Pelajar, mahasiswa, hingga komunitas pecinta budaya Jepang memadati lokasi untuk menyaksikan film Sunset Sunrise, salah satu judul yang paling dinantikan tahun ini.
Film Sunset Sunrise disutradarai Yoshiyuki Kishi dan ditulis oleh Kankuro Kudo, dengan aktor utama Masaki Suda.
Film ini menyoroti dinamika kehidupan pedesaan Jepang, isu rumah kosong, hingga dampak sosial masa pandemi.
Salah satu penonton, Dafitly Tegar Pradana (24), lulusan Sastra Jepang, mengaku tertarik menonton karena dialog menggunakan bahasa Jepang.
“Saya menonton film ini karena dialognya pakai bahasa Jepang. Sebagai lulusan Sastra Jepang, saya bisa lebih mengapresiasi nuansa bahasanya,” ujar Dafitly.
Ia juga menilai kehadiran native speaker Jepang dalam acara ini menjadi nilai tambah.
“Bukan hanya menonton, tapi kita juga bisa berbicara langsung dengan orang Jepang. Bisa praktik bicara dan tanya soal budaya,” tambahnya.
Penonton lainnya, Alfi Zikri (20), mengaku awalnya tidak terlalu tertarik, namun berubah setelah mencari informasi tentang film tersebut.
“Ternyata filmnya bagus, menggambarkan kondisi pedesaan Jepang, rumah kosong, dan tema corona. Ceritanya relate dengan kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Panitia JFF 2025 Padang, Puput Setia Susanti (37), menyebut minat masyarakat terhadap film dan budaya Jepang terus meningkat.
“Tiket di Padang sold out. Ini bukti masyarakat tertarik dengan film dan budaya Jepang,” ujarnya.
Baca Juga: Industri Game Global 2025 Tumbuh Stabil, Asia dan Indonesia Jadi Motor Baru Pasar Digital
Ia juga menjelaskan bahwa pengunjung diberikan kesempatan berinteraksi langsung dengan warga Jepang yang hadir di area festival untuk berdiskusi dan berlatih percakapan bahasa Jepang.
Japanese Film Festival 2025 di Padang tidak hanya menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga ruang interaksi budaya antara masyarakat Indonesia dan Jepang.(CR6)
Editor : Hendra Efison