Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sumbar dalam Kepungan Musibah Longsor dan Galodo: Alam ”Murka”, Tanggung Jawab Siapa?

Novitri Selvia • Senin, 13 Mei 2024 | 15:02 WIB

MAKAN KORBAN JIWA: Sejumlah rumah di Nagari Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam diterjang galodo, sekitar pukul 23.00 WIB, Sabtu (11/5) .(SY RIDWAN/PADEK)
MAKAN KORBAN JIWA: Sejumlah rumah di Nagari Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam diterjang galodo, sekitar pukul 23.00 WIB, Sabtu (11/5) .(SY RIDWAN/PADEK)
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

PENGGALAN lirik lagu Berita Kepada Kawan karya Ebiet G Ade tersebut kerap mengiringi berita-berita bencana yang terjadi di negeri ini. Sebuah ajakan untuk merenung dan melakukan koreksi terhadap apa yang terjadi.

Tak terkecuali untuk bencana alam yang berulang kali terjadi di Sumbar. Terbaru, mengepung sejumlah kabupaten dan kota sejak Sabtu (11/5) lalu hingga kemarin. Kali ini Kabupaten Agam menjadi daerah terparah dilanda serangakaian banjir bandang dan longsor. Berbagai bencana itu dipicu cuaca ekstrim berupa hujan deras yang mengguyur daerah tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Ichwan Pratama Danda menyampaiakan, berdasarkan pendataan sementara hingga pukul 20.30 kemarin, dampak banjir bandang menelan korban jiwa 19 orang dan dua korban masih dinyatakan hilang.

Identitas dua korban yang masih dalam pencarian yakni Halimah Tusyadiah, 30, perempuan; dan Nanda, 35, laki-laki. Keduanya merupakan warga Simpangbukik, Nagari Bukikbatabuah. Selain itu, bencana yang terjadi juga menyebabkan 16 korban luka dan 204 warga mengungsi.

Korban terbanyak di Agam berasal dari Nagari Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang. Di sini terdapat 10 korban. Selain menelan belasan korban jiwa, banjir lahar dingin Gunung Marapi yang melanda lima wilayah kecamatan di Agam juga berdampak pada ratusan rumah, kerusakan infrastruktur publik dan puluhan hektar lahan pertanian. 

Data sementara yang dilaporkan BPBD Agam tercatat sebanyak 193 unit rumah dan 72 hektar lahan pertanian rusak akibat bencana. Data yang dihimpun baru menyasar empat wilayah kecamatan.
Dari ratusan rumah yang terdampak, baru 23 unit yang diklasifikasikan rusak berat dan 15 unit kategori rusak ringan.

Sementara, puluhan hektar lahan pertanian yang terdata rusak. Sebarannya, dua hektar di Kecamatan Ampekangkek, 50 hektar di Kecamatan Canduang dan 20 hektar di Kecamatan Sungaipua. “Pendataan masih berlanjut melibatkan instansi terkait, pemerintah kecamatan dan nagari. Termasuk estimasi kerugian yang ditimbulkan juga masih dalam perhitungan,” kata Ichwan Pratama Danda.

Sementara itu, galodo juga mengahantam enam Kecamatan di Kabupaten Tanahdatar. Hingga Minggu sore (12/5), tim gabungan telah mengevakuasi 36 korban. Sebagian di antaranya telah rawat jalan atau dipulangkan. 

Selain itu, enam orang menjalani rawat inap, dan tujuh orang ditemukan meninggal dunia, satu lainnya menjalani observasi di IGD RSUD Al Hanafiah Batusangkar. Pada proses evakuasi juga ditemukan anggota tubuh berupa korban di beberapa titik. Seperti di kawasan Kecamatan Limakaum, Rambatan, dan Tanjungemas. 

Kemudian tim lainnya juga berhasil menemukan tiga orang korban meninggal dunia di Nagari Pandaisikek, Kecamatan X Koto. ”Sejauh Ini, peristiwa tersebut adalah kejadian dengan jumlah korban jiwa terbesar sejak Desember lalu,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tanahdatar Ermon Revlin, kemarin. 

Galodo juga menerjang beberapa nagari di sepanjang aliran Batang Lona yang berhulu di Gunung Api Marapi, melalui Kecamatan Limakaum, Rambatan hingga bermuara di Batang Selo di Kecamatan Tanjungemas.  Aliran sungai lain juga menghantam beberapa daerah seperti di Kecamatan X Koto dan Sungaitarab, Batipuh, Pariangan.

Galodo yang didominasi material kayu-kayu besar itu juga merusak rumah warga, hingga jalanan dipenuhi lumpur. Fasilitas umum lainnya seperti irigasi dan kapalo banda juga rusak. Lahan pertanian pun terancam gagal panen. 

Ratusan Warga Mengungsi

Peristiwa nahas ini menyebabkan trauma bagi para warga terdampak. Hingga Minggu malam ratusan warga terdata mengungsi.  Di Nagari Parambahan, puluhan warga mengungsi ke Masjid Ubudiyah. Selain karena kehilangan tempat tinggal karena rusak, warga lainnya juga masih trauma dan kondisi kampung gelap gulita

Berdasarkan data dari BPBD Tanahdatar, setidaknya ratusan orang terdata mengungsi, seperti di Kecamatan Rambatan tercatat 180 orang mengungsi ke kantor wali nagari setempat. 

“Sebelumya ada yang ke rumah sanak saudara yang lokasinya dirasa aman. Ada juga yang di mushalla dan masjid. Sedangkan 70 orang lainnya setelah kejadian ada yang mengungsi ke pondok sawah,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tanahdatar Zul Doni Putra. 

Sementara itu di Kecamatan Batipuh tercatat setidaknya 75 orang mengungsi di Mushollah Darussalam di Jorong Kubu Karikia. “Kita telah melalukan upaya sejak kejadian seperti evakuasi dan penyelamatan, pembukaan akses, pendataan, dan pemenuhan kebutuhan warga terdampak serta pengungsi.

Padangpanjang-Bukittinggi Putus Total

Derasnya debit air aliran sungai Batang Anai, juga menimbulkan kerusakan parah di jalan lintas utama Padangpanjang-Padang tersebut hingga putus total sekira pukul 22.00 WIB pada Sabtu (11/5)

Pantauan Padang Ekspres di sepanjang bantaran sungai di kawasan Lembah Anai tersebut, sedikitnya terdapat lima titik badan jalan amblas tergerus air sungai. Terparah di tanjakan melambung Bukit Tambuntulang (sebelum Mega Mendung) dari arah Padangpanjang, sama sekali tidak dapat dilalui karena putus total.

Demikian juga kondisi di sepanjang objek pemandian Mega Mendung, tampak mengalami kerusakan parah di semua titik. Selain sejumlah truk terseret hingga terdampar di tengah sungai, salah satu cafe dan resto bernama Xakapa yang berdiri tidak jauh dari Air Terjun Lembah Anai, lenyap tidak berbekas dihanyutkan.

Kapolres Padangpanjang, AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro yang juga terjebak dalam kondisi jalan putus total tersebut saat hendak kembali ke Padangpanjang dari Kota Padang, membenarkan kondisi di kawasan Lembah Anai mengalami kerusakan parah tergerus derasnya aliran sungai.

Kartyana mengaku sekira pukul 00.00 WIB sampai di Lembah Anai, titik terparah dimaksud sudah dalam keadaan putus total. Kartyana menyampaikan, derasnya arus sungai tersebut selain menyeret sejumlah kendaraan, telah mengakibatkan sejumlah orang menjadi korban hanyut.

Namun saat diwawancarai ketika itu, Kartyana mengaku pihaknya masih menghimpun data untuk memastikan identitas dan jumlah korban yang ditimbulkan.

Karena Alam dan Lingkungan

Pengamat lingkungan hidup dari Universitas Negeri Padang (UNP) Indang Dewata menggolongkan musibah ini sebagai gabungan antara bencana alam dan lingkungan. Karena Marapi masih aktif, gunung tersebut terus menerus menyemburkan abu vulkanik yang berpotensi membuat kolam-kolam air.

“Dengan adanya kolam tersebut ketika hujan menjadi kolam penampungan air. Pada saat hujan lebat berubah menjadi banjir lahar dingin dan tentunya menuju ke daerah rendah aliran sungai,” sebutnya.

Sedangkan dari segi bencana lingkungan sendiri, daerah yang saat ini banyak bangunan di tepian sungai seperti di Lembah Anai adalah daerah resapan air dan tidak boleh ditempati karena kawasan resapan air sekaligus cagar alam. “Sehingga fenomena kali ini mengabungkan bencana alam dan bencana lingkungan,” ungkapnya.

Indang mengatakan saat ini yang menjadi persoalan harus ada pihak yang bertanggung jawab terkait pemberian izin membangun bangunan di kawasan tepian sungai di Lembah Anai tersebut. “Jika ada izin dari pemerintah tentunya pemerintah harus bertanggung jawab. Namun apabila tidak memiliki izin dari pemerintah maka siapa yang berbuat salah ialah yang harus bertanggung jawab,” ucapnya.

Penegak hokum, tekan dia, harus melihat fenomena ini tidak hanya persoalan bencana alam atau lingkungan semata.”Bencana lingkungan itu seperti siklus. Jika terjadi pembiaran yang paling fatal adalah terjadinya pelebaran sungai yang mengakibatkan pengikisan. Sedangkan kedalaman sungai menjadi semakin dangkal. Apabila debit air besar kondisi tersebut dapat memakan korban,”pungkasnya. (ptr/stg/wrd/y/r/ris)

Editor : Novitri Selvia
#Sumbar Dikepung Bencana #BPBD Agam #Ichwan Pratama Danda #longsor #Polres Padangpanjang #Galodo #BPBD Tanahdatar #Gunung Api Marapi #Nagari Bukik Batabuah