Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Kopi Dunia Naik, Kedai masih Tahan Harga

Muhammad Reza Bayu Permana • Senin, 13 April 2026 | 11:51 WIB
Biji kopi kualitas premium hasil petik merah yang menjadi komoditas unggulan Sumatera Barat, dengan harga green bean yang tengah mengalami kenaikan 
di pasar global, pertengahan April 2026. (BAYU/PADEK)
Biji kopi kualitas premium hasil petik merah yang menjadi komoditas unggulan Sumatera Barat, dengan harga green bean yang tengah mengalami kenaikan di pasar global, pertengahan April 2026. (BAYU/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Dinamika pasar kopi di Sumatera Barat pada pertengahan April 2026 menunjukkan fenomena yang tidak biasa. Saat harga kopi dunia dan biji kopi mentah di tingkat hulu mulai mengalami kenaikan, pelaku usaha kedai kopi di Kota Padang justru belum merasakan dampak signifikan terhadap biaya operasional mereka.

Berdasarkan data bursa komoditas internasional yang dilaporkan Trading Economics, indeks harga kopi global mengalami kenaikan bulanan sebesar 4,42 persen. Nilai tersebut setara dengan 300,10 sen dolar AS per pon, yang menjadi salah satu level tinggi dalam tren historis perdagangan kopi dunia.

Namun, kondisi di tingkat lokal Sumatera Barat tidak sepenuhnya mengikuti tren global tersebut. Kenaikan harga hanya dirasakan pada segmen tertentu, terutama kopi dengan kualitas premium yang memiliki standar pengolahan lebih ketat.

Pelaku usaha kopi di Sangir, Padang Aro, Atilla Majidi atau yang dikenal sebagai Pak Datuak, menyebutkan bahwa lonjakan harga terutama terjadi pada jenis Arabica Specialty dan Fine Robusta. “Kopi dengan teknik petik merah tetap memiliki nilai jual tinggi karena kualitasnya terjamin,” ujarnya.

Di pasar Solok Selatan, harga Arabica Natural saat ini mencapai Rp170 ribu per kilogram, diikuti Arabica Honey Rp165 ribu dan Arabica Wash Rp160 ribu. Sementara itu, Fine Robusta bertahan di kisaran Rp90 ribu per kilogram, meski tetap menunjukkan tren stabil di tengah kenaikan harga global.

Baca Juga: Menata Konflik Lahan, Menguatkan Reforma Agraria

Pak Datuak sendiri menawarkan harga sedikit lebih rendah di wilayah Sangir, yakni Rp165 ribu untuk Arabica Natural dan Rp88 ribu untuk Fine Robusta. Ia menilai perbedaan harga tersebut merupakan strategi untuk menjaga daya saing sekaligus mempertahankan pasar lokal.

Di sisi hilir, kondisi berbeda terjadi pada pelaku usaha coffee shop di Kota Padang. Harga kopi sangrai yang dibeli dari roastery masih relatif stabil dan belum mengalami penyesuaian mengikuti kenaikan harga bahan baku.

Adi, salah satu pemilik kedai kopi di Padang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kopi dunia belum berdampak langsung pada biaya produksi di tingkat kedai. “Harga roasted beans masih stabil karena kemungkinan roastery masih memakai stok lama,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan adanya jeda waktu antara kenaikan harga di tingkat hulu dengan harga produk di hilir. Stok bahan baku yang dibeli sebelum kenaikan harga menjadi faktor utama yang menahan lonjakan biaya di tingkat kedai kopi.

Selain itu, persaingan usaha yang ketat di Kota Padang membuat pelaku usaha cenderung menahan kenaikan harga menu. Mereka memilih mengurangi margin keuntungan demi menjaga loyalitas pelanggan di tengah kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih.


Strategi bertahan ini diperkirakan hanya bersifat sementara, seiring potensi kenaikan harga dari pemasok dalam beberapa pekan ke depan. Pelaku usaha kini terus memantau perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan penyesuaian harga.

Baca Juga: BOM Run 2026 Diluncurkan, Wawako Padang Dorong Gaya Hidup Sehat dan Wisata

Di sisi lain, laporan lembaga keuangan Rabobank memproyeksikan adanya surplus produksi kopi global hingga 180 juta karung pada musim mendatang. Proyeksi ini diyakini dapat menjadi faktor penyeimbang yang menahan lonjakan harga di tingkat konsumen.

Bagi pelaku usaha di hulu, menjaga kualitas tetap menjadi kunci utama menghadapi fluktuasi pasar. Pak Datuak menegaskan bahwa kopi berkualitas tinggi akan tetap diminati meski harga mengalami perubahan.

“Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara harga petani dan kemampuan beli konsumen,” ujarnya.

Secara keseluruhan, industri kopi di Sumatera Barat saat ini berada dalam fase transisi yang penting. Sinergi antara petani, pelaku usaha, dan pasar menjadi penentu keberlanjutan komoditas kopi di tengah dinamika ekonomi global. (cr2)

Editor : Adriyanto Syafril
#ekonomi #kopi #bisnis