Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumbar Darmayanti kepada Padang Ekspres, Selasa (30/8) lalu. ”Info tersebut kita dapatkan dari peternak.
Bagaimanapun dalam hukum pasar apabila kebutuhan banyak sedangkan suplai sedikit tentunya harga akan ikut naik. Apalagi kita juga menyuplai telur untuk beberapa daerah di luar Sumbar seperti Riau dan sebagainya,” ucapnya.
Darmayanti mengatakan, salah satu faktor yang mempengaruhi stok telur yang sedikit di tingkat petani adalah banyaknya ayam yang sudah afkir atau sudah pada masa yang tidak produktif. Sehingga jumlah telur di tingkat peternak lebih sedikit.
”Idealnya ayam yang siap untuk bertelur di rentang umur maksimal 1,5-2 tahun. Jika lewat dari itu ayam akan mulai banyak makan dan tidak produktif sehingga harus segera diganti agar dapat memenuhi target di pasaran,” ucapnya.
Ayam DOC atau anakan ayam yang diperuntukan untuk ayam pedaging dan petelur, sambungnya, juga cukup sulit didapatkan dari perusahaan. Ia mengatakan akibat banyak permintaan saat ini perusahaan hanya sanggup menyuplai perternakan dengan ayam DOC 4 bulan sekali yang dulunya bisa 2 bulan sekali kirim.
”Hal ini juga dipicu akibat keadaan yang mulai pulih pasca pandemi Covid-19. Seluruh lini kehidupan kita mulai bergerak dan tentunya selama pandemi Covid-19 ayam yang lesu tiba-tiba kebanjiran permintaan. Sehingga hal tersebut membuat perusahaan juga ikut kewalahan memenuhi permintaan pasar. Sehingga untuk pengiriman juga dibatasi. Hal tersebut juga memicu penurunan produksi telur hingga 30-40 persen,” paparnya.
Darmayanti mengatakan dinas tentunya berusaha untuk membantu menekan harga telur yang tinggi. Salah satunya dengan meminta para pemilik perternakan besar untuk menekan harga melalui pakan subsidi jagung. Namun diakuinya, hal tersebut kurang efektif akibat permintaan yang masih serba tinggi di pasaran.
”Bagaimanapun dinas akan terus berupaya agar dapat membuat harga telur menurun. Sehingga tidak terlalu membebani masyarakat yang bergantung kepada telur,” ucapnya.
Pengusaha peternakan ayam petelur sekaligus distributor telur di Kecamatan Lintaubuo Asrul Amir mengakui, jika sejak tiga pekan terakhir harga telur meroket. Hal itu menurutnya, disebabkan tingginya permintaan pasar dari luar daerah.
Menurut informasi yang diperolehnya, sejak adanya kebijakan soal pencairan Program Keluarga Harapan (PKH) berbentuk kebutuhan pokok termasuk telur, sejak itu pula permintaan akan telur mulai naik.
”Selain itu, harga pakan makanan ayam seperti jagung juga naik hingga. Puncaknya pekan lalu yang mencapai Rp 1.700 perbutir atau Rp 51.000 perpapan, itu harga dari kandang atau yang dijemput kekandang. Tentu harga di pasaran atau pengecer bisa lebih dari itu,” jelasnya.
Lelaki yang akrab disapa Haji Rul itu menyampaikan, permintaan memang tergolong tinggi hingga saat ini. Dirinya yang mengisi pasaran hingga luar provinsi seperti Jambi, dan Bengkulu itu mengakui kewalahan memenuhi permintaan pasar.
Menurutnya bagi para pengusaha, harga telur saat ini lebih bernilai dari tahun-tahun sebelumnya apalagi saat pandemi. ”Dahulu harga pakan mahal, harga telur murah. Banyak pengusaha pemula atau yang baru berdiri gulung tikar. Saat ini harga pakan mahal, harga telur mahal dan ini bagi kami lebih stabil dari pada tahun lalu,” ujarnya.
Deni Prianto, peternak dan distributor telur ayam buras asal Lubukbasung, Agam, juga turut membeberkan sejumlah penyebab kenaikan harga telur di Sumbar, khususnya di Agam saat ini. Pemicunya tak terlepas dari kenaikan harga di Pulau Jawa.
Penyebab pertama, katanya, dikarenakan permintaan meningkat. Baik itu permintaan dari pedagang di pasar lokal hingga pedagang di luar daerah. Sementara, Sumbar hanya punya satu daerah sentra produksi telur yakni Kota Payakumbuh.
”Jika harga telur di Pulau Jawa sedang tinggi, otomatis produsen telur di Payakumbuh juga ikut mendrop telur ke sana. Ini berpengaruh kepada stok telur di pasar lokal yang jadi berkurang, sementara permintaan oleh pedagang lokal tetap tinggi,” katanya.
Di tingkat peternak sambungnya, harga telur yang ia jual saat ini mencapai Rp 50 ribu per papan untuk kualitas super dan Rp 48 ribu untuk kualitas sedang. Harga ini berpatokan dengan harga di Kota Payakumbuh. Sedangkan harga normalnya hanya di kisaran Rp 40-45 ribu per papan.
”Berapa harga telur untuk konsumsi tidak kami ketahui yang jelas di tingkat produsen mencapai Rp 50 ribu per papan. Patokan harga kami sesuai dengan harga Payakumbuh yang merupakan sentra produksi telur di Sumbar,” katanya.
Ia mengakui, kenaikan harga telur saat ini menjadi berkah tersendiri baginya sebagai peternak. Dengan kondisi harga naik saat ini membuatnya lebih untung. Deni memiliki 1.000 ekor ayam petelur dan memproduksi telur sebanyak 30 papan per hari.
Sementara biaya produksi yang ia habiskan per hari mencapai Rp 800 ribu. ”30 papan per hari jika dikalkulasi Rp 50 ribu per papan hasil yang diraup mencapai Rp 1,5 juta. Jadi untung hampir dua kali lipat,” jelasnya.
Faktor lainnya, adalah dampak dari murahnya harga telur ayam sejak tiga bulan terakhir. Sebab harga telur ayam hanya dibeli pedagang ke kandang dengan kisaran Rp 1.000 per butir. Tentu saja ini membuat peternak ayam petelur tidak diuntungkan.
Bahkan alami kerugian hingga tak sanggup menutup biaya operasional. Ditambah lagi dengan gelombang kenaikan harga pakan ayam yang sangat signifikan.
”Saat telur ayam Rp 1.000 per butir, harga pakan naik terus dari Rp 300 ribu per karung hingga sekarang di atas angka Rp 500 ribu, ditambah lagi harga dedak dan jagung yang ikut naik. Harga jagung sebagai campuran konsentrat mencapai harga Rp 6 ribu per kilogram nya, bagaimana peternak dan pengusaha peternakan ayam tidak akan menjerit,” ucap Yondri, salah seorang peternak ayam ras petelur di Limapuluh Kota, Kamis pagi.
Pemilik usaha peternakan ayam di Kecamatan Luak, Limapuluh Kota ini mengaku terjadi penyusutan populasi ayamnya hingga diatas angka 50 persen, bahkan mendekati angka pengurangan yang cukup besar. Kondisi itu disebabkan tidak seimbangnya biaya operasional dengan harga produksi.
”Terpaksa kita melakukan pengurangan jumlah ayam, sebab jika terus dipertahankan akan berakibat lebih buruk dengan kebutuhan harga pakan tinggi. Sementara harga produksi telur ayam murah. Pilihannya, ya mengurangi populasi ayam untuk sementara waktu,” terang peternak yang biasa disapa Pak Haji Yon ini.
Tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan, Yoni Datuak Gindo Kayo, salah seorang karyawan peternakan ayam di Kabupaten Limapuluh Kota. Menurutnya, saat ini harga pakan masih tinggi, hanya saja harga telur sudah lebih baik. Sehingga peternak bisa lebih bertahan dan perlahan bisa kembali menambah populasi ayam petelur.
”Informasi dari pemilik peternakan ayam petelur lainnya di Limapuluh Kota, hampir sama. Kondisi harga pakan yang tinggi dengan harga murah menyebabkan langkah pengurangan populasi harus diambil, jika tidak ingin alami kerugian lebih besar,”ucap Yoni.
Ditambahkan Yoni, hampir setiap usaha peternakan ayam dengan jumlah populasi puluhan ribu keatas mengurangi populasi rata-rata hingga 30 persen, bahkan ada yang lebih tinggi.
”Sepertinya dengan populasi ayam berkurang sejak tiga bulan terakhir, tentunya produksi juga ikut menurun. Jika permintaan pasar tetap tinggi, sementara telur tidak mencukupi, ya sudah pasti harga akan menjadi tinggi,” tambah Yoni. Datuak Gindo Kayo.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Limapuluh Kota Devi Kusmira mengatakan, di Limapuluh Kota yang terjadi di tahun 2021 sampai dengan awal tahun 2022 ini adalah harga pakan konsentrat per periodik naik, jagung naik, dedak tidak stabil terkadang langka.
Sementara harga telur dibawah biaya produksi membuat peternak ayam ras petelur tidak memperbaharui ayam afkir dengan ayam baru 1 sampai 2 periode.
”Kenaikan harga saat ini bisa disebabkan beberapa faktor. Pertama berkurangnya populasi ayam petelur. Sementara permintaan telur meningkat karena memenuhi kebutuhan untuk bantuan sosial (bansos). Kemudian juga akibat perbedaan harga tingkat produksi dan di tingkat pasar yang terlalu jauh berbeda. Biaya produksi yang tinggi karena variabel biaya bibit, pakan dan sapronak (sarana produksi peternakan) yang naik,” terang Kadisnak Keswan, Devi Kusmira. (cr1/stg/ptr/fdl) Editor : Novitri Selvia