Dialah Riki, 35, warga yang setahun terakhir memilih menjadi penjaga pintu perlintasan sebidang rel kereta api (KA) secara sukarela.
Tugas itu bukan berasal dari instansi resmi, melainkan murni inisiatif pribadi. Dengan keterbatasan pada tangannya, Riki tetap teguh membantu pengendara agar selamat.
“Daripada meminta uang ke orang tua, saya memilih kerja di sini. Bayarannya hanya sukarela dari pengendara yang lewat,” ujarnya.
Peran Riki tidak lepas dari risiko besar. Ia masih mengingat peristiwa memilukan tahun lalu, ketika sebuah mobil tertabrak kereta di kawasan tersebut.
“Itu kejadian paling berat yang saya lihat. Jadi pelajaran penting bagi saya untuk lebih hati-hati,” katanya.
Namun, tantangan justru sering datang dari perilaku sebagian pengendara. Ada yang mengabaikan arahannya, bahkan tetap melaju meski kereta sudah dekat.
“Kadang kaca mobil tidak dibuka, jadi susah memberi tanda. Padahal jelas kereta mau lewat,” ungkapnya.
Pendapatan yang diterima Riki tidak menentu. Uang yang ia peroleh hanya cukup untuk makan sehari-hari. “Yang penting bisa bertahan hidup. Selebihnya saya ikhlas saja,” ucapnya.
Kisah Riki menjadi potret nyata perjuangan dan pengabdian tanpa pamrih. Dengan kesederhanaan dan tekad, ia terus berdiri menjaga pintu rel kereta api Kayu Kalek, demi keselamatan banyak orang meski tanpa jaminan imbalan tetap.
Data Perlintasan Sebidang di Sumatera Barat
Fenomena relawan penjaga pintu rel seperti Riki juga tak lepas dari kondisi perlintasan sebidang yang masih rawan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan RI, Amin Hudaya, saat rapat internal Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang di Nagari Ketaping, Kabupaten Padangpariaman, Selasa (30/9) lalu, menyampaikan bahwa hingga September 2025 terdapat 286 perlintasan sebidang di Sumatera Barat.
Dari jumlah tersebut, 61 perlintasan sudah terdaftar dan dijaga, sementara 60 perlintasan belum terdaftar dan tidak dijaga, dan sisanya tidak terdaftar.
“Sudah tercatat 22 kali kejadian kecelakaan di perlintasan sebidang sampai September 2025,” ungkapnya.
Dalam rapat ini juga disampaikan berbagai masukan dari para kepala daerah, seperti wali kota Padang dan Pariaman terkait solusi mengatasi kecelakaan yang sering terjadi di perlintasan sebidang. Mulai dari perlunya teknologi hingga pemasangan plang.(imam)
Editor : Heri Sugiarto