Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Ekspedisi ke MT Talamau 2.982 Mdpl: Gunung Emasnya Nabi Sulaiman (4/Habis)

Two Efly • Jumat, 12 September 2025 | 06:30 WIB

Ekspedisi Gunung Talamau 2.982 mdpl mengungkap legenda Ophir, letusan 1869, tiga puncak, 13 telaga, flora-fauna, mitos harimau campo, hingga kisah emas Nabi Sulaiman.
Ekspedisi Gunung Talamau 2.982 mdpl mengungkap legenda Ophir, letusan 1869, tiga puncak, 13 telaga, flora-fauna, mitos harimau campo, hingga kisah emas Nabi Sulaiman.
Gunung Talamau selain indah dan menjulang tinggi juga memiliki cerita unik. Dalam legenda, Gunung Talamau disebut sebagai Gunung Ophir yang diyakini menjadi sumber emas Kerajaan Nabi Sulaiman (King of Solomon).

Laporan: Two Efly & Azib Fattah Mandala Putra

Gunung Talamau secara teritorial berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Pasaman Barat. Gunung ini berjenis stratovolcano nonaktif. Dari segi ketinggian, Gunung Talamau merupakan gunung tertinggi di Sumatra Barat. Gunung Kerinci memang lebih tinggi, tetapi secara administrasi berada di perbatasan Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat, dan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Selain ketinggiannya yang mencapai 2.982 mdpl, Gunung Talamau menyimpan banyak keindahan dan keunikan. Flora dan fauna yang lestari, 13 telaga yang indah, hingga legenda sebagai Gunung Emas Nabi Sulaiman, menjadikan Talamau istimewa.

Menurut catatan Wikipedia, gunung ini pertama kali didaki oleh dua penjelajah asal Eropa, Mr. Horner dan Krusensten, pada 9 Mei 1839.

Tidur Pulas Sejak 1869 Masehi

Mengutip data Magma Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan Gunung Talamau dalam kategori gunung vulkanik Tipe B, yakni gunung yang sudah ratusan tahun tidak memperlihatkan aktivitas vulkanik. Meski begitu, potensi erupsi kembali tetap ada.

Dalam catatan sejarah, Gunung Talamau pernah meletus pada 31 Oktober 1869. Letusan disertai suara gemuruh dari dalam tanah, abu vulkanik, dan lava hingga keesokan harinya. Hal ini juga diperkuat dengan adanya nama daerah di kaki gunung, Timbo Abu, yang berarti wilayah tersebut pernah tertimpa abu vulkanik.

Berdasarkan surat kabar Sumatra-Courant: Nieuws en Advertentieblad edisi 20 November 1869 dan De Locomotief edisi 13 Desember 1869, abu letusan Talamau menutupi wilayah sekitar hingga mengakibatkan 368 ekor kerbau mati. Namun, tidak diketahui jumlah korban jiwa maupun kerusakan rumah akibat letusan itu.

Sejak letusan dahsyat tersebut, belum ada catatan kolonial maupun pemerintahan berikutnya yang melaporkan aktivitas besar Gunung Talamau. Gunung ini seolah beristirahat panjang hingga gempa tektonik 25 Februari 2022 yang menelan korban jiwa dan merusak ratusan rumah kembali menyorotkan perhatian pada Talamau.

“Sampai saat ini kawah belerang di puncak Gunung Talamau masih ada. Konon, telaga besar dan dalam di puncak dulunya adalah kawah,” ujar Andrianto Anggara, pemandu wisata sekaligus petugas destinasi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Pasaman Barat.

Gunung Emas Nabi Sulaiman

Menurut catatan sejarah kolonial, Gunung Talamau juga dikenal sebagai Gunung Ophir dengan puncak tertinggi bernama Tella Maau atau Talakmau. Newman van Padang (1940) menulis bahwa gunung ini memiliki satu tubuh dengan tiga puncak: Gunung Talamau sebagai yang tertinggi, Gunung Pasaman, dan Gunung Malintang.

Nama Ophir berasal dari bahasa Ibrani Ofir, yang berarti “daerah kaya emas”. Kisah ini merujuk pada kitab Perjanjian Lama yang menyebut negeri asal emas Raja Salomo (Nabi Sulaiman) dari Raja Hiram, penguasa Tirus. Negeri tersebut dikisahkan kaya emas dan tanah subur.

Kisah Ophir menarik perhatian banyak ilmuwan dan penjelajah Eropa. Seorang ilmuwan bernama Keane (1901) mencatat berbagai klaim lokasi Ophir, mulai dari India, Semenanjung Malaya, Tanah Arab, Haiti, Malaka, hingga Gunung Talamau di Pasaman Barat.

Dalam De Indische Courant tertanggal 20 Desember 1834 disebutkan bahwa selain emas, di daerah Ophir juga terdapat kera dan gajah. Hal ini memperkuat dugaan Van der Sleen, pelaut sekaligus geolog, bahwa Ophir yang dimaksud berada di Sumatra, Hindia Belanda.

Sumatra-Courant edisi 14 April 1869 juga menyebutkan emas Raja Sulaiman berasal dari Sumatra, tepatnya Pasaman Barat atau Gunung Talamau. Cerita ini beririsan dengan perkebunan peninggalan Belanda di Pasaman Barat. Bahkan, PTPN VI menamai sejumlah kebun inti dan plasma dengan nama Ophir.

Selain itu, hingga kini warga di kaki Gunung Talamau masih melakukan aktivitas mendulang dan menambang emas secara tradisional.

Tiga Puncak dan Dua Jalur Pendakian

Gunung Talamau memiliki akses pendakian terbatas. Hanya ada dua jalur menuju puncak: dari Pinaga dan dari Jorong Janjang Saribu, Lubuak Landua, Kecamatan Pasaman. Namun, jalur Janjang Saribu kurang populer dan jarang digunakan.

Jalur Pinaga menjadi jalur favorit, termasuk jalur yang dipilih tim Seven Summit dalam ekspedisi mereka ke puncak Talamau.

Gunung Talamau memiliki tiga puncak: Puncak Trimartha (2.982 mdpl) sebagai yang tertinggi, Puncak Rajawali, dan Puncak Rajo Dewa. Ketiganya terpisah cukup jauh dari puncak utama.

Indahnya 13 Telaga

Keistimewaan lain Gunung Talamau adalah keberadaan 13 telaga di puncak Trimartha. Uniknya, sebagian pendaki dapat melihat semua telaga, sementara sebagian lainnya hanya melihat sembilan.

Ketiga belas telaga itu adalah: Talago Biru, Talago Buluah Parindu, Talago Cindua Mato, Talago Imbang Langik, Talago Lumuik, Talago Mandeh Rubiah, Talago Puti Bungsu, Talago Puti Sangka Bulan, Talago Rajo Dewa, Talago Satwa, Talago Siuntuang Sudah, Talago Tapian Puti Mambang Surau, dan Talago Tapian Sutan Bagindo.

Selain telaga, terdapat juga Air Terjun Puti Lenggo Geni dengan ketinggian lebih dari 100 meter yang terletak tak jauh dari Pos 2 (Bukik Harimau Campo).

Legenda dan Mitos

Dua dari tiga belas telaga sarat dengan nuansa mistis, yaitu Talago Biru dan Talago Buluah Parindu. Keduanya banyak mewarisi cerita legenda yang masih diyakini masyarakat sekitar.

Legenda lain adalah kisah Harimau Campo, penunggu setia Gunung Talamau, serta cerita tentang seorang kiai yang diyakini menjaga kawasan gunung.

Butuh waktu sekitar empat hari tiga malam untuk mencapai puncak dan kembali ke basecamp. Jalur pendakiannya dikenal berat, namun juga salah satu yang terbersih di Sumatra Barat.

“Tuntas satu misi berat, Talamau memang butuh perjuangan dan kesabaran untuk menaklukkannya. Kita persiapkan lagi pendakian berikutnya. Semoga apa yang kita rencanakan dalam Seven Summit ini bisa terlaksana sesuai rencana,” tutur Azib. (Tamat)

Editor : Hendra Efison
#Dari Ekspedisi ke MT Talamau 2982 Mdpl #Gunung Emasnya Nabi Sulaiman