Sejak 1985, ia setia menjajakan Kue Pancung Jaman Old, kudapan tradisional yang kini melegenda karena keotentikan rasa dan konsistensi kualitasnya.
Bertempat tinggal di kawasan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Pak Basril menekuni usaha ini berawal dari ketekunan dan pengalaman panjang.
Sebelum membuka lapak sendiri, ia sempat bekerja selama dua tahun dengan penjual kue pancung lain untuk mempelajari resep dan teknik pembuatan.
“Saya belajar dulu sebelum buka usaha sendiri. Dari situ dapat pengalaman bagaimana menjaga rasa,” ujarnya, Senin (10/11/2025).
Resep Turun-temurun, Rasa Tak Tergantikan
Rahasia kelezatan Kue Pancung milik Pak Basril terletak pada komposisi kelapa parut yang dominan dan resep keluarga yang tidak ia ubah sejak puluhan tahun.
“Kue Pancung saya ini ada resep khusus yang beda dari yang lain. Itu yang bikin orang terus cari,” katanya sambil tersenyum.
Setiap hari, ia berkeliling menjajakan dagangannya sejak selepas subuh hingga sore hari. Di hari kerja, ia biasa berjualan di sekitar Universitas Andalas (Unand), Batu Busuk, Gadut, dan Indarung.
Sementara akhir pekan, rutenya bergeser ke Jembatan Baru Kuranji hingga Belimbing. Ketika cuaca panas, ia juga menambah penghasilan dengan menjual rujak segar.
Bertahan dengan Ketekunan dan Kesederhanaan
Dengan harga hanya Rp1.000 per potong, Kue Pancung racikannya selalu laris. Dalam sehari, ia membuat adonan dua kali untuk memenuhi permintaan pembeli.
Pada hari biasa, omzetnya mencapai Rp100.000–Rp300.000, sedangkan akhir pekan bisa melonjak hingga Rp800.000 dengan keuntungan bersih sekitar Rp300.000.
Meski usianya tak muda lagi, semangat berdagang Pak Basril tak pernah surut. “Keliling berdagang itu sekalian olahraga bagi saya. Badan tetap sehat, hati juga senang,” ucapnya.
Warisan Rasa dan Semangat Keluarga
Dari enam anak yang dimilikinya, anak kedua yang lahir pada 1986 kini mengikuti jejak sang ayah berjualan Kue Pancung di kawasan Simpang Haru, Kampus UPI, dan Marapalam. Sementara anak bungsunya telah berkarier sebagai anggota Marinir. Dengan 14 cucu yang kini menjadi kebanggaannya, Pak Basril tetap menjadi contoh ketekunan dan kerja keras bagi keluarga.
Lebih dari sekadar mencari nafkah, perjalanan panjang Pak Basril adalah bukti bahwa usaha kecil dengan resep tradisional bisa bertahan di tengah arus modernisasi kuliner.
Dari gerobak sederhana dan aroma kelapa yang menguar, lahirlah kisah perjuangan yang menghangatkan hati — kisah tentang dedikasi, rasa, dan warisan kuliner Minang yang tak lekang waktu.(CR3)
Editor : Hendra Efison