Saat ini, wacana merger tersebut sedang memasuki penjajakan awal. Danantara juga disebut-sebut akan mengawal aksi korporasi perusahaan plat merah tersebut.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, rencana penggabungan anak usaha airline, Pelita Air, dengan Garuda Indonesia tengah dalam proses penjajakan awal.
Penggabungan dilakukan karena ingin mulai fokus dengan bisnis inti perusahaan, yakni migas dan energi terbarukan. ”Kami sedang penjajakan awal untuk penggabungan dengan Garuda Indonesia,” ujar Simon di Jakarta kemarin (16/9).
Lini usaha di luar bisnis inti Pertamina akan dilepas atau digabungkan dengan perusahaan sejenis sesuai dengan roadmap yang dikendalikan Danantara. ”Untuk beberapa usaha, kami akan melakukan spin off dan tentunya mungkin akan di bawah koordinasi dari Danantara,” bebernya.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Wamildan Tsani menyebutkan, rencana merger itu masih dalam tahap penjajakan awal. ”Terkait dengan wacana konsolidasi BUMN sektor penerbangan hingga saat ini masih berada di tahap awal penjajakan, dan terkait hal tersebut Perseroan masih terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait,” beber Wamildan.
Kondisi Keuangan Beda Jauh
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan bahwa kondisi keuangan kedua maskapai tersebut sangat berbeda jauh.
Pelita Air tercatat memiliki posisi keuangan yang jauh lebih stabil dan bahkan mampu bersaing secara sehat dengan maskapai swasta lain. Bahkan, menempati urutan pertama maskapai paling tepat waktu (on-time performance) dengan tingkat 94,3 persen sepanjang 2024. ”Kenapa yang sehat digabung dengan maskapai bermasalah?” ujar Bhima.
Picu PHK
Bhima mengingatkan potensi dampak negatif pada operasional Pelita Air pasca merger. Imbasnya ke penurunan jumlah rute. Mengingat, Pelita Air selama ini bersaing ketat dengan Citilink, anak usaha Garuda yang bergerak di segmen low cost carrier. Sehingga, bisa memicu terjadi PHK di Pelita Air. Malah menjadi masalah baru lagi nantinya. ”Tidak mungkin maskapai low cost carrier di pasar domestik yang sama dan induk usaha yang sama mau berbagi rute,” katanya.
Baca Juga: Tersangka Korupsi Hibah APBD Jatim Kenapa Hanya Legislatif?
Sebagai alternatif, Bhima menyarankan agar Danantara lebih baik fokus memperbaiki kondisi keuangan Garuda (GIIA) terlebih dahulu. ”Jangan sampai masalah diseret ke BUMN lainnya. Ini namanya burden sharing (berbagi beban) bukan profit sharing,” tegasnya. (*)
Editor : Eri Mardinal