Di balik mesin jahit yang berderet rapi, M. Jamin, 50, tampak tekun menyelesaikan satu pesanan demi pesanan, mata tajam meneliti setiap detail jahitan.
Pria asal Sawahlunto ini menapaki jalan panjang sebelum membuka usahanya sendiri pada 2014. Sepuluh tahun sebelumnya, ia belajar menjahit di Pasar Raya Padang, bekerja siang menjahit, malamnya membuat sapu ijuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Pendidikan saya memang terbatas, tapi saya yakin dengan keterampilan ini. Saya selalu bilang, ‘Saya harus tetap jaga kualitas jahitan saya, karena dari sinilah rezeki keluarga saya datang’,” ujarnya, 27 Oktober 2025.
Pengalaman tambahan di salah satu perusahaan jahit besar di Jakarta mematangkan keahliannya. Kini, usaha jahitnya mampu bertahan di tengah persaingan, membukukan omset rata-rata Rp7–9 juta per bulan, naik signifikan saat musim wisuda atau pernikahan.
Keberhasilan ini juga dirasakan anak-anaknya: putra pertamanya, Surya Wajdy, menamatkan pendidikan di jurusan Informatika UPI YPTK Padang, sementara anak keduanya, Nafis Muzaki, bersekolah di SMP Negeri 30 Padang.
Meski menghadapi tantangan, seperti kekurangan tenaga kerja terampil dan komplain pelanggan, Jamin selalu menekankan kualitas di atas kuantitas. Ia melatih orang terdekat dan menjaga komunikasi terbuka dengan pelanggan agar tetap puas.
Kisah M. Jamin menjadi contoh nyata bahwa keahlian praktis dan ketekunan mampu membangun kemandirian ekonomi keluarga, sekaligus menjadi inspirasi wirausaha lokal di Kota Padang.(Mengki Kurniawan/CR3)
Editor : Hendra Efison