Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kinerja Semen Indonesia Tertekan, Nevi: Butuh Transformasi Bisnis dan Intervensi Kebijakan

Heri Sugiarto • Kamis, 9 April 2026 | 15:12 WIB
Nevi Zuairina menyoroti penurunan laba Semen Indonesia di tengah tekanan industri semen nasional.(Foto: Tim NZ)
Nevi Zuairina menyoroti penurunan laba Semen Indonesia di tengah tekanan industri semen nasional.(Foto: Tim NZ)

PADEK.JAWAPOS.COM-Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Hj. Nevi Zuairina, menyoroti kinerja PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang tertekan akibat overcapacity dan perang harga di industri semen nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI bersama Direktur Utama SIG yang membahas evaluasi kinerja 2025 dan roadmap pengembangan usaha 2026.

Nevi mengungkapkan kinerja SIG sepanjang 2025 mengalami tekanan pada profitabilitas. Pendapatan tercatat sekitar Rp37,8 triliun atau turun 2,6 persen secara tahunan, sementara laba bersih merosot tajam menjadi Rp191 miliar.

Tekanan tersebut dipicu oleh penurunan harga jual serta tingginya biaya produksi, terutama energi yang mencapai sekitar 54 persen dari total struktur biaya. Kondisi ini dinilai mempersempit margin perusahaan secara signifikan.

“Masalah utama SIG saat ini bukan semata pada penjualan, tetapi pada struktur industri yang mengalami oversupply dengan tingkat utilisasi hanya sekitar 54%. Ini menciptakan perang harga yang terus menekan margin perusahaan,” ujar Nevi.

Ia menilai model bisnis berbasis penjualan semen sebagai komoditas tidak lagi relevan dalam kondisi saat ini. Transformasi menuju perusahaan solusi bahan bangunan atau building material ecosystem disebut menjadi kebutuhan mendesak.

Transformasi tersebut mencakup penguatan produk turunan seperti mortar, readymix, dan solusi konstruksi terintegrasi. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas sumber pendapatan.

Nevi juga menyoroti peluang program pembangunan 3 juta rumah yang berpotensi meningkatkan permintaan hingga 9 juta ton semen.

Ia mendorong SIG mengambil peran lebih besar melalui skema bundling produk dan integrasi ekosistem konstruksi nasional.

Dalam konteks global, risiko geopolitik dinilai turut memengaruhi volatilitas biaya energi dan logistik. Oleh karena itu, percepatan penggunaan energi alternatif seperti biomassa dan refuse-derived fuel (RDF), serta strategi lindung nilai energi menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas biaya.

Komisi VI DPR RI turut mendorong SIG memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan peran sebagai penyeimbang pasar, serta mempercepat transformasi bisnis agar tidak terjebak dalam industri dengan margin rendah.

“Tanpa transformasi yang cepat dan intervensi kebijakan yang tepat, SIG berisiko menjadi perusahaan besar namun tidak memberikan nilai tambah optimal bagi negara,” tutup Nevi Zuairina.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#SIG 2025 #overcapacity semen #industri semen nasional #semen indonesia #nevi zuairina