Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Amazon Gugat Perplexity: Babak Baru Perseteruan Big Tech dan Startup AI

Imam Syaputra • Kamis, 6 November 2025 | 20:22 WIB

Gugatan Amazon terhadap Perplexity ungkap konflik besar Big Tech dan startup AI, menyoroti risiko privasi, etika, dan regulasi teknologi agentic global. (foto: Gemini)
Gugatan Amazon terhadap Perplexity ungkap konflik besar Big Tech dan startup AI, menyoroti risiko privasi, etika, dan regulasi teknologi agentic global. (foto: Gemini)
PADEK.JAWAPOS.COM—Amazon resmi menggugat Perplexity, startup di balik browser AI Comet, atas dugaan pelanggaran serius terhadap privasi pengguna dan integritas platform e-commerce.

Gugatan ini menandai eskalasi baru dalam ketegangan antara raksasa teknologi dan startup AI yang berambisi menembus ekosistem digital mapan.

Dari Surat Peringatan hingga Meja Hijau

Konflik bermula dari surat cease-and-desist yang dikirim Amazon kepada Perplexity, meminta perusahaan AI tersebut menghentikan penggunaan Comet di situs Amazon.

Browser AI itu diduga mengakses akun pelanggan tanpa izin dan melakukan pembelian otomatis—tindakan yang dinilai melanggar ketentuan layanan dan mengancam keamanan pengguna.

Namun, alih-alih menghentikan praktik itu, Perplexity justru meluncurkan Comet secara publik, memicu langkah hukum dari Amazon.

Dalam gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California, Amazon menegaskan pelanggaran tersebut setara dengan intrusi digital ilegal, meskipun dilakukan lewat kode perangkat lunak.

“Perplexity tidak diperbolehkan masuk ke tempat yang telah secara tegas dilarang. Fakta bahwa pelanggaran dilakukan lewat kode, bukan alat fisik, tidak membuatnya legal,” tegas Amazon dalam berkas pengadilan.

Mengganggu Ekosistem Belanja Digital

Amazon menilai tindakan Comet merusak pengalaman belanja pelanggan dan berpotensi mengurangi pendapatan iklan.

Dengan kemampuan melakukan transaksi otomatis tanpa login atau input kartu kredit, Comet dianggap memotong rantai interaksi yang menjadi sumber utama data perilaku konsumen Amazon.

Menurut dokumen gugatan, sistem Comet dapat menyelesaikan pembelian dengan memanfaatkan akses akun pengguna yang tersimpan, tanpa konfirmasi eksplisit.

Praktik ini, menurut Amazon, mengancam prinsip transparansi dan keamanan data konsumen, dua pilar utama dalam bisnis digital modern.

Amazon juga menyebut telah memperingatkan Perplexity sejak tahun lalu, bahkan sempat menerima komitmen untuk menghentikan praktik tersebut.

Namun peluncuran Comet kembali menghidupkan isu yang sama, kali ini di bawah sorotan hukum dan publik global.

Big Tech vs Startup AI: Pertarungan Kekuatan dan Inovasi

Kasus ini menjadi simbol dari ketegangan struktural antara Big Tech dan startup AI.

Di satu sisi, perusahaan besar seperti Amazon berupaya mempertahankan kendali atas ekosistem digitalnya.

Di sisi lain, startup seperti Perplexity mengklaim sedang berinovasi untuk membuat pengalaman digital lebih efisien dan personal.

Perplexity menilai gugatan Amazon adalah bentuk “pembungkaman inovasi”.

Melalui pernyataan resmi, perusahaan menuduh Amazon menggunakan kekuatan pasarnya untuk menghalangi pengembangan teknologi AI agentic—jenis AI yang dapat mengambil tindakan secara otonom atas nama pengguna.

Namun, analis industri menilai klaim tersebut berisiko. AI agentic seperti Comet memang membuka peluang baru, tetapi juga menimbulkan dilema etika dan hukum, terutama soal batas antara “bantuan otomatis” dan “akses tanpa izin.”

Implikasi Regulasi dan Keamanan AI

Kasus Amazon vs Perplexity menyoroti kesenjangan regulasi AI global. Teknologi AI agentic yang mampu menavigasi situs, mengklik tautan, bahkan membeli produk secara mandiri, menantang batas hukum privasi dan otorisasi digital yang ada saat ini.

Pakar keamanan siber memperingatkan potensi “prompt injection”, di mana kode berbahaya bisa memanipulasi AI untuk melakukan tindakan tidak diinginkan, seperti transaksi palsu atau pencurian data.

Baca Juga: UNP Latih Guru PAUD Sawahlunto Kembangkan Media Pembelajaran Berbasis Augmented Reality

Situasi ini membuat perusahaan teknologi besar harus meninjau ulang mekanisme perlindungan akun dan protokol API mereka.

Bagi konsumen, risiko kehilangan kendali atas akun dan data pribadi semakin nyata.

Tanpa regulasi yang jelas, AI agentic bisa menjadi pedang bermata dua: menawarkan kemudahan sekaligus membuka celah penyalahgunaan digital.

Preseden Penting bagi Masa Depan AI

Pertarungan hukum ini dapat menjadi preseden global bagi hubungan antara platform digital dan pengembang AI.

Jika Amazon menang, maka batas penggunaan AI pihak ketiga di situs e-commerce akan semakin ketat.

Namun jika Perplexity berhasil membela diri, maka AI otonom mungkin akan mendapat legitimasi baru dalam mengakses layanan daring.

Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase baru di mana AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan aktor yang berpotensi berinteraksi langsung dengan sistem ekonomi digital.

Bagi industri, ini bukan hanya soal inovasi, tetapi soal kepercayaan, transparansi, dan tanggung jawab digital di era kecerdasan buatan yang semakin mandiri.(CC6)

Editor : Hendra Efison
#keamanan data digital #Core AI agentic #Amazon vs Perplexity #regulasi kecerdasan buatan