PADEK.JAWAPOS.COM – Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Selasa (30/6) WIB. Penurunan lebih dari 1 persen menempatkan logam mulia itu di jalur penurunan bulanan terbesar sejak Oktober 2008.
Melansir laporan Reuters, harga emas spot turun 1 persen menjadi US$3.975,04 per ons pada pukul 11.20 WIB. Sepanjang bulan ini, harga emas telah melemah 12,4 persen dan berpotensi mencatat penurunan bulanan selama empat bulan berturut-turut.
Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Agustus turun 1,2 persen menjadi US$3.988,60 per ons.
Penyebab Harga Emas Dunia Turun
Emas juga diperkirakan mencatat penurunan kuartalan pertama sejak 2024 sekaligus menjadi pelemahan kuartalan terbesar sejak kuartal Juni 2013.
Kenaikan tajam harga energi akibat perang Iran memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.
Analis Marex, Edward Meir, mengatakan inflasi yang tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan penguatan dolar AS menjadi kombinasi yang menekan harga emas.
"Anda memiliki inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi, dan dolar yang kuat. Kondisi itu mengalahkan seluruh faktor positif yang biasanya mendukung reli harga emas," ujarnya.
Meski secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga berada pada level tinggi.
Pasar Menanti Sinyal The Fed
Pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada September saat ini mencapai sekitar 64 persen.
Investor juga menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pekan ini, yakni laporan ADP Juni dan nonfarm payrolls, untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, dolar AS menguat dan berada di jalur kenaikan bulanan kedua berturut-turut. Penguatan mata uang tersebut membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Sementara itu, harga minyak berada di jalur penurunan kuartalan terdalam sejak 2020. Pelaku pasar mencermati hasil pembicaraan Iran dan Amerika Serikat di Doha pekan ini, meski Iran menyatakan belum ada pertemuan yang dijadwalkan.
Strategis logam mulia OCBC, Christopher Wong, mengatakan harga emas membutuhkan setidaknya satu dari tiga faktor agar kembali menguat, yakni penurunan imbal hasil riil, pelemahan dolar AS, atau meredanya ekspektasi kebijakan moneter agresif Federal Reserve.
"Hingga hal itu terjadi, reli harga emas kemungkinan akan terbatas dan emas dapat menghabiskan lebih banyak waktu berkonsolidasi di bawah level tertinggi sebelumnya," tulis Wong dalam catatannya.
Pada perdagangan yang sama, harga perak spot turun 1,6 persen menjadi US$57,35 per ons. Harga platinum melemah 0,5 persen menjadi US$1.566,90 per ons, sedangkan paladium naik 0,5 persen menjadi US$1.219,55 per ons. Ketiga logam tersebut sama-sama berada di jalur penurunan bulanan dan kuartalan.(*)
Editor : Heri Sugiarto