PADEK.JAWAPOS.COM-Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Payakumbuh Tahun 2025-2045 masih dibahas pemerintah kota dan DPRD setempat. Dalam pembahasan itu, Pj Wali Kota Suprayitno sempat membeberkan hasil analisis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang sektor unggulan yang menjadi potensi Payakumbuh, dan hasil penelitian Unand terkait dampak pembangunan jalan tol Sumbar-Riau terhadap perekonomian masyarakat di Payakumbuh.
PJ WAKO Suprayitno yang nota-benenya adalah pejabat di Kemendagri menyampaikan hasil analisis BRIN, untuk mengomentari pandangan Fraksi PKS DPRD Payakumbuh terhadap RPJPD yang disampaikan pemerintah kota. Dalam pandangannya, Fraksi PKS mendorong pemerintah kota menjadikan Kota Payakumbuh dari kota perlintasan atau transit menjadi kota destinasi atau tempat tujuan utama.
Pj Suprayitno mengaku sependapat dengan pandangan Fraksi PKS tersebut. “Tentu ini juga merupakan pemikiran hari ini dan tantangan tersendiri. Agar semua potensi daerah baik dari potensi alam maupun potensi SDM yang ada di Payakumbuh bisa di optimalkan ke depannya dan berefek pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Setelah itu, Suprayitno menyampaikan hasil analisis BRIN dan Bappeda tentang sektor unggulan yang menjadi potensi Payakumbuh. BRIN dan Bappeda yang menggunakan metode Location Quotient (LQ), Shift Share (SS), dan Tipology Klassen, mengungkapkan ada empat sektor unggulan yang menjadi potensi Kota Payakumbuh. Yaitu sektor kontruksi, sektor transportasi dan pergudangan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, serta sektor jasa pendidikan.
“Analisis ini melihat potensi berdasarkan pertumbuhan dan kontribusi sektor tersebut dalam sektor pembangunan Kota Payakumbuh yang terangkum dalam PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Dengan analisis lebih lanjut menggunakan metode BCG (Boston Consulting Group), keempat sektor itu termasuk ke dalam kategori star. Artinya pertumbuhan dan kontribusi sektor ini tinggi terhadap pembangunan daerah dan dapat dijadikan fokus pembangunan daerah. Sehingga dapat mendongkrak perekonomian masyarakat,” kata Suprayitno.
Dia menyebutkan, berdasarkan hasil analisis BCG yang dilakukan BRIN dan Bappeda, diketahui bajwa ini sektor perdagangan besar dan eceran di Kota Payakumbuh, termasuk kategori cash cow. Artinya kontribusi terhadap perekonomian tinggi, namun pertumbuhannya rendah. Sehingga direkomendasikan oleh BRIN agar pemerintah daerah dapat merumuskan regulasi/ kebijakan untuk mengoptimalkan retribusi yang dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD).
“Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Bappeda telah melakukan kerjasama dengan Tim Peneliti Unand Padang, untuk melakukan riset di pusat pertokoan Kota Payakumbuh yang selama ini pemanfaatannya yang belum optimal. Diupayakan dengan segala potensi yang dimiliki dan penataan ulang yang lebih efektif, bisa menggerakkan perekonomian masyarakat. Sehingga diharapkan sektor perdagangan ini dari kondisi eksisting pada kategori cash cow dapat ditingkatkan menjadi kategori star,” beber Suprayitno.
Dampak Tol Sumbar-Riau Terhadap Ekonomi
Tak hanya menyampaikan hasil analisis BRIN dan Bappeda terhadap sektor unggulan yang menjadi potensi Payakumbuh. Pj Wali Kota Suprayitno dalam proses pembahasan RPJPD 2025-2045 di gedung DPRD, juga menyampaikan hasil penelitian Universitas Andalas (Unand) Padang, terkait dampak pembangunan jalan tol Sumbar-Riau, terhadap perekonomian masyarakat di Payakumbuh.
Hasil penelitian Unand ini disampaikan Suprayitno, untuk menanggapi saran yang disampaikan Fraksi Nasdem Bintang Perjuangan. Fraksi gabungan Partai Nasdem, PBB, dan PDI-Perjuangan ini melalui juru bicaranya Syafrizal, mengatakan, pemerintah Pusat sangat giat dalam pembangunan jalan tol Sumbar- Riau.
“Bisa jadi sepuluh tahun kedepan, Kota Payakumbuh tidak akan menjadi Kota Perlintasan lagi, Kami bersaran Payakumbuh diproyeksikan menjadi Kota Pendidikan,”kata Syafrizal.
Menanggapi saran Syafizal ini, Suprayitno menyampaikan hasil penelitian Universitas Andalas tahun 2023 dengan judul penelitian Antisipasi Daerah Terhadap Dampak Pembangunan Jalan Tol Sumbar Riau Terhadap Perekonomian Masyarakat Di Kota Payakumbuh. Dimana hasil penelitian ini memberikan salah satu rekomendasi, yaitu pendidikan dapat menjadi penopang utama ekonomi. Karena itu, pemerintah daerah disarankan menguatkan lagi sekolah dan kampus unggulan.
Supriyatno menambahkan, hasil penelitian Unand juga mendorong sektor pendidikan yang saat ini sedang dalam pertumbuhan yang baik yang didukung oleh berkembangnya sekolah-sekolah pesantren dengan sangat baik di Payakumbuh. Pemerintah perlu meningkatkan perhatian pada bidang pendidikan ini, ikut memberikan dukungan, karena melalui jalur pendidikan, maka orang akan terus tinggal di Kota Payakumbuh hingga mereka lulus.
Hal ini sangat berkontribusi besar terhadap perekonomian Kota Payakumbuh. Termasuk mendorong pengembangan Kampus Unand yang sudah ada saat ini agar pemerintah dapat proaktif menggandeng Kampus Unand dapat membuka lebih banyak program studi di Kampus Payakumbuh. Kemudian, Pemko Payakumbuh juga direkomendasikan mempertimbangkan pengembangan layanan Perguruan Tinggi Vokasi sesuai dengan potensi daerah.
“Program yang sudah berjalan saat ini telah didirikannya Fakultas Tata Boga Universitas Negeri Padang di kawasan Padang Kaduduak, yang mendukung potensi sektor penyediaan makan minum di Kota Payakumbuh. Pendidikan vokasi ini menjadi program untuk menciptakan lebih banyak SDM unggul/ mempunyai keterampilan yang siap bekerja, dalam upaya mengoptimalkan bonus demografi dan menyongosong Indonesia Emas 2045,” kata Suprayitno mengutip hasil penelitian Unand. (FAJAR R VESKY—Payakumbuh)
Editor : Novitri Selvia