KABAR duka disampaikan mantan Komisioner KPU Limapuluh Kota, Ilham Yusardi, kepada Ekspres, Rabu dini hari (13/7). Ilham yang penyair dan banyak bergerak di Komunitas Tanah Rawa itu mengabarkan, bila maestro seni tradisional asal Nagari Talangmaua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, Islamidar, yang akrab disapa Tuen atau Mak Midea, telah tiada.
“Berdasarkan Informasi dari anaknya, Oyong, Bapak Islamidar, meninggal di rumahnya di Nagari Talangmaua pada Senin malam (12/7) sekitar pukul 23.30. Pihak keluarga menyampaikan maaf kepada kita semua andai ada kesalahan beliau semasa hidup,” kata Ilham Yusardi yang akrab disapa “Jimbrehe”.
Ilham bersama YM Dallu Awartha (penyair dan penyiar Harau FM), Feni Efendi (penulis), Oldi Putra (penulis), Yorizal Azra (Ketua Bawaslu), bertemu Islamidar terakhir kali pada 6 Mei 2022.
“Saat itu, kami lihat, beliau juga sudah sepuh. Semoga Tuen Islamidar Khusnul Khotimah. Namanya harum di kalangan pegiat seni, wabilkhusus seni tradisional, musik tiup sampelong,” kata Ilham.
Menurut Yon Erizon, menantu Islamidar, jenazah mertuanya sudah dimakamkan di Kampung Melayu, Jorong Talang, Nagari Talangmaua, Rabu (13/7) sekitar pukul 11.30 WIB. Jenazah Islamidar dimakamkan di sebelah pusara istrinya, almarhumah Tati Afrida.
“Terima kasih atas ucapan berlangsung kawa dan doa atas kepergian mertua laki-laki kami, Bpk. Islamidar, 81 tahun, menghadap Allah SWT. Beliau adalah Sang Maestro Seni Tradisi Minangkabau. Gelar Maestro diberikan oleh Pemerintah RI Tahun 2007. Beliau juga seorang ulama dan guru yang telah melahirkan ribuan murid,” kata Yon Erizon yang mantan Pemimpin Redaksi Haluan itu.
Pada Januari 2009 silam, Padang Ekspres pernah melakukan wawancara khusus dengan Islamidar. Waktu itu, Islamidar bersama kelompok musik tradisional “Talang Pitulo”, sedang menghibur tamu dan undangan yang menghadiri pesta pernikahan warga di Nagari Simpangsugiran, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota.
Islamidar yang sebelah matanya mengalami kebutaan sejak kecil,tertarik dengan dunia seni, bukan hanya karena seni itu indah. Namun karena Islamidar lahir dan besar dari keluarga seni. Ibunya, Rabiana Ma’ruf, jago gambus dan pelantun dendang sampelong. Sedangkan ayahnya, Jalaludin, piawai memainkan biola.
Begitu pula dengan Etek (Adik Ibu) dan Pak Etek (suami dari adik ibu) Islamidar, yakni pasangan Mardiana Ma’ruf dan Dahlan Abbas, merupakan seniman tradisional ternama di Talangmaua.
Sebelum mereka, kakek dan nenek Islamidar, juga orang seni yang sering menghibur masyarakat setempat. Darah seni keluarga itulah yang mengalir di tubuh Islamidar. Islamidar sendiri, tidak pernah belajar seni musik secara formal.
Sebab, pada zamannya, belum ada sekolah musik. Dia belajar secara autodidak dan banyak dibimbing oleh eteknya, Mardiana Ma’ruf. Kemudian, Islamidar bergabung denggan Sanggar Seni Sofyani Bukittinggi.
Dari pengalaman di sanggar inilah, Islamidar bisa membuat membuat not angka dan not kepala. Bahkan, kalau ada orang yang sedang memainkan alat musik, Islamidar bisa menebak dia main di mana. Apakah di tangga C atau tangga lain. “Namun khusus untuk yang terakhir ini, lebih kepada insting,” kata Islamidar.
Islamidar bisa memainkan banyak alat musik. Tapi lebih terkenal karena kesenian sampelong. Menurutnya, kesenian sampelong mirip dengan kesenian tradisonal saluang yang sering menghiasi malam-malam anak Minang.
Bentuk seninya sama-sama berupa pengucapan syair atau pantun tentang kemiskinan, hidup yang pahit, cinta yang gagal, dan nasib yang perih!
“Sampelong itu mirip dengan saluang. Jika ada bedanya, hanya setipis kulit bawang saja. Yakni pada instrumen yang digunakan untuk mengiringi pantun. Sisanya, nyaris tak jauh berbeda. Jika saluang panjangnya sekitar 60 sampai 70 sentimeter. Sedangkan sampelong cuma 40 hingga 50 sentimeter,” kata Islamidar.
Dia menjelaskan, empat lubang di batang saluang, semuanya berfungsi. Sementara dari empat lubang di batang buluah sampelong, satu diantaranya tidak fungsional, karena hanya digunakan untuk improvisasi atau ornamesi. Jadi, saluang dan sampelong itu tak jauh berbeda.
Meski beda sampelong dengan saluan hanya setipis kuling bawang, namun tidak semua tukang saluang bisa memainkan sampelong. Karena nada sampelong itu mirip dengan nada slendro dalam kesenian tradisional Jawa. “Hanya saja, pada sampelong, ada dua nada turun seperempat, yaitu nada la dan mi,” kata Islamidar.
Dia pun meyakini, sampelong adalah seni tradisi Minangkabau yang serumpun dengan kebudayaan Suku Tengger (Jawa Timur), Suku Baduy (Banten), Suku Bugis (Sulawesi Selatan), Suku Dayak (Kalimantan), bahkan Suku-Suku di beberapa wilayah di Thailand. Hanya saja, Islamidar heran, seni tradisi ini tidak banyak dipelajari anak-anak muda Minangkabu.
“Anak-anak muda kita, kini asing dengan kesenian sendiri. Untung saja, sekarang ada lagu-lagu Minang yang cukup laris. Sehingga menyaingi musik liar yang dekat dengan iblis, seperti disko dan triping itu. Dan untung saja, sekolah-sekolah seni, seperti STSI (kini ISI Padangpanjang), masih mengajarkan seni tradisi. Kalau tidak, kesenianan seperti sampelong ini, bisa hilang ditelan zaman,” kata Islamidar.
Saat itu, Islamidar juga sempat berharap, sekolah atau perguruan tinggi seni, mempertahankan riset di kampung-kampung. Karena menurutnya, kalau riset tidak dipertahankan, apalagi sampai berani merubah nada, itu akan membuat rusak. Tidak hanya merusak sekolah seni, namun juga kesenian itu sendiri.
“Sekolah seni itu harus mengajarkan yang asli. Karena, kita punya asli, jangan dihilangkan yang aslinya. Untuk itu, harus ada tangan besi yang mengelolah sekolah seni. Pemerintah dan orang kebudayaan, harus menyokong sekolah seni,” kata Islamidar.
Bertahun sebelum menutup mata, Islamidar masih mewarisi “ilmunya” kepada anak-anak dan generasi muda di kampungnya. Meski hanya berbekal SK penjaga Sekolah Dasar, tapi Islamidar tetap mengajarkan seni dan agama kepada generasi muda. Karena dia yakin betul, dengan seni hidup menjadi indah dan dengan agama hidup jadi lebih terarah.
“Saya mengajar anak-anak tergantung situasinya. Kalau pelajaran seni, saya pakai alat-alat musik. Tapi kalau pelajarannya agama, saya akan bikin lagu yang sesuai dengan materi pelajaran. Biar siswa lebih tertarik saat belajar. Karena musik itu bisa membantu siswa memahami pelajaran. Musik akan membuat anak tambah cerdas. Karena disamping harus mengasah otak kanan, otak kiri anak juga harus diisi. Musiklah yang mengisinya,” kata Islamidar.
Kini, Islamidar, telah tiada. Menurut Adri Sandra, sastrawan pemegang rekor penulisan puisi dan pantun terpanjang di Indonesia, kepergian Islamidar atau Mak Midea, merupakan kehilangan bagi dunia seni tradisi. “Dalam seratus tahun, barangkali, sulit ditemukan maestro seni seperti Islamidar atau Mak Midea ini,” kata Adri Sandra.
Sastrawan asal Padangjapan, Limapuluh Kota ini menyebut, Islamidar atau Mak Midea, dikenal sebagai pemain musik tradisi, Talempong, Sampelong, dan lain-lai, Beliau pernah diundang dan tampil diberbagai negara luar, Asia mau pun Eropa. Mengoleksi banyak penghargaan, baik dari pemerintah Indonesia dan Eropa.
“Mak Midea juga dikenal orang yang bisa berbicara dalam berbagai logat bahasa yang ada di daerah Minangkabau dan Malaysia . Kita kehilangan Sang Maestro , seorang guru bagi banyak orang. Selamat jalan Mak , semoga Allah SWT memberi tempat terbaik, tempat maha indah, damai dan tenang di sisi-Nya. Sekali lagi , selamat jalan Seniman yang unik dan luar biasa,” kata Adri Sandra. (*) Editor : Novitri Selvia