Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Makanan terus Datang, Air Bersih Tersendat: Pascagalodo di Kabupaten Agam

Novitri Selvia • Rabu, 15 Mei 2024 | 12:41 WIB

SEADANYA: Sejumlah korban galado mengungsi di SD 08 Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Selasa (14/5).(RIAN AFDOLL/PADEK)
SEADANYA: Sejumlah korban galado mengungsi di SD 08 Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Selasa (14/5).(RIAN AFDOLL/PADEK)
BASARNAS Kota Padang mencatat, korban meninggal dunia akibat galodo di Kabupaten Agam, Tanahdatar, Kota Padangpanjang dan Padang telah mencapai 52 orang. Sebanyak 49 orang diantaranya sudah berhasil teridentifikasi. Sedangkan tiga orang masih dalam proses identifikasi.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Basarnas Padang Abdul Malik. “Ini data yang di-update pukul 15.00 WIB (kemarin, red). Tiga korban meninggal dunia yang belum teridentifikasi saat ini, dua berada di RS Batusangkar dan satu di RSUD Hanafiah,” katanya.

Sementara itu sebanyak 20 orang masih dalam pencarian atau masih proses pendataan BPBD. “Sampai saat ini tim SAR gabungan masih melakukan proses pencarian terhadap korban yang masih dilaporkan hilang oleh pihak keluarganya,” sebut dia.

Terpisah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam masih terus menghimpun data kerusakan dan korban terdampak banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah kecamatan di daerah itu.

Sejauh ini, sudah terdata 387 jiwa terdampak bencana tersebut. Menelan 21 korban jiwa, puluhan korban luka dan dua korban masih dalam pencarian, sementara ratusan korban lainnya terpaksa mengungsi ke tempat lebih aman.

Berdasarkan update data BPBD Agam pukul 12.55 kemarin (14/5), ratusan korban terdampak bencana banjir bandang lahar dingin Gunung Marapi itu tersebar di empat kecamatan. Yakni Ampekkoto, Canduang, Sungaipua, dan Kecamatan Ampekangkek.

“BPBD Agam terus berkoordinasi dengan instansi terkait guna pendataan dan upaya lebih lanjut. Termasuk melakukan proses pencarian warga yang belum ditemukan dan pembersihan wilayah yang terdampak bencana,” kata Kalaksa BPBD Agam Budi Perwira Negara.

Sementara itu di posko pengungsian, korban dan warga terdampak beristirahat di ruang kelas. Pengungsi mengisi enam kelas dan tidur dengan matras dan selimut seadanya. Suplai dan bantuan makanan pun terus berdatangan.

Berupa nasi dan, beras, telur dan berbagai bahan sembako lainnya. Selain itu juga tampak bantuan berupa alas tidur, bantal dan selimut terus berdatangan. Bantuan ini datang dari berbagai pihak. Mulai dari sektor pemerintahan, masyarakat, koorporasi, dan BUMN.

“Untuk makanan tercukupi. Tidak ada kendala ataupun kekurangan. Termasuk untuk minuman,” sebut salah satu pengungsi di Canduang Taspin, 47.

Hanya saja, untuk air bersih tersendat. Tapi, katanya, masih bisa di maklumi karena kondisinya darurat. “Untuk kebutuhan mandi cuci kasus saya kembali ke rumah. Kemudian untuk tidur kita mengunakan matras busa dan selimut,” ujarnya.

Bencana ini juga menimbulkan berbagai kerusakan terhadap bangunan rumah, infrastruktur publik, sarana ibadah, tempat usaha, kendaraan dan areal pertanian serta berdampak pada ternak warga. Pihaknya saat ini masih terus menghimpun data kerusakan dan menghitung estimasi kerugian yang ditimbulkan.

Sejauh ini kata Budi Perwira Negara, sudah terdata sebanyak 172 rumah di empat kecamatan rusak diterjang material banjir bandang. Di samping itu, Dinas Pertanian Kabupaten Agam mencatat kerusakan seluas 240,65 hektare lahan pertanian akibat banjir bandang. Estimasi kerugiannya mencapai Rp 4,861 miliar.

Kepala Dinas Pertanian Agam Arief Restu mengatakan, lahan pertanian yang rusak itu berupa padi, cabai, bawang merah dan sayuran lainnya. Kemudian juga terdapat 21 ekor ternak besar dan 120 ekor ternak unggas mati terdampak.

Di Kabupaten Tanahdatar, pemkab setempa dibantu petugas gabungan terus juga terus mencari korban yang dilaporkan masih hilang. Bantuan logistik pun tak lupa disalurkan kepara korban yang mengungsi lewat dapur umum.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Tanahdatar Yusrizal menyampaiakan, seiring berpacu dengan waktu pencarian korban serta penemuan baru mayat korban, jumlah korban meninggal hingga Selasa pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 23 orang. Selain itu galodo yang menerjang enam kecamatan di Tanahdatar itu, ,menimbulan 20 korban luka-luka.

Lahan pertanian juga berdampak dengan luas lebih dari 4,511 hektare. Sementara itu, 3.030 ekor hewan ternak seperti kambing, sapi dan itik hanyut. Kemudian 34 unit irigasi rusak, dan kerugian kendaraan roda dua 116 unit, roda empat 51 unit.

Sebanyak 88 unit rumah juga mengalami rusak berat, 125 rumah rusak sedang, 23 rumah hanyut, 19 rumah rusak ringan, dan 29 jembatan rusak. Terdampak pula 15 rumah ibadah, 1 sarana pendidikan, dan 20 unit sarana perdagangan seperti kedai dan warung serta tempat usaha semacamnya. 

Hingga kemarin sore, jumlah pengungsi di Tanahdatar mencapai 2.452 jiwa. Dari jumlah itu, di Kecamatan Rambatan terdapat 285 jiwa, Kecamatan Batipuh 75 jiwa, Di Kecamatan Sungai Tarab 297 jiwa, di Kecamatan Pariangan 210 jiwa, di Kecamatan Limakaum 1.191 jiwa, dan di Kecamatan X koto 394 jiwa.

Yusrizal mengatakan, jika untuk mememuhi kebutuhan makan pengungsi, disalurkan melalui dapur umum yang didirikan di Posko Utama di Indojalito Batusangkar. ”Jadi makan mereka disalurkan tiga kali sehari ke tempat pengungsian yang sebelumnya sudah didata,” ujarnya. 

Dia menyebutkan, secara berangsur-angsur, beberapa lokasi yang sempat terisolir karena akses jalan tertutup ataupun karena jembatan rusak, mulai bisa dilalui kendaraan roda dua.

”Beberapa titik mulai terbuka, karena warga bergotong oyong membuka akses jalan atau membangun jembatan darurat,” terangnya.  Penyaluran makanan pengungsi, dilakukan secara maraton hingga sampai ke tangan pengungsi.  (cr1/ptr/r/stg)

Editor : Novitri Selvia
#Dinas Pertanian Kabupaten Agam #Diskominfo Tanahdatar #BPBD Agam #Budi Perwira Negara #Galodo #Basarnas Kota Padang