PADEK.JAWAPOS.COM-Performa gemilang dan torehan prestasi para atlet menghadirkan kebanggaan. Tak hanya itu, persona mereka mendongkrak popularitas. Itu menjadi magnet bagi brand maupun sponsor untuk menggaet atlet sebagai “wajah” produk.
TIDAK sedikit di antara atlet-atlet tanah air yang menjadi sosok idola, dengan popularitas tak kalah dari artis dan selebriti. Saat mereka tampil di acara publik, penggemar antusias menyambut.
Begitu pun di ranah daring, akun media sosial mereka memiliki lebih dari 1 juta followers. Misalnya, penjaga gawang Borneo FC Nadeo Argawinata dan pebulu tangkis Anthony Sinisuka Ginting.
Nadeo yang sering masuk lineup timnas punya 1,8 juta pengikut di Instagram, sedangkan Ginting 1,5 juta followers. Keduanya cukup laris membintangi iklan dan mendapat sponsorship.
Nadeo mengungkapkan, ketika ada tawaran endorse yang masuk, kiper 28 tahun asal Kediri itu tidak langsung menerimanya. Dia harus memastikan beberapa hal terlebih dahulu.
Pertama, brand yang memberi tawaran. Apakah produknya jelas dan berkualitas? Kedua, dia harus melihat jadwal latihan dan pertandingan.
“Kalau endorse atau tawaran iklan yang masuk itu mengganggu jadwal latihan atau pertandingan, sudah pasti saya tolak,” kata Nadeo kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres).
Dia juga mempertimbangkan momen. Misalnya, jika pengambilan gambar untuk iklan saat jadwal latihan berlangsung. Atau, mengunggah postingan ketika tim baru menelan kekalahan.
Hal-hal seperti itu pantang dilakukan oleh Nadeo. “Kalau momen syuting atau meng-upload postingan saya anggap kurang pas, ya saya tidak bisa menerima tawaran itu,” ujarnya.
Dia selektif terkait iklan. “Karena kami ini adalah atlet, bukan selebgram. Sebagai atlet, kami nggak bisa sembarangan (menerima iklan). Banyak yang dipertimbangkan,” tegasnya.
Nadeo antara lain digaet untuk produk sarung tangan kiper, minuman isotonik, kopi instan, dan pembersih wajah.
Awalnya Canggung, Kini Terbiasa Syuting
Bagi Ginting -sapaan akrab Anthony Sinisuka Ginting-, kepercayaan dari brand yang menawarkan sponsorship atau menjadikan bintang iklan merupakan buah dari performa di lapangan.
“Itu pastinya. Kalau saya bilang, bonus sih. Maksudnya, apa yang kita capai di turnamen, itu jadi daya tarik juga untuk brand,” paparnya saat diwawancarai Jawa Pos di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (7/5).
Atlet kelahiran Cimahi itu mulai mendapatkan brand bermula pada Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Saat itu, Ginting meraih medali perunggu. “Awalnya lewat agensi. Setelah Asian Games 2018 itu awal mula ada tawaran beberapa brand,” lanjutnya.
Hal baru dan unik yang dirasakan Ginting adalah saat syuting iklan. “Kan ada akting lah segala macam. Pas awal awkward, canggung ketemu banyak orang,” ungkapnya, lantas tertawa. Tapi, makin lama dia makin terbiasa dengan situasi itu.
Dalam penjajakan dengan brand, Ginting memperhatikan detail produk yang dipromosikan. Utamanya, dia lebih senang jika berkaitan dengan olahraga dan penunjang kesehatan. Sebab, dekat dengan profil dan aktivitas kesehariannya.
Karenanya, saat ini, Ginting terikat kontrak dengan beberapa brand, antara lain, salah satu bank BUMN, air mineral, apparel bulu tangkis, hingga sandal kesehatan.
Pebulu tangkis 28 tahun itu menuturkan, ada kontrak mulai 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, hingga 2 tahun. “Rata-rata segitu. Tergantung mereka brand campaign-nya bagaimana,” ungkap peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 tersebut.
Ginting juga memiliki spesifikasi khusus terkait brand. “Ya, pasti ada. Waktu itu sempat ada bermacam penawaran. Misalnya, yang berbau alkohol dan semacamnya itu ditolak,” sebutnya.
Nilai Kontrak Berdasar Ranking, Naikkan Motivasi Atlet
Pebulu tangkis muda kian termotivasi untuk meraih prestasi. Sebab, semakin sering juara otomatis menaikkan ranking di BWF. Nah, dengan ranking yang semakin tinggi, nilai kontrak bakal makin naik pula.
Lanny Tria Mayasari, misalnya. Duet Siti Fadia Silva Ramadhanti di ganda putri itu saat ini berada di ranking ke-26 BWF. Lanny mendapat kontrak dari apparel bulu tangkis.
Baca Juga: 9 Hal Kecil yang Sering Disepelekan Tapi Membuat Introvert Cemas Berat
“Untuk nilainya ya cukup lah. Dari mereka pakai acuan ranking, misalkan basic-nya berapa. Nanti kalau bisa tembus di 20 besar berapa, nanti 15 besar beda lagi,” beber atlet 23 tahun itu.
Sementara itu, tunggal putri Putri Kusuma Wardani mendapat sponsor dari apparel yang berbeda dengan Lanny. Kontrak untuk dua tahun ke depan. “Mereka menawarkan dan bidding dilihat dari ranking terakhir kita,” ucap atlet ranking 11 BWF itu.
Pebulu tangkis 22 tahun itu mengungkapkan, pemasukan dari sponsorship cukup menunjang. “Pas sama brand sebelumnya untuk renovasi rumah orang tua,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Ginting. “Lumayan lah. Bisa buat nambah-nambah segala macam. “Tapi kalau secara persentase sih gak ngitung ya,” katanya, disambung tawa.
Nominal dari Iklan Cukup Menunjang
Nadeo tidak menampik kalau nominal yang dihasilkan dari iklan cukup lumayan. “Bersyukur, endorse pun sangat membantu (pemasukan). Kadang saat saya dapat endorse, pihak klub juga mendapat benefit dari sponsor yang memakai jasa saya,” beber pemain yang sudah tampil dalam 28 laga musim ini tersebut.
Soal tarif, dia menuturkan ada patokan rate tersendiri untuk iklan yang disertai syuting atau mengunggah postingan.
“Saya punya rate, brand juga pasti punya rate harga sendiri. Kalau sudah ketemu (harganya), ya deal,” ujarnya tanpa bersedia menyebut berapa rate yang dipatok.
Berkebalikan dengan Ginting, Nadeo tidak masalah berhadapan dengan kamera. “Sudah bisa mengatasi rasa grogi dan semacamnya. Pokoknya, asal brand-nya jelas, aman kalau sama saya,” katanya. lantas terbahak.
Ayah satu putri itu mengungkapkan, pemasukan dari iklan untuk kebutuhan keluarga. “Kalau buat investasi, itu saya bahas dulu sama istri. Termasuk dengan orang tua juga. Yang jelas harus digunakan sebaik mungkin,” pungkasnya. (gus/raf/nor/jpg)
Editor : Novitri Selvia