sumatra Barat, hingga personel dari Polda Riau, masih menyisir titik-titik kritis di Palembayan, Malalak, Tanjungraya, dan Lubukbasung.

“Setiap jengkal tetap diperiksa. Kami berupaya tidak menyisakan satu pun lokasi yang belum disentuh,” ujarnya.

Sementara itu, warga di pengungsian berharap cuaca segera membaik dan proses pencarian berlangsung cepat, agar mereka dapat mengetahui nasib keluarga yang belum ditemukan sekaligus menata ulang kehidupan yang tersisa.

Dirikan Empat Posko Kesehatan

Pemerintah Kabupaten Agam juga mendirikan empat posko kesehatan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi untuk memastikan layanan kesehatan bagi warga korban banjir bandang dan longsor tetap berjalan. Posko tersebut berlokasi di Kotoalam, Palembayan, Maninjau, dan Toboh Malalak.

Kepala Dinas Kesehatan Agam Hendri Rusdian mengatakan, pos-pos kesehatan itu telah beroperasi sejak beberapa hari terakhir. Setiap posko diperkuat dokter, perawat, bidan, tenaga farmasi, hingga petugas administrasi.

“Warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan bisa langsung berobat di posko. Setelah diperiksa tim medis, pasien diberikan obat sesuai penyakitnya,” ujarnya.

Menurut Hendri, ISPA, hipertensi, dan infeksi kulit menjadi penyakit yang paling banyak dikeluhkan warga pasca bencana.

Baca Juga: Pria Dievakuasi dari Atap Masjid Al Hidayah di Solok, Polisi Telusuri Motif dan Identitas

Untuk pasien dari daerah terdampak yang memerlukan rujukan, proses penerbitan surat rujukan dapat dilakukan melalui Puskesmas Lubuk Basung, menyusul sejumlah fasilitas kesehatan pratama yang tidak bisa beroperasi karena listrik padam atau terdampak banjir bandang.

“Ada beberapa fasilitas kesehatan yang terganggu operasionalnya. Karena itu, kita siapkan mekanisme rujukan alternatif agar pelayanan tetap berjalan,” katanya. (ptr)

Editor : Novitri Selvia
#pemprov sumbar #Ediarta #Nagari Sungaibatang #Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam #Palembayan Agam #cadangan pangan