Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Anak Harimau Sumatera ”Yani” sudah 3 Kali Mati

Rian Afdol • Jumat, 4 Juli 2025 | 15:00 WIB

JADI PERHATIAN: Kadis Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofie Hendria menunjukkan foto Yani, induk Harimau Sumatera di TMSBK Bukittinggi yang kehilangan anak ketiganya.(DOK. PARIWISATA BUKITTINGGI)
JADI PERHATIAN: Kadis Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofie Hendria menunjukkan foto Yani, induk Harimau Sumatera di TMSBK Bukittinggi yang kehilangan anak ketiganya.(DOK. PARIWISATA BUKITTINGGI)

PADEK.JAWAPOS.COM-Seekor bayi Harimau Sumatera yang lahir di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, kembali dilaporkan mati. Bayi tersebut merupakan anak ketiga dari pasangan harimau bernama Yani dan Bujang Mandeh.

Sejak lahir pada Selasa (24/6), bayi harimau ini hanya mampu bertahan hidup selama enam hari, sebelum akhirnya mati, Senin (1/7) lalu.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofie Hendria, penyebab kematian diduga kuat akibat kelainan genetik serta kurangnya asupan nutrisi dari sang induk.

“Sebelumnya, Yani sudah dua kali melahirkan. Namun, setiap kali melahirkan hanya satu ekor anak, dan semuanya tidak ada yang selamat,” ungkap Rofie, Kamis (3/7).

Riwayat kelahiran Yani memang menyedihkan. Anak pertamanya lahir dalam kondisi mati (stillbirth). Anak kedua, yang lahir pada Agustus 2024, hanya bertahan hidup selama tiga hari. Anak ketiga kini kembali mengalami nasib serupa.

Selain masalah genetik, Rofie menjelaskan bahwa Yani juga tidak menghasilkan air susu, sehingga anaknya tidak memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

“Seperti satwa menyusui lainnya, bayi Harimau Sumatra sangat tergantung pada air susu induk. Sayangnya, Yani tidak memproduksi ASI,” tambahnya.

Masalah keturunan Yani makin rumit ketika hasil kajian bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menunjukkan tidak ditemukan silsilah induk Yani hingga generasi pertama (F0).

“Kami hanya menemukan hingga generasi F4. Diduga terjadi perkawinan sedarah di generasi sebelumnya. Hal ini bisa menjadi faktor utama gagalnya seluruh keturunan Yani untuk bertahan hidup,” kata Rofie.

Ia juga mengungkap bahwa induk Yani, seekor harimau bernama Sean, memiliki riwayat serupa: semua anaknya mati meski telah menjalani beberapa program breeding. Yani adalah satu-satunya anak Sean yang berhasil bertahan hidup.

Di sisi lain, harimau betina lain di TMSBK bernama Bancah menunjukkan hasil positif. Dua anaknya yang lahir beberapa waktu lalu masih bertahan hidup dengan kondisi sehat.

“SOP pemeliharaan sudah dijalankan secara maksimal. Saat ini, TMSBK Bukittinggi memiliki total 13 ekor Harimau Sumatra,” pungkas Rofie. (rna)

Editor : Novitri Selvia
#Rofie Hendria #tmsbk bukittinggi #harimau sumatera #Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi