Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Cerita Anggota DPRD tentang Kecelakaan Longboat di Selat Sikakap: Dua Mesin Mendadak Mati, Pilih tak Gunakan Tandu

Arif Rahmad Daud • Rabu, 16 Juli 2025 | 11:15 WIB

MOBILISASI KORBAN: Evakuasi korban kecelakaan longboat di Selat Sikakap yang sudah selamat untuk mendapat penanganan lebih lanjut di RSUD Mentawai Selasa (15/7) sore.(HUMAS KANTOR SAR MENTAWAI)
MOBILISASI KORBAN: Evakuasi korban kecelakaan longboat di Selat Sikakap yang sudah selamat untuk mendapat penanganan lebih lanjut di RSUD Mentawai Selasa (15/7) sore.(HUMAS KANTOR SAR MENTAWAI)

PADEK.JAWAPOS.COM-Tangis haru keluarga dan kerabat pecah saat menyambut kedatangan korban kecelakaan longboat di Selat Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, ketika Kapal Basarnas KN Ramawijaya bersandar di Dermaga Tuapejat, Selasa (15/7), pukul 14.30 WIB.

Lebih kurang Empat unit ambulans dan satu mobil Basarnas dikerahkan untuk memobilisasi para korban.

KORBAN yang pertama kali diturunkan dari kapal KN Ramawijaya yakni anggota DPRD Kepulauan Mentawai Isar Taileleu. Dipandu wakil Bupati Jakob Saguruk.

Meski dalam kondisi tangan dan kaki yang penuh luka akibat terkena karang, Isar memilih tidak menggunakan tandu untuk dibawa ke dalam ambulans yang sudah standby sejak awal.

Agaknya, dia tidak ingin terlihat lemah di depan putra dan putrinya yang sama-sama menjadi korban kecelakaan longboat tersebut.

Sementara, Tesa sang putri sudah terbaring lemah dan terpaksa ditandu ke luar dari kapal KN Ramawijaya menuju ambulans. Sedangkan Toroi, masih cukup kuat untuk berjalan dari kapal menuju mobil ambulan.

Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana Samaloisa (RWS) dan wakilnya Jakob Saguruk ikut terharu menyaksikan kejadian tersebut. RWS mengaku, sedikit pun tidak menyangka akan kejadian tersebut.

Apalagi, kedatangannya ke Sikakap dalam rangka meninjau pekerjaan pembangunan jalan. Diakuinya, kondisi cuaca cukup ekstrem saat itu.

Namun, karena hari itu agenda rapat bersama dengan anggota DPRD, dirinya tetap mengupayakan untuk bisa hadir ke Tuapejat. Bahkan, sebelum berangkat, dirinya sempat menyarankan kepada Isar agar berangkat menggunakan kapal KM Pulau Mego ke Tuapejat.

“Namun, karena longboat milik Dinas PUPR yang berencana lebih dulu berangkat, akhirnya dia pun ikut serta membawa anak-anak langsung ke longboat yang lebih dulu berangkat dari kapal Bupati KM Pulau Mego dari penginapan Lestari, Sikakap,” katanya.

KM Pulau Mego yang ditumpangi RWS juga sempat berpapasan di sekitar perairan Mangaungau setelah berangkat dari Sikakap pukul 08.14 WIB. Jumlah penumpang di dalam longboat saat itu sudah lebih dari 15 orang.

Bahkan, longboat tersebut, juga akan berhenti di Guluk-guluk untuk menjemput Simbek Kepala Bidang Pengembangan Sumberdaya Manusia BKPSDM Mentawai.

“Setelah menyeberang Selat Sikakap, kami sengaja berhenti di Dusun Sao, Desa Katiet, Kecamatan Sipora Selatan untuk menunggu rombongan longboat yang ditumpangi pak Isar dan rekan-rekan. Barulah, pada sore harinya, setelah tujuh orang selamat di Mapinang, kami mendapat kabar kecelakaan tersebut,” katanya.

Walaupun begitu, dia mengaku, tetap bersyukur karena seluruh penumpang selamat. Hal ini, tidak terlepas dari doa dari seluruh masyarakat Mentawai.

Isar mengakui, kondisi cuaca di Mentawai memang sewaktu-wakatu dapat berubah. Apalagi, saat menyeberang Selat Sikakap. Terkadang dari Sikakap cuaca bagus. Namun, tiba-tiba saat memasuki Selat Sikakap bisa datang angin dan gelombang besar.

“Dari awal berangkat kondisi cuaca masih stabil. Namun, selang beberapa menit memasuki Selat Sikakap atau ujung Pulau Pagai Utara menuju Pulau Sipora, dua unit mesin longboat kapasitas 40 PK mati mendadak. Sehingga, hanya satu yang beroperasi. Akibatnya, longboat tak mampu mengimbangi deras arus dan ombak yang datang,” terang dia.

Longboat yang semula masih stabil, langsung diterjang ombak dan dipenuhi air secara tiba-tiba, sekitar pukul 11.30 Wib.

Dari dalam longboat, Isar bersama penumpang menyepakati agar operator dan sejumlah penumpang yang sanggup berenang untuk mencari tepian terdekat. Pilihan tepian terdekat saat itu, hanya Ujung Tanjung

Dusun Mapinang, Desa Saumanganya, ujung utara Pulau Pagai.
Tujuh orang tersebut adalah Peterson dan rekannya, Marlon, Nensyah Tasirileleu, Emilia Contesa, Marhen Saleleubaja, Gunawan Toroi.

Mereka baru sampai di tepi Tanjung Mapinang sekitar pukul 17.30 WIB. Sebelum berenang mereka dibantu dengan menggunakan papan atau tenda longboat yang sengaja dilepas sebagai pengganti pelampung.

Kepala Dusun Mapinang Sarli Saogo mengatakan, korban pertama selamat pada hari Senin (14/7), sekitar pukul 17.30 WIB. Kemudian Selasa (15/7) sekitar pukul 07.06 WIB, pihaknya mendapat kabar ditemukan kembali sebanyak 10 orang korban selamat di perairan Dusun Guluk-Guluk.

Mereka terbawa arus gelombang ke Selatan atau arah ke Sikakap dengan cara bertahan dengan puing-puing longboat. Sekitar pukul 11.00 WIB korban terakhir, Gunter Saleleubaja juga ditemukan warga di perairan Dusun Mangaungau dan dibawa ke Puskesmas Sikakap.

Gunter diberangkat dari Sikakap menuju Tuapejat menggunakan perahu RIB 02 milik SAR Kepulauan Mentawai. (ARIF RAHMAD DAUT—Mentawai)

Editor : Novitri Selvia
#Isar Taileleu #DPRD Kepulauan Mentawai #Rinto Wardana Samaloisa #Selat Sikakap #korban selamat #kecelakaan longboat