Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Banjir Bandang Susulan Terjang Sungaibatang Agam, Rumah Rusak Berat dan Krisis Air Bersih Meluas

Putra Susanto • Kamis, 18 Desember 2025 | 12:03 WIB

SWADAYA: Warga Labuah, Nagari Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, Agam, bergotong royong meluruskan dan mengalihkan arus Batang Tumayo yang saat ini sangat mengancam permukiman warga, (17/12).
SWADAYA: Warga Labuah, Nagari Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, Agam, bergotong royong meluruskan dan mengalihkan arus Batang Tumayo yang saat ini sangat mengancam permukiman warga, (17/12).

PADEK.JAWAPOS.COM-SEJAK akhir November lalu, bencana alam belum kunjung berhenti menimpa sejumlah wilayah di Sumbar.

Terbaru, banjir bandang kembali menerjang Jorong Labuah, Nagari Sungaibatang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, sekitar pukul 19.00 WIB, Selasa (16/12).

Peristiwa memperparah kerusakan dua unit rumah yang sebelumnya mengalami rusak ringan, kini menjadi rusak berat.

Banjir bandang susulan terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut sejak Selasa siang hingga malam hari. Luapan Sungai Batang Kumayo kembali membawa material banjir yang sebelumnya menumpuk di wilayah itu.

Material banjir berupa lumpur, batu, dan kayu yang sebelumnya mengendap dengan ketebalan mencapai setinggi rumah, kini terseret arus deras.

Akibatnya, bangunan rumah dan fasilitas umum di Jorong Labuah berada pada posisi lebih rendah dan langsung diterjang material banjir.

Selain merusak rumah warga, material banjir juga menerjang SDN 14 Labuah, menyebabkan lingkungan sekolah dipenuhi lumpur dan material batuan.

“Material yang dulu menumpuk itu yang hanyut sekarang. Karena materialnya tinggi, kampung ini jadi seperti cekungan. Air dan lumpur langsung masuk ke rumah dan sekolah,” kata Rudi Yudistira, warga Sungaibatang, kemarin (17/12).

Ia menuturkan, hingga kemarin kondisi masih mencekam. Setiap hujan turun, meski dengan durasi singkat, debit air sungai langsung naik dan mengancam permukiman.

“Kalau tidak segera dievakuasi materialnya dan sungai dinormalisasi, hujan sebentar saja kampung ini bisa habis,” ujarnya.

Saat ini, proses penanganan di lokasi baru melibatkan dua unit alat berat yang bekerja di bagian hilir sungai. Namun jumlah tersebut dinilai masih jauh dari cukup untuk mempercepat normalisasi aliran sungai.

Menurut Rudi, sedikitnya butuh lima alat berat dioperasikan secara bersamaan agar proses normalisasi berjalan cepat. Ini mengingat intensitas hujan di wilayah tersebut masih tergolong tinggi.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera menambah alat berat serta mempercepat normalisasi sungai, guna mencegah terjadinya banjir bandang susulan yang lebih besar.

Dua Jorong masih Gelap

Sementara itu, pemulihan infrastruktur di Kabupaten Agam terus berjalan. Namun hingga Rabu (17/12), dua jorong masih mengalami pemadaman listrik.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Agam, Roza Syafdefianti, menyebut pemadaman masih terjadi di Jorong Lambeh, Kecamatan Palembayan, serta Jorong Tobohateh, Malalak Timur.

Perbaikan jaringan listrik masih dilakukan pihak terkait. ”Perbaikan masih berlangsung di dua titik tersebut,” ujar Roza.

Di sisi lain, kondisi jaringan komunikasi mulai pulih. Dari 42 menara telekomunikasi yang sempat terdampak, seluruhnya kini telah kembali aktif dan melayani masyarakat di 10 kecamatan.

Wilayah terdampak terbanyak berada di Palembayan dengan tujuh menara, disusul Palupuh dan Tanjungraya masing-masing enam menara.

Pemulihan juga mencakup Tanjungmutiara, Ampekkoto, Lubukbasung, Ampeknagari, Malalak, Matur, hingga Tilatangkamang.

Untuk memperkuat layanan di daerah terdampak, Pemkab Agam juga memasang internet satelit Starlink. Palembayan menjadi lokasi pemasangan terbanyak dengan lima unit, disusul Malalak dan Tanjungraya masing-masing empat unit.

“Starlink dipasang di titik strategis, terutama untuk pelayanan publik dan daerah yang sebelumnya sulit sinyal,” kata Roza.
Lima Kecamatan

Krisis Air Bersih

Sementara itu, lima kecamatan di Kabupaten Agam masih mengalami krisis air bersih pascabencana. Banjir bandang, banjir, dan tanah longsor menyebabkan jaringan dan sarana air bersih, termasuk program Pamsimas, rusak parah dan putus total.

Akibatnya, distribusi air bersih di sejumlah wilayah lumpuh. Lima kecamatan yang terdampak paling parah dan kini sangat membutuhkan pasokan air bersih yakni Kecamatan Tanjungraya, Palembayan, Malalak, Matur, dan Ampekkoto.

Di berbagai nagari, warga terpaksa mengandalkan air hujan untuk kebutuhan harian, termasuk di posko-posko pengungsian, karena sumber air dan jaringan distribusi tidak berfungsi.

Air sungai yang selama ini dimanfaatkan masyarakat juga tidak dapat digunakan. Debit air meningkat dan aliran menjadi berbahaya, sementara kualitas air keruh bercampur lumpur sehingga tidak layak konsumsi.

“Di lima kecamatan, sumber air bersih yang selama ini mengandalkan Pamsimas hancur dan rusak berat, sehingga kebutuhan air bersih menjadi sangat mendesak,” ujar Roza.

Untuk kebutuhan air minum, warga saat ini mengandalkan bantuan air mineral dari berbagai pihak. Sementara untuk kebutuhan lainnya, masyarakat menampung air hujan atau terpaksa menggunakan air sungai yang masih keruh.

Dalam upaya penanganan di lapangan, posko utama bersama posko kecamatan dan nagari telah menyalurkan bantuan secara bertahap.

Sejumlah pihak menurunkan mobil tangki air bersih serta menyediakan tandon penampung air yang kini dimanfaatkan warga terdampak bencana. (ptr)

Editor : Novitri Selvia
#Dinas Komunikasi dan Informatika Agam #Tanjungraya Agam #Nagari Sungaibatang #starlink #pemkab agam #Roza Syafdefianti