PADEK.JAWAPOS.COM-Setelag berada pada Level II atau Waspada dalam beberapa waktu terakhir, status Gunung Marapi kembali naik. Pada pukul 15.00 WIB kemarin, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status gunung yang berada di Kabupaten Agam dan Tanahdatar itu pada Level III alias Siaga.
Dalam keterangan terlulisnya, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Muhammad Wafid menjelaskan, sacara visual akhir-akhir ini aktivitas Marapi cenderung mengalami peningkatan.
Hembusan dan erupsi semakin intensif, di mana tinggi kolom abu erupsi teramati 2000 meter di atas puncak pada Minggu (27/10) lalu. Kemudian 1500 meter di atas puncak pada pukul 05.44 WIB kemarin.
Secara kegempaan, sambungnya, sejak 7 Oktober lalu, terdapat kecenderungan peningkatan. Terutama gempa Vulkanik Dalam (VA) yang berasosiasi dengan peningkatan pasokan fluida dari kedalaman. Kenaikan kegempaan ini juga selaras dengan adanya deformasi inflasi di bagian puncak Marapi.
“Dari data variasi kecepatan seismik dan koherensi menunjukkan terganggunya kondisi medium bawah permukaan (di dekat permukaan) tubuh Gunung Marapi akibat peningkatan tekanan (stress) pada tubuh gunungapi,” ungkapnya.
Dia menyampaikan, berdasarkan evaluasi data-data pemantauan maka secara umum aktivitas Marapi mengalami peningkatan.
Dengan demikian aktivitas erupsi dapat terjadi sewaktu-waktu sebagai bentuk pelepasan dari akumulasi energi dan dapat terjadi semakin intensif dengan jangkauan lontaran material letusan yang semakin jauh bila pasokan fluida dari kedalaman berlanjut mengalami peningkatan.
Dalam keterangan tertulis itu dia mengimbau, masyarakat agar tidak berada dalam radius 4,5 km dari pusat erupsi.
“Masyarakat yang bermukim di sekitar lembah, aliran, bantaran sungai-sungai yang berhulu di puncak Marapi agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya lahar yang dapat terjadi. Terutama di saat musim hujan,” tekannya.
Jika terjadi hujan abu maka masyarakat diimbau untuk menggunakan masker penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan saluran pernapasan.
Dia pun meminta seluruh pihak menjaga suasana yang kondusif dengan tidak menyebarkan narasi bohong dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya. “Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah,” katanya.
Pemerintah Kota Bukittinggi, Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar, dan Agam diharapkan pula untuk senantiasa berkoordinasi dengan PVMBG atau dengan Pos Pengamatan Gunung Marapi untuk mendapatkan informasi langsung tentang aktivitas Marapi.
Sementara itu, masyarakat dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Marapi melalui website Badan Geologi, website PVMBG, website Magma Indonesia, dan aplikasi Magma Indonesia yang dapat diunduh di Google Play Store, atau melalui media sosial PVMBG.
“Tingkat aktivitas Marapi akan dievaluasi kembali secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan,” jelasnya.
Hujan Abu di Bukittinggi
Sementara itu, saat erupsi Marapi terjadi kemarin pagi, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Lontaran abu vulkanik bercampur batu dan terdengan juga suara gemuruh.
Abu vulkanik yang terbawa angin mengguyur wilayah di sekitar Marapi, Kabupaten Agam hingga Kota Bukittinggi. Hujan abu menumpuk di atap-atap rumah warga dan kendaraan.
Lidya, salah seorang warga Bukittinggi menyebut, selain menumpuk di atap bangunan atau di kendaraan, hujan abu juga menggangu aktivitas masyarakat. “Kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan, menggangu pernafasan dan penglihatan,” sebut dia.
Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan Gunung Marapi kemarin beramplitudo maksimum 30 mm dengan durasi mencapai 4 menit 35 detik.
Kemudian untuk kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut.
“Untuk ketinggian kolom abu sendiri tidak teramati karena tertutup awan,” sebut Petugas Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi Ahmad Rifandi.
Terkait aktivitas Marapi yang meningkat tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar telah mengkoordinasikan upaya mitigasi dan antisipasi dampak abu ini dengan instansi setempat serta Dinas Kesehatan.
Ini untuk memastikan masyarakat terhindar dari gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Hal tersebut diungkapkan Juru Bicara BPBD Sumbar Ilham Wahab. Ia pun menekankan bahwa BPBD sudah mengambil berbagai langkah untuk mengantisipasi risiko lebih lanjut jika aktivitas vulkanik terus meningkat.
Besok, BPBD Sumbar pun telah menjadwalkan rapat koordinasi untuk membahas langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya. Rapat ini akan melibatkan berbagai instansi terkait.
Termasuk BPBD Kabupaten Agam, Tanahdatar, Dinas Kesehatan, dan dinas-dinas lain yang memiliki peran penting dalam penanganan bencana.
“Dalam rapat ini akan dibahas rencana kesiapsiagaan masyarakat. Termasuk apakah perlu dilakukan simulasi evakuasi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk,” kata Ilham.
Menurutnya, simulasi evakuasi dapat menjadi langkah penting untuk memastikan masyarakat siap menghadapi situasi darurat jika status Gunung Merapi terus meningkat.
“Kami akan mempertimbangkan secara matang apakah simulasi ini diperlukan, serta bagaimana proses sosialisasinya agar masyarakat benar-benar memahami dan bisa menjalankan prosedur evakuasi dengan baik,” jelasnya.
BPBD Sumbar menekankan pentingnya masyarakat untuk selalu mematuhi imbauan dan instruksi resmi yang diberikan oleh pihak berwenang.
“Kami juga mengimbau agar masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada. Terutama dengan kondisi cuaca yang dapat memengaruhi penyebaran abu,” tambahnya. (rid/cip/rna/wni)
Editor : Novitri Selvia