Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menelisik Sejarah Surau Simauang di Sijunjung, Pusat Ilmu dan Simpan Manuskrip Peradaban Kejayaan Islam

Yulicef Anthony • Rabu, 12 Maret 2025 | 13:30 WIB

MENYIMPAN SEJARAH: Surau Simauang terlihat sudah tua. Kondisi fisik surau yang lapuk dan rusak memerlukan perhatian serius. (YULICEF ANTHONY/PADEK)
MENYIMPAN SEJARAH: Surau Simauang terlihat sudah tua. Kondisi fisik surau yang lapuk dan rusak memerlukan perhatian serius. (YULICEF ANTHONY/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah pesatnya modernisasi, Kabupaten Sijunjung, menyimpan sebuah harta karun sejarah yang tak ternilai yakni Surau Simauang.

SURAU tua peninggalan Syekh Malin Bayang ini bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan juga gudang ilmu yang menyimpan 88 kelompok manuskrip kuno beraksara Arab-Melayu. Manuskrip-manuskrip ini menjadi saksi bisu kejayaan Islam di Ranah Minangkabau pada abad ke-19.

Terletak di Jorong Tapian Niaro, Nagari Sijunjung, Surau Simauang merupakan salah satu situs cagar budaya yang patut dikunjungi. Hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kabupaten

Sijunjung, surau ini pernah menjadi pusat pendidikan Islam yang ramai dikunjungi oleh penuntut ilmu dari berbagai daerah. Pada masa kejayaannya, sekitar tahun 1800-an, Surau Simauang menjadi tempat menimba ilmu agama, mulai dari fiqih, tauhid, tafsir, hingga ilmu falaq dan kesehatan.

Syekh Malin Bayang, pendiri Surau Simauang, adalah murid dari Syekh Ahmad, seorang ulama terkemuka di Kampung Calau, Nagari Muaro. Selain berguru pada Syekh Ahmad, Syekh Malin Bayang juga menimba ilmu dari ulama-ulama besar seperti Syekh Ghaib Padang Ganting, Syekh Talawi, dan Syekh M. Yatim.

Semua guru-gurunya ini menganut mazhab Tareqat Syatariyah, yang turut memengaruhi corak keilmuan di Surau Simauang. Salah satu kekayaan terbesar Surau Simauang adalah koleksi manuskrip kuno yang tersimpan di dalamnya.

88 kelompok manuskrip ini mencakup berbagai bidang ilmu, seperti tafsir, hadis, fiqih, tasawuf, tauhid, ilmu falak, hingga pengobatan tradisional. Salah satu yang paling berharga adalah Tafsir Jalalen asli yang ditulis pada kertas buatan Eropa abad ke-14, menggunakan tinta getah dan sampul kulit unta.

Menurut A. Malin Bandaro Tuangku Mudo, pewaris sekaligus Imam Surau Simauang, manuskrip-manuskrip ini berasal dari para syekh dan ulama terdahulu yang dibawa dari berbagai penjuru negeri, termasuk Arab. Sebagian lainnya ditulis langsung oleh Syekh Malin Bayang.

“Ini adalah warisan tak ternilai yang harus dijaga,” ujarnya.
Namun, kondisi fisik manuskrip dan bangunan surau itu sendiri memprihatinkan. “Atap surau yang berkarat, dinding kayu yang lapuk, dan lantai yang rusak membuat bangunan ini tidak layak digunakan,” ujarnya.

Saat hujan, air merembes masuk ke dalam surau, mengancam kelestarian manuskrip-manuskrip kuno tersebut. Meski kondisinya memprihatinkan, kegiatan keagamaan dan pengajian tetap berlangsung di kompleks Surau Simauang.

Untuk kegiatan ibadah sehari-hari, jamaah menggunakan Surau Baru yang dibangun di dekat surau tua. “Kami berusaha mempertahankan tradisi keagamaan di sini, meski dengan segala keterbatasan,” kata Tuangku Mudo.

Ia juga mengungkapkan kekecewaannya atas kurangnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian Surau Simauang. “Kami berharap ada pihak yang bersedia membantu membangun pondok pesantren atau yayasan di sini. Kami siap menghibahkan tanah untuk kepentingan tersebut,” tegasnya.

Yasir Hamdi Malato, Ketua Badan Musyawarah Nagari (BMN), mengakui bahwa upaya untuk menghidupkan kembali kejayaan Surau Simauang masih belum optimal. “Kami telah melakukan berbagai langkah, tetapi hasilnya belum maksimal. Kami membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dan pihak terkait,” ujarnya.

Surau Simauang bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol kejayaan Islam di Minangkabau. Dengan koleksi manuskrip kuno yang dimilikinya, surau ini berpotensi menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan berbasis Islam. “Kami ingin Surau Simauang kembali menjadi tempat menimba ilmu agama dan pusat kajian Islam,” harap Tuangku Mudo.

Di tengah ancaman kerusakan fisik dan keterbatasan dana, Surau Simauang tetap berdiri tegak sebagai penjaga warisan ilmu dan sejarah. Semoga upaya pelestariannya mendapat dukungan dari berbagai pihak, agar harta karun ini tidak hilang ditelan zaman. (YULICEF ANTHONY— Sijunjung)

Editor : Novitri Selvia
#Surau Simauang #88 kelompok manuskrip kuno #Syekh Malin Bayang #Manuskrip Peradaban Kejayaan Islam