PADEK.JAWAPOS.COM-Keluhan masyarakat terhadap parahnya kerusakan jalan dari Padanglua ke Simpang Malalak, Kabupaten Agam, mendapat respons dari Anggota DPR RI asal Sumbar Andre Rosiade. Politisi dari Partai Gerindra itu pun membangun komunikasi dengan Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Rachman Arief dan Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar Thabrani, kemarin.
Dalam video komunikasi yang viral di media sosial tersebut, Andre menerangkan, sejak jalur di Lembah Anai, Kabupaten Tanahdatar, putus akibat banjir bandang, mobilitas kendaraan dari dan menuju Padang-Bukittinggi dialihkan ke jalan alternatif via Malalak.
“Banyak masyarakat yang protes (dan menyampaikan) pesan WhatsApp ke saya pak Dirjen. Jalan Malalak yang merupakan jalan lintas provinsi, yang kita lalui beberapa bulan ini, sekarang berlubang. Bukan sedikit lagi tapi sudah merata dan bergelombang,” ujarnya.
Ia pun meminta Rachman untuk membantu mengatasi kondisi jalan yang sempit, berlubang dan bergelombang itu. Sebagaimana diberitakan Padang Ekspres kemarin, jalan yang rusak parah berada di antara Padanglua hingga Simpang Malalak.
Panjangnya sekitar 9 kilometer. Volume kendaraan yang padat pascabanjir bandang yang memutus jalan Padang-Buktinggi via Lembah Anai 11 Mei lalu, tidak hanya menimbulkan kemacetan, namun juga membuat jalan tersebut tersebut rusak parah.
Menanggapi kondisi itu, Rachman Arief mengatakan, pihaknya akan melihat aturannya. “Jangan sampai ada masalah dan yang penting laporannya masuk. Nanti ditangani untuk masyarkat Sumbar,” terangnya.
Selain itu, Andre Rosiade meminta Rachman Arief memerintahkan BPJN Sumbar untuk memperbaiki jalur alternatif tersebut, meskipun itu kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar. “Intinya Pemprov Sumbar butuh bantuan dan dukungan pemerintah pusat untuk membantu menambal jalan di Malalak supaya masyarakat nyaman,” ungkap Andre Rosiade.
Setelah itu, Andre menghubungi Kepala BPJN Sumbar Thabrani. Dia meminta BPJN Sumbar untuk berkoordinasi dengan Pemprov Sumbar soal perbaikan jalan alternatif Padang-Bukittinggi via Malalak.
“Tolong bapak follow up bagaimana caranya kita bantu Pemerintah Provinsi Sumbar. Sambil menunggu Lembah Anai pulih di Juli. Tolong Bapak bantu ditambal sulam, diperbaiki sedikit, agar macetnya tidak empat, lima jam. Kasihan masyarakat saya pak,” kata Andre.
Terpisah, Kadis Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang Sumbar Era Sukma Munaf mengatakan, pihaknya telah melakukan pengerjaan jalan yang rusak di lokasi tersebut.
“Senin (24/6) lalu telah kami laksanakan penimbunan dengan pelaksanaan pekerjaan segmen 1 Sta 167+700 - 167+725 dan Sta 168+500 - 170+250. Total volume 13 meter kubik,” jelasnya kepada Padang Ekpres.
Kemarin penimbunan juga dilakukan di Sta 168+300 - 168+350 dengan total volume 14 meter kubik. Ini penanganan sementara.
Ia menyebutkan, pihaknya bertanggung jawab untuk melakukan perbaikan jalan di lokasi tersebut. Namun saat ini tidak bisa dilakukan sepenuhnya karena bisa menghabat arus lalu lintas.
“Kami punya anggaran kok untuk jalan di sana. Tapi kami gak bisa kerja full sekarang. Kalau kerja sekarang dengan kondisi cuaca tidak normal, bisa-bisa dua bulan kemudian di periksa sama jaksa,” ungkapnya.
Menurut Era Sukma, kerusakan jalan tersebut disebabkan oleh kendaraan yang melalui jalan Malalak hendak ke Padangluar tidak sesuai lagi dengan kapasitas jalan.
“Yang masuk ke situ truk-truk yang besar yang muatannya tidak lagi sesuai dengan kapasitas jalan. Maka dari itu Dinas Perhubungan menyarankan truk besar (tronton) melalui Sitinjaulauik,” sebutnya.
Banyak “Pak Ogah”
Terpisah, Dirlantas Polda Sumbar Kombespol Dwi Nur Setiawan menyarakan agar pengendara untuk sementara waktu bersabar dan berhati-hati melalui jalur Malalak.
“Benar terjadi kemacetan. Itu karena adanya jalan rusak di lokasi. Saya harap pengendara bersabar melalui jalur tersebut. Karena jalur Padang-Bukitinggi hanya dua saat ini. Selain Malalak, satu lagi lewat Sitinjauluik,” katanya.
Dwi mengungkapkan, anggota Satlantas juga telah berada di lokasi untuk mengurai terjadinya kemacetan dan juga kecelakaan di jalan yang berlobang dengan cara memberlakukan sistem buka tutup.
Salah seorang pengendara asal Kota Padang yang melalui jalur Malalak Muhammad Ghazi Alfarabi menjelaskan, untuk melewati jalur Padanglua menuju Malalak dirinya membutuhkan waktu tiga jam lebih. “Tadi kami kami masuk dari Parabek. Tapi, kami tetap terjebak macet,” jelasnya, Senin malam (24/6) lalu.
Diakuinya dengan kondisi tersebut banyak “Pak Ogah” membantu mengurai kemacetan. Walau tidak di hari libur, kemacetan panjang jalur alternatif Malalak-Padanglua tidak terelakkan. Kemacetan ini mendatangkan keuntungan tersendiri bagi warga yang mendadak menjadi “Pak Ogah” di sepanjang jalur tersebut.
“Saya hanya melihat satu petugas polisi yang bertugas di jalur tersebut. Itupun saat ada truk yang terjebak masuk lubang. Selebihnya “Pak Ogah” yang membantu pengaturan lalu lintas,” tambah Muhammad Ghazi Alfarabi.
Selain banyak warga yang menjadi “Pak Ogah”, ada juga warga yang menjual mie instan dalam cup dan kopi di halaman rumah mereka. Untuk harganya tidaklah begitu mahal. Segelas plastik kopi panas di hargai dengan Rp 5000, serta semangkuk mie dijual dengan harga Rp 7000. Hal ini terlihat dari daftar harga yang ditulis di selembar kertas karton.
“Kami berjualan membantu para pengendara yang terjebak macet. Di saat macet hingga 20 menit, perwakilan penumpang bisa datang dan membeli segala kebutuhan yang dibutuhkan. Kami menjual mie instan dan segelas kopi,” jelas Nita salah seorang pedagang mie instan dadakan. (cr2)
Editor : Novitri Selvia