Ia mengolah ban bekas menjadi pot bunga, buayan (ayunan), hingga tanggul karet—kerajinan yang kini menjadi sumber penghidupan utama bagi dirinya dan keluarga.
Johor menuturkan, usaha ini telah digeluti sejak kecil, diwariskan langsung dari ayahnya yang dahulu menjadi pelopor pengrajin ban bekas di kampung mereka.
“Dulu bapak saya yang pertama kali membuat. Saya hanya melanjutkan. Hidup saya dari usaha ini,” ujar Johor, Selasa (14/10/2025).
Dari Ban Bekas Jadi Karya Bernilai
Bahan utama yang digunakan Johor berasal dari ban bekas berbagai jenis kendaraan. Ia tidak perlu mencari sendiri bahan bakunya, karena para pengepul sudah rutin mengantarkan langsung ke tempat usahanya. Dengan cara itu, pasokan bahan selalu terjaga.
Untuk membuat pot bunga, Johor umumnya menggunakan ban mobil jenis radial seperti Avanza, Inova, dan angkot. Sedangkan ban truk besar seperti Fuso biasanya dijadikan bahan karet tambahan.
“Kalau ban besar itu dipakai untuk karet, bukan pot bunga,” jelasnya.
Selain pot bunga, Johor juga membuat buayan dan tanggul dari ban bekas. Semua produknya dijual di lapak sederhana di pinggir jalan.
“Selain pot bunga, saya juga jual buayan dan karet ban. Ada juga kapas mobil yang saya taruh di bawah meja,” katanya.
Proses Cepat, Hasil Menarik
Proses pembuatan pot dan buayan dari ban bekas tergolong singkat. Johor menjelaskan, ban terlebih dahulu dibentuk sesuai model yang diinginkan, kemudian dipotong dan dirapikan.
Baca Juga: Ninja Gaiden 4 Rilis 21 Oktober 2025, Hadirkan Yakumo dan Sistem Bertarung Ganda
“Untuk satu pot atau buayan, paling setengah jam sudah jadi. Tidak sampai satu jam,” ujarnya.
Dalam sehari, ia bisa menghasilkan beberapa pot dan buayan, tergantung permintaan. Produk hasil tangannya dikenal kuat, tahan lama, dan memiliki bentuk unik, sehingga menarik minat pembeli dari berbagai daerah.
Permintaan Stabil hingga Luar Daerah
Johor menjual produknya dengan harga bervariasi tergantung ukuran dan model. Buayan dibanderol sekitar Rp50.000 per unit, sementara pot bunga dijual antara Rp30.000 hingga Rp80.000 per buah. Untuk karet ban, satu ikat dijual seharga Rp35.000.
Meski usahanya sederhana, Johor bersyukur permintaan selalu stabil. “Alhamdulillah selalu ramai. Sudah sampai ke Pesisir, Bukittinggi, Pariaman, sampai Lubuk Alung. Banyak yang datang langsung ke sini menjemput barang,” katanya dengan nada syukur.
Menjaga Tradisi dan Lingkungan
Lebih dari sekadar mencari nafkah, Johor merasa bangga bisa melanjutkan usaha keluarga sekaligus berkontribusi menjaga lingkungan.
Dengan mendaur ulang ban bekas menjadi produk bernilai guna, ia turut membantu mengurangi limbah karet yang sulit terurai.
“Kalau ada yang mau belajar, saya senang. Biar usaha seperti ini tidak hilang,” ujarnya berharap agar generasi muda mau meneruskan keterampilan tradisional ini.
Bagi Johor, setiap pot bunga dan buayan yang ia hasilkan bukan hanya hasil kerja tangan, tetapi juga simbol ketekunan, warisan keluarga, dan kepedulian terhadap alam.
Di tengah dunia yang kian modern, ia membuktikan bahwa kreativitas lokal tetap bisa bertahan dan menjadi sumber kehidupan yang layak.(andre/mg9)
Editor : Hendra Efison