Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Melihat Ketekunan Eltavia Menjaga Songket di Sawahlunto, Merawat Tradisi untuk Masa Depan Keluarga

Indra Yosef • Jumat, 8 Mei 2026 | 08:35 WIB
Eltavia menenun songket secara manual di rumahnya di Desa Lunto Timur, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Ketekunannya menjaga tradisi tenun menjadi penopang ekonomi keluarga dan harapan pendidikan anak-anaknya. (INDRA YOSEF/PADEK)
Eltavia menenun songket secara manual di rumahnya di Desa Lunto Timur, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Ketekunannya menjaga tradisi tenun menjadi penopang ekonomi keluarga dan harapan pendidikan anak-anaknya. (INDRA YOSEF/PADEK)

Denting alat tenun bukan mesin terdengar nyaris tanpa jeda dari sebuah rumah sederhana di Desa Lunto Timur, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Pagi, siang, hingga menjelang malam, Eltavia, 39, duduk tekun di hadapan alat tenunnya, merajut benang demi benang menjadi songket  yang bernilai tinggi.

DI tengah gempuran industri tekstil modern yang serba cepat, Eltavia memilih bertahan di jalur tradisi. Dengan keterampilan yang diwarisi turun-temurun, ia tetap menenun songket secara manual, pekerjaan yang tidak hanya mengandalkan ketelitian tangan, tetapi juga kesabaran dan ketekunan.

Dari balik kilau benang emas yang menghiasi kain songket buatannya, tersimpan cerita tentang perjuangan seorang ibu menjaga penghidupan keluarga. Setiap helai kain yang selesai ditenun menjadi bagian dari harapan yang perlahan ia bangun untuk masa depan kedua anaknya. “Kalau kita tekun, pasti bisa,” ujar Eltavia pelan.

Kalimat sederhana itu menjadi prinsip hidup yang ia pegang sejak remaja. Sejak usia 13 tahun, ia sudah akrab dengan alat tenun. Ia belajar langsung dari ibunya, Nurina, yang kini telah menua. Dari tangan sang ibu, Eltavia tidak hanya mewarisi kemampuan menenun, tetapi juga ketangguhan menghadapi hidup.

Kini, keterampilan Eltavia semakin dipercaya. Ia mengerjakan motif-motif songket paling rumit di Dona’s Songket. Hasil tenunannya bahkan telah sampai ke tangan desainer ternama di Tanah Air.

Namun, kehidupan Eltavia tetap berjalan sederhana. Dalam sepekan, ia membawa pulang penghasilan sekitar Rp500 ribu. Dalam sebulan, pendapatannya berkisar Rp2 juta atau sedikit lebih. Dari penghasilan itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.

Anak sulungnya, Dila, kini tengah bersiap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bagi Eltavia, pendidikan anak menjadi alasan utama ia terus bertahan di depan alat tenun, meski pekerjaan itu membutuhkan waktu panjang dan ketelitian tinggi.

Di luar sana, mesin-mesin tekstil mampu bekerja lebih cepat dan menghasilkan kain dalam jumlah besar. Namun, bagi Eltavia, ada nilai yang tidak bisa digantikan mesin—ketelatenan tangan manusia yang menenun bukan sekadar kain, melainkan juga harapan.

Di rumah kecilnya di Lunto Timur, denting alat tenun itu terus hidup, mengiringi perjuangan seorang perempuan menjaga tradisi sekaligus masa depan keluarganya. (***)

Editor : Adriyanto Syafril
#Songket Sawahlunto