Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Emas Anjlok 13% Saat Konflik Israel-AS dan Iran, Kalah dari Saham hingga Bitcoin

Heri Sugiarto • Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:12 WIB

Harga emas alami penurunan tajam 13% sejak memanasnya konflik Israel-AS dan Iran. Faktor tingginya imbal hasil obligasi AS dan posisi harga yang sudah jenuh beli.(Foto ilustrasi AI)
Harga emas alami penurunan tajam 13% sejak memanasnya konflik Israel-AS dan Iran. Faktor tingginya imbal hasil obligasi AS dan posisi harga yang sudah jenuh beli.(Foto ilustrasi AI)
PADEK.JAWAPOS.COM-Harga emas mengalami penurunan tajam hingga 13% sejak pecahnya konflik Israel-AS dan Iran, berlawanan dengan reputasinya sebagai aset safe haven. Penurunan ini terjadi di tengah pergerakan pasar global, di mana sejumlah instrumen lain justru menunjukkan ketahanan lebih baik.

Data ini disampaikan dalam laporan terbaru yang dikutip dari ABC News, dengan analisis dari sejumlah lembaga dan pakar pasar.

Emas Melemah, Aset Lain Lebih Tahan

Sejak konflik di Timur Tengah dimulai, indeks saham utama juga mengalami tekanan, namun tidak sedalam emas. S&P 500 tercatat turun 7%, sementara Nasdaq melemah 8%. Di sisi lain, Bitcoin hanya terkoreksi sekitar 2%.

Deutsche Bank Research menyebut pelemahan emas sebagai pergerakan pasar yang tidak biasa selama konflik Israel-AS dan Iran. Kondisi ini menunjukkan bahwa emas tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi sebagai aset pelindung nilai di tengah gejolak geopolitik.

Faktor Penyebab Penurunan Harga Emas

Penurunan harga emas dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah posisi harga emas yang sudah tinggi sebelum perang terjadi, sehingga rentan terhadap aksi jual.

"Kinerja yang sangat tinggi tersebut membuat emas rentan terhadap aksi jual," kata Campbell Harvey, seorang profesor di Sekolah Bisnis Fuqua Duke yang mempelajari harga komoditas, kepada ABC News.

Emas batangan, tambahnya, biasanya menghasilkan pengembalian yang moderat atau negatif selama periode setelah mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menekan daya tarik emas. Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 4,45%, naik hampir setengah persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Berbeda dengan emas, obligasi memberikan imbal hasil tahunan kepada investor. 

Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi juga memperkuat tren ini. 

"Tingkat bunga yang tinggi, pada gilirannya, membuat emas kurang menarik. Emas tidak memberikan bunga," kata Adam Turnquist, kepala ahli strategi teknis di LPL Financial, dalam sebuah pernyataan kepada ABC News.

Kinerja Emas Masih Kuat dalam Jangka Panjang

Meski mengalami penurunan, harga emas tetap menunjukkan kinerja kuat dalam jangka panjang. Pada Januari lalu, emas sempat mencapai rekor tertinggi hampir 5.600 dolar AS per ons.

Saat ini, harga emas berada di sekitar 4.490 dolar AS per ons, masih hampir 50% lebih tinggi dibandingkan setahun lalu.

Dalam lima tahun terakhir, harga emas bahkan telah naik sekitar 160%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun volatil, emas masih memberikan hasil positif dalam periode panjang.

Status Safe Haven Tidak Selalu Konsisten

Sejumlah analis menilai bahwa status emas sebagai safe haven tidak selalu konsisten. Studi yang dilakukan pada 2025 menunjukkan bahwa harga emas naik dalam 8 dari 11 periode penurunan pasar saham besar sejak akhir 1980-an.

Namun, emas tidak selalu bergerak sejalan dengan setiap krisis geopolitik. Fluktuasi harga tetap mungkin terjadi, termasuk saat kondisi global tidak stabil. "Harga emas tidak akan bergerak seiring dengan setiap krisis geopolitik," kata Harvey.

Prospek ke Depan

Analis memperkirakan volatilitas harga emas masih akan berlanjut dalam beberapa pekan hingga bulan ke depan.

Meski demikian, optimisme terhadap kinerja jangka panjang tetap terjaga, terutama bagi investor yang memegang emas dalam horizon waktu panjang.(*)

 

Editor : Heri Sugiarto
#harga emas #safe haven #Emas Turun #obligasi AS #konflik israel as iran #bitcoin #Nasdaq