PADEK.JAWAPOS.COM-Zam mengatur agar sound tidak terdengar kencang di luar terop dan kepada para band yang diundang sedari awal dia transparan hanya mampu membayar “harga teman.” Para tetangga mengapresiasi, hanya satu yang kecewa karena sudah kadung menyiapkan saweran untuk dangdutan.
BAGAIMANA caranya agar sound band metal di sebuah acara di tengah kampung tak sampai memicu kebisingan. Itulah salah satu tantangan besar yang dihadapi Azam Augy Katalistyo untuk mewujudkan impian besarnya: pernikahan yang menghindar dari anggapan “semetal-metalnya dirimu, semua orang akan dangdutan saat menikah.”
Agam tentu sama sekali tak bermaksud mengklaim bahwa musik tertentu lebih baik dari musik lainnya. Dia hanya ingin pada hari tersakral dalam hidupnya yang dilangsungkan di Tandes, Surabaya, melambangkan kesehariannya sebagai musisi yang aktif di skena underground.
“Kebetulan aku ngerti soal sound. Jadi, di luar terop, musiknya tidak akan terdengar kencang. Aku juga disiplin, jam 10 malam harus selesai acaranya,” beber Azam kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres) yang menghubunginya pada Minggu (27/7).
Sound beres, bukan berarti tantangan selesai. Rossi Dwi Tantrie, pujaan hatinya yang kebetulan wedding singer, memang mendukung penuh idenya merealisasikan “pernikahan metal.”
Tapi, ada mertua dan orang tua yang tentunya juga harus diyakinkan dulu tentang konsep yang “nggak umum” itu. “Alhamdulillah, mertua dan orang tuaku orangnya fair. Asal nggak mengganggu, diizinkan,” ungkapnya.
Masih ada aral lainnya. Tabungan alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, itu sekitar Rp 30 juta saja. Padahal, namanya pernikahan, banyak sekali yang harus diurus.
Terutama untuk fee para band metal yang akan dia undang. Untungnya, karena aktif di skena yang sama, baik sebagai musisi maupun penikmat, Azam kenal banyak band yang bisa ditawar dengan “harga teman”. ‘
Terpilihlah Tikam, Flowdown, Ocean, Jeroan Bandeng, hingga RKK. Band-band yang kebetulan juga berjasa bagi dia dan komunitasnya. “Aku bersyukur semua dukung penuh karena memang aku transparan bilang tidak ada budget besar untuk menghadirkan mereka,” katanya.
Khawatir Kena Prank
Mendukung sih mendukung. Tapi, bassis Tikam Ahmad Badaruzzaman mengaku kalau awalnya sempat bingung ketika diundang main di acara nikahan, sesuatu yang bukan saja tak pernah dilakoni Tikam, tapi juga tak terbayangkan. “Awalnya sempat ragu saat ditawari, takutnya di-prank. Karena saya sendiri juga sering jahil hahaha,” paparnya.
Untuk persiapan, pria yang akrab disapa Boker itu mengaku sama saja dengan panggung-panggung underground biasanya. Bahkan, H-1 sebelum tampil, vokalis Tikam tidak bisa hadir. “Akhirnya digantikan vokalisnya The Chance We Created, Catur. Kami tidak latihan karena main lagu sendiri,” ucapnya.
Apresiasi Tetangga
Sampailah ke hari yang ditunggu-tunggu. Ternyata, tutur Boker, dari kelima band, semua masih sempat kikuk untuk tampil. Maklum, ini pengalaman pertama mereka menjadi “wedding band”.
Biasa tampil di hadapan para penikmat musik keras, dengan atribut wajib t-shirt hitam, sekarang di depan para tamu yang mayoritas berbatik untuk yang pria dan berbusana muslimah untuk yang perempuan.
“Akhirnya karena Tikam ini personelnya easy going, cenderung santai dengan apapun, kami menginisiasi tampil duluan. Ternyata tamu-tamunya asyik, meskipun memang tidak moshing karena terbatasnya lokasi. Tapi seru, pengalaman pertama,” terang Boker.
Suasana resepsi pernikahan yang berlangsung pada 18 April itu pun langsung cair. Satu per satu band metal yang diundang beraksi. Tetap kencang, dengan lirik tak kalah kencangnya khas skena underground.
Dan, ternyata para tetangga sekitar rumah mertua Azam yang menjadi lokasi resepsi juga mengapresiasi. “Cuman ada satu orang saja katanya ’tiwas aku ngijolno duwek cilik gawe nyawer, tibakno gak dangdutan (aku kadung tukar uang kecil untuk nyawer, ternyata nggak ada dangdutan’,” tutur Azam seraya tertawa.
Seperti direncanakan, resepsi nikahan ala underground itu selesai pukul 22.00. Azam yang juga sempat tampil bareng sang istri pun berharap hajatannya itu bisa menyemangati para penikmat musik keras lain untuk tidak takut mengekspresikan diri. Bahwa nikahan juga bisa metalan kok.
“Belakangan saya akhirnya sering dimintai pendapat dari teman-teman yang mau bikin acara wedding serupa. Tanya bagaimana persiapannya. Alhamdulillah, menginspirasi,” katanya. (*/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia