Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tim Unand Turun ke Matur dan Maninjau, Ratusan Warga Terlayani

Rommy Delfiano • Kamis, 8 Januari 2026 | 13:54 WIB

Tim Tanggap Bencana Universitas Andalas (Unand) bergerak cepat merespons dampak bencana di Kabupaten Agam.
Tim Tanggap Bencana Universitas Andalas (Unand) bergerak cepat merespons dampak bencana di Kabupaten Agam.
PADEK.JAWAPOS.COM—Tim Tanggap Bencana Universitas Andalas (Unand) bergerak cepat merespons dampak bencana di Kabupaten Agam. Sejak 24 hingga 27 Desember 2025, tim lintas disiplin ini turun langsung ke wilayah terdampak di Kecamatan Matur dan Maninjau, memberikan layanan kesehatan, pendampingan psikologis, hingga menyalurkan bantuan kebutuhan dasar warga.

Tim diketuai dr Wahyudi SpPD KKV ini diberangkatkan dari Fakultas Kedokteran Unand pada Selasa (24/12). Sebanyak 16 personel terlibat, terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, tenaga farmasi, gizi, kesehatan masyarakat, serta psikolog.

Tim dibagi ke dua lokasi utama, yakni Maninjau dan Matur. Untuk wilayah Matur sendiri, sembilan tenaga kesehatan ditempatkan dan langsung membuka posko layanan.

Setibanya di lokasi, tim fokus menyiapkan logistik dan obat-obatan guna mendukung pelayanan kesehatan spesialistik. Wilayah sasaran di Kecamatan Matur meliputi Jorong Pauh di Nagari Panta Pauh, serta Jorong Padanggalanggang, Nagari Matuamudiak.

Pelayanan kesehatan pertama digelar pada 25 Desember 2025 di SDN 13 Padanggalanggang, Jorong Padanggalanggang. Sebanyak 97 warga mengikuti pemeriksaan, didominasi perempuan (65 orang) dan laki-laki (32 orang). Dari sisi usia, mayoritas pasien adalah kelompok dewasa, disusul lansia, anak-anak, balita, dan satu bayi.

Tim medis yang turun terdiri dari dokter spesialis jiwa, dokter spesialis anak, dokter umum, perawat, dan tenaga farmasi. Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi dan gangguan kecemasan, kondisi yang umum muncul pascabencana. Obat yang paling sering diberikan antara lain paracetamol, dexamethasone, dan vitamin B.

Selain pemeriksaan medis, tim juga menggelar kegiatan trauma healing. Anak-anak mengikuti pemulihan psikologis melalui aktivitas bermain, sementara orang dewasa mendapatkan asesmen dan konsultasi langsung dengan psikolog, terutama bagi mereka yang menunjukkan gejala kecemasan. Di akhir kegiatan, anak-anak menerima bingkisan berisi tas, susu, biskuit, dan alat tulis.

Edukasi kesehatan turut diberikan, mulai dari pencegahan ISPA hingga etika batuk, yang disampaikan kepada warga di Suraucubadak. Tim juga menyerahkan bantuan kebutuhan rumah tangga seperti sprei, selimut, karpet, sarung, mukena, sajadah, sandal, dan perlengkapan harian lainnya.

102 Pasien di Jorong Pauh, Fokus ISPA dan Trauma Healing

Kegiatan berlanjut pada 26 Desember 2025 di Jorong Pauh, tepatnya di Surau Cubadak. Pelayanan kesehatan langsung dibuka begitu warga mulai mengantre. Sebanyak 102 pasien tercatat mengikuti pemeriksaan, terdiri dari 62 perempuan dan 40 laki-laki. Tim menyiapkan hingga 268 jenis obat untuk menunjang pelayanan.

Keluhan yang paling banyak ditemukan kali ini adalah batuk dan nyeri kepala. Selain skrining kesehatan, tim menggelar edukasi ISPA dan praktik cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang diikuti puluhan anak.

Trauma healing kembali menjadi perhatian utama. Sebanyak 51 anak mengikuti kegiatan pemulihan psikologis yang digelar di lantai dua Surau Cubadak. Sementara untuk orang dewasa, asesmen dan konsultasi diberikan bagi warga dengan keluhan cemas.

Tim psikolog bersama dokter spesialis jiwa bahkan melakukan kunjungan rumah (home visit) kepada seorang anak penyintas banjir bandang yang kehilangan kedua orang tuanya, untuk memberikan pendampingan khusus. Di akhir kegiatan, bantuan kebutuhan rumah tangga kembali disalurkan kepada warga.

Pada 27 Desember 2025, tim menyerahkan bantuan ke sebuah pesantren di Jorong Panta, yang sebelumnya telah mendapatkan layanan kesehatan. Bantuan mencakup paket makanan seperti susu, madu, dan biskuit, perlengkapan sekolah, serta kebutuhan ibadah dan rumah tangga. Bantuan diserahkan langsung kepada pengelola pesantren yang berlokasi di belakang Kantor Wali Nagari.

Dari hasil pelayanan di berbagai posko, tim mencatat bahwa mayoritas pasien adalah lansia dengan penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Kondisi ini kerap disertai keluhan muskuloskeletal seperti nyeri punggung bawah dan osteoartritis.

Beberapa warga ditemukan memiliki tekanan darah dan kadar gula darah yang cukup tinggi. Sementara penyakit saluran cerna dan kulit ditemukan dalam jumlah lebih kecil.

Kehadiran Tim Tanggap Bencana Unand menjadi angin segar bagi warga terdampak, tidak hanya dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga pemulihan mental pascabencana. (rdo)

Editor : Adetio Purtama
#terlayani #Matur #unand #maninjau