Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Songket Silungkang Laris, Permintaan Tinggi, Perajin Justru Beralih jadi Pendulang Emas

Indra Yosef • Rabu, 13 Mei 2026 | 09:17 WIB
Rita Kurnia, pemilik galeri INJ Songket Silungkang, menunjukkan koleksi songket di galerinya di Desa Silungkang Tigo, Sawahlunto. Di tengah tingginya permintaan pasar, pelaku usaha songket justru kesulitan mencari perajin karena banyak penenun beralih menjadi pendulang emas ilegal. (INDRA YOSEF/PADEK)
Rita Kurnia, pemilik galeri INJ Songket Silungkang, menunjukkan koleksi songket di galerinya di Desa Silungkang Tigo, Sawahlunto. Di tengah tingginya permintaan pasar, pelaku usaha songket justru kesulitan mencari perajin karena banyak penenun beralih menjadi pendulang emas ilegal. (INDRA YOSEF/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Di tengah maraknya aktivitas tambang emas ilegal di Kota Sawahlunto, industri tenun Songket Silungkang justru sedang menikmati masa keemasan. Permintaan pasar melonjak tajam dari berbagai daerah, mulai dari calon pengantin, kalangan guru, hingga para pendulang emas.

Namun, di balik tingginya permintaan tersebut, para pelaku usaha songket menghadapi persoalan serius: semakin sulit mendapatkan tenaga perajin karena banyak penenun memilih beralih menjadi pendulang emas.

“Pasar sekarang sedang bagus-bagusnya. Yang paling banyak pesan justru calon pengantin dan guru-guru,” kata Rita Kurnia, pemilik galeri INJ Songket di Batu Manonggou, Desa Silungkang Tigo, Sawahlunto, Selasa (12/5).

Rita mengaku stok lama di galerinya hampir habis terjual. Sementara stok baru sebagian besar sudah dipesan pelanggan dari berbagai daerah.

Dalam kondisi pasar yang sedang bergairah itu, omzet penjualan songket meningkat signifikan. Pelaku usaha songket bahkan mampu meraup pendapatan hingga Rp50 juta per bulan.

Namun, situasi tersebut tidak sepenuhnya menjadi kabar baik bagi industri tenun tradisional itu. Sejumlah penenun yang selama ini menjadi mitra usaha Rita memilih meninggalkan alat tenun dan bekerja di lokasi tambang emas ilegal yang tersebar di sejumlah wilayah Sawahlunto.

“Mereka lebih memilih mendulang emas dibanding masuk kerja menenun,” ujarnya.

Fenomena ini menjadi ironi bagi industri songket Silungkang. Saat kain tradisional itu sedang diburu pasar, jumlah tenaga perajin justru terus berkurang akibat demam tambang emas yang menjalar ke berbagai desa.

Menariknya, pembeli songket saat ini juga banyak berasal dari kalangan pendulang emas. Rafika Yonisi, putri Rita, mengatakan konsumennya datang dari sejumlah kawasan tambang seperti Nagari Palangki, Tanjung Ampalu, hingga Muaro Sijunjung

 

“Banyak pembeli sekarang dari kalangan pendulang emas,” katanya.

Tak hanya pasar lokal, pesanan juga datang dari Padang Panjang, Muaro Bungo, Riau, hingga sejumlah kota lain di Sumatera Barat.

Di galerinya, INJ Songket memproduksi berbagai jenis sarung, selendang, hingga baju songket dengan harga mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Untuk selendang besar, misalnya, dijual mulai Rp1,2 juta hingga Rp5 juta, tergantung motif dan tingkat kerumitan tenunan.

Songket Silungkang bukan sekadar kain tradisional. Tenun berbahan benang emas itu telah lama menjadi identitas budaya masyarakat Silungkang sekaligus menjadi salah satu penopang ekonomi warga Sawahlunto.

Data pemerintah mencatat, terdapat 1.042 UMKM perajin songket yang tersebar di empat kecamatan di Kota Sawahlunto. Industri rumahan tersebut bahkan telah menembus pasar nasional hingga luar negeri.

Beragam motif khas masih dipertahankan para penenun, mulai dari motif bertabur dengan teknik mancukia hingga corak alam seperti belah kacang yang terinspirasi dari bentuk kulit kacang.

Sebagian besar proses produksi masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), sehingga setiap lembar songket memiliki nilai seni dan tingkat ketelitian tinggi.

Kini, di tengah kilau emas dari tambang ilegal, benang emas Songket Silungkang masih bertahan menjaga denyut ekonomi sekaligus warisan budaya masyarakat setempat. (cc2)

Editor : Adriyanto Syafril
#Songket Silungkang