Kegiatan bertema “Basamo Mambangun Kampuang, Maikek Tali Persaudaraan” tersebut dibuka oleh Asisten III Setda Agam, Syatria, yang sekaligus membuka Lomba Marandang “8 Jorong 8 Kuali” melalui pemukulan beduk.
Selain membuka lomba, Syatria juga melantik pengurus Ikatan Keluarga Matua Hilia (IKAMAHI) melalui prosesi serah terima bendera sebagai simbol penguatan organisasi perantau.
Ketua panitia Abdul Arif mengatakan kegiatan ini bertujuan mempererat tali silaturahmi antara masyarakat ranah dan perantau yang pulang kampung.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan serta melestarikan tradisi marandang kepada generasi muda dan masyarakat perantau.
Delapan Jorong Ikuti Lomba Marandang
Abdul Arif menjelaskan bahwa Lomba Marandang “8 Jorong 8 Kuali” diikuti oleh delapan jorong di wilayah tersebut.
Delapan jorong yang berpartisipasi yakni Jorong Matur Katik, Aia Sumpu, Batu Baselo, Aia Taganang, Pasar Matur, Banda Gadang, Labuang Lurah Taganang, dan Batu Siriah.
Keterlibatan seluruh jorong tersebut menunjukkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga tradisi kuliner khas Minangkabau.
Sarana Edukasi Budaya
Asisten III Setda Agam, Syatria, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kebersamaan antara masyarakat ranah dan rantau, tetapi juga memiliki nilai edukasi budaya bagi generasi muda.
Ia menyoroti peran bundo kanduang dalam mewariskan pengetahuan tentang cara memasak rendang kepada generasi muda, termasuk kepada perantau yang pulang ke kampung halaman.
“Ini merupakan kegiatan yang istimewa, di mana para bundo kanduang mengajarkan resep dan tata cara membuat rendang kepada para perantau yang pulang ke kampung halaman,” ujarnya.
Menurut Syatria, kegiatan tersebut memungkinkan tradisi marandang tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi penerus, baik yang tinggal di kampung maupun di perantauan.
Dorong Potensi Ekonomi Daerah
Selain aspek budaya, kegiatan ini juga dinilai memiliki potensi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Kehadiran para perantau dari berbagai daerah dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di Kecamatan Matur dan Matua Hilia.
Syatria menyebut dukungan lokasi kegiatan yang memadai serta tingginya partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam pengembangan kegiatan tersebut di masa mendatang.
Ia berharap kegiatan marandang tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Perkuat Hubungan Ranah dan Rantau
Pemuka masyarakat, Datuak Sungu di Rajo, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Lomba Marandang “8 Jorong 8 Kuali”.
Menurutnya, tradisi marandang tidak hanya berkaitan dengan kegiatan memasak, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan dan semangat gotong royong dalam masyarakat Minangkabau.
Ia menilai peran bundo kanduang sangat penting dalam mentransfer nilai adat kepada generasi muda, termasuk anak kemenakan yang berada di perantauan.
Datuak Sungu di Rajo berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjadi agenda rutin yang memperkuat hubungan antara masyarakat ranah dan rantau. Dengan demikian, potensi budaya serta ekonomi daerah dapat berkembang secara berkelanjutan.(*)
Editor : Hendra Efison