Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bukan Pewaris, Tapi Perintis: Kisah Elsa Maharrani Membangun Kampung Jahit dan Memberdayakan Warga Koto Tingga

Novitri Selvia • Rabu, 5 November 2025 | 11:37 WIB

RUMAH KEDUA: Sejumlah penjahit menyelesaikan pekerjaannya di sentra produksi Kampung Jahit Maharrani di Simpang Koto Tingga Nomor 55, Pasar Ambacang, Kuranji, Padang, pertengahan September lalu.
RUMAH KEDUA: Sejumlah penjahit menyelesaikan pekerjaannya di sentra produksi Kampung Jahit Maharrani di Simpang Koto Tingga Nomor 55, Pasar Ambacang, Kuranji, Padang, pertengahan September lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM-Ia bukan pewaris tetapi perintis. Juga bukan orang yang ingin berhasil sendiri. Kepekaannya mampu menggeliatkan ekonomi di lingkungan sekitar. Dia Elsa Maharrani. Bagaimana kisahnya?

SEKITAR 5 kilometer arah timur laut pusat Kota Padang, pakaian muslim berbagai model dihasilkan tangan-tangan terampil sebagian warga setempat.

Sebuah bangunan putih diapit toko berdinding kaca dan sebuah rumah, di sanalah sentral produksinya. Simpang Koto Tingga Nomor 55, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Entah sejak kapan persisnya, sebagian warga setempat dikenal terampil menjahit. Terkhusus kaum perempuan. Namun belum terkelola dengan baik.

Bagi para warga, keterampilan menjahit masih dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Keahlian yang seharusnya bisa menjadi sumber penghasilan utama itu, hanya dimanfaatkan ketika ada permintaan kecil seperti permak pakaian atau menjahit celana sobek.

Upah yang diterima pun hanya Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu per potong. Akibatnya, para penjahit sulit berkembang karena pendapatan yang tidak menentu dan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan harian.

Kendala lain, keterbatasan modal. Sehinga tidak bisa menyetok kain, benang, serta perlengkapan menjahit dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat mereka mengandalkan pesanan yang datang sesekali.

Bahkan kerap dengan sistem pembayaran tertunda.
Pemasaran juga menjadi soal. Minimnya pengetahuan mengenai strategi promosi, pasar pun sulit dijangkau.

Sebagian besar belum memahami penggunaan media sosial sebagai sarana promosi dan belum memiliki akses untuk mengembangkan kemampuan.

Seperti pendampingan dan pelatihan menjahit. Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap tren yang terus berubah menjadi hambatan tersendiri.

Minimnya dukungan pemerintah daerah maupun lembaga terkait memperparah keadaan. Program pemberdayaan penjahit masih sangat terbatas dan belum menyentuh warga sekitar. Terutama dalam hal modal dan pelatihan lanjutan.

Padahal kalau bisa dikelola dengan lebih baik, potensi ekonominya jauh lebih besar. Kondisi tersebut disadari Elsa Maharrani, penduduk setempat. Ia pun bermimpi untuk menyulap kawasan pinggiran kota itu menjadi “Kampung Jahit”.

Perempuan 35 tahun ini pemilik gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Tamatan tahun 2012. Layaknya orang-orang yang baru mendapat gelar akademik, ia ingin bekerja. Punya penghasilan sendiri, meskipun sudah ada Fajri Gufron yang menanggung hidupnya. Suami tercinta.

Lelaki 38 tahun itu pun tak menghalangi. Justru memberi ide agar istrinya bekerja dari rumah saja. Ternyata bisa mengubah jalan hidup mereka, juga sebagian warga setempat.

Dari rumah, ia merintis berbagai usaha. Berjualan handphone, pulsa, hingga bisnis online ia jabani. Tepatnya pada tahun 2016, ia terjun di bisnis online sebagai reseller.

Mulai dari pakaian anak hingga dewasa, serta busana dan fesyen muslim. Karena melihat peluang pasar ketika itu cenderung di fesyen muslim, ia pun mulai fokus di sana.

“Pada tahun itu busana-busana muslim sedang tren-trennya. Sedang digandrungi artis. Nah, dari itu saya lihat pasarnya lebih ke sana,” jelas wanita berwajah ayu itu kepada Padang Ekspres Rabu (27/8) lalu.

Berbekal pengalamannya sebagai reseller dan kesadaran terhadap potensi ekonomi di lingkungan sekitar, ibu tiga anak itu mulai berkeinginan untuk memberdayakan masyarakat setempat.

Ide itu muncul ketika seorang tetangga menawarkan jahitan, yang kemudian Elsa jualkan dengan sistem upah. Dari satu orang, menular ke tetangga lain. Dengan modal awal hanya Rp 3 juta, Elsa memulai perjalanannya. Uang itu ia belikan tiga rol kain dan sebuah mesin jahit.

Pada tahun 2019 brand Maharrani tercetus di rumahnya. Ia mengajak para tetangga untuk menjahit. Bahan baku dan desain telah tersedia. Hal ini pun berkembang dari mulut ke mulut sehingga banyak warga yang tertarik untuk ikut bekerja dengannya.

Ide “Kampung Jahit” juga muncul dari sang suami. Bukan hanya sekadar membuka usaha, namun juga memberi peluang kerja bagi warga sekitar tempat tinggal mereka. “Kata suami, kenapa kita tidak memberi dampak positif ke lingkungan?” kenang Elsa.

Para wanita yang menjadi tukang jahitnya diberikan pilihan. Menjahit di rumah masing-masing atau di rumah produksinya. Hal ini dilakukan agar para penjahit yang rata-rata ibu rumah tangga tetap dapat berpenghasilan tanpa meninggalkan keluarga.

Namun di sana juga disediakan mess bagi yang ingin menginap.
Ada yang sekali sepekan datang ambil bahan jahitan, kemudian diantar lagi setelah selesai. Pada Sabtu atau Minggu ambil upah. Mereka pun tetap bisa bekerja sambil mengurus keluarga.

Berkembang saat Covid-19

Setahun berselang, dunia dilanda wabah Covid-19. Tak terkecuali Kota Padang. Banyak usaha mandek ketika itu. Tapi sebaliknya bagi Elsa dan kawan-kawan. Justru kian berkembang. Lantaran semua kegiatan dilakukan secara daring.

Sehingga pesanan pakaian muslim melonjak tajam. “Kalau dibanding sebelum Covid itu mungkin pesanannya hanya ratusan pieces, pas Covid naik beribu-ribu,” ujar dia.

Ilmu yang ia dapat sebagai reseller ternyata sangat membantu dalam mengembangkan pasar. Untuk lebih menunjang, ia ikut kursus fesyen muslim secara daring selama enam bulan. Dari kursus tersebut ia lebih memahami strategi penjualan dan membaca pasar.

Ia berharap ke depannya ada yang menduplikat “Kampung Jahit”. Membuka peluang-peluang pekerjaan bagi masyarakat dan membantu menumbuhkan perekonomian. Terutama untuk perempuan-perempuan yang memiliki kemampuan jahit namun tetap harus mengurus keluarga.

Kini yang bekerja sama di Kampung Jahit Maharrani dengannya mencapai 70 orang. Sekitar 20 penjahit bekerja di rumah produksinya.

Rata-rata menyelesaikan 4–7 potong gamis per hari. Sistem borongan pun diterapkan. Penjahit mengambil kain yang sudah dipotong, menjahitnya di rumah, lalu mengembalikannya untuk quality control.

Bahkan, penjahit laki-laki pun kini bergabung. Kebanyakan mereka yang dulunya bekerja di Malaysia dan memutuskan pulang karena dampak pandemi Covid-19.

Produk yang dihasilkan pun beragam. Mulai dari tunik, gamis, mukena, hingga jilbab. Dengan minimal produksi 2000 pieces per bulan, angka ini akan melonjak tiga bulan menjelang Ramadhan.

Di bawah bendera brand “Maharrani” dan “Hamka Indonesia” untuk fesyen pria, Elsa membangun sistem yang solid. Desain produk, desain sendiri, sampling, riset, perbaikan, photoshoot, hingga sistem pre-order (PO) yang matang.

Pasar mereka kini menembus Malaysia dan memiliki agen di seluruh Indonesia. Baik melalui marketplace maupun penjualan offline. Bahan baku berkualitas tinggi dipesan langsung dari Jawa, dengan kendali mutu yang ketat.

Baca Juga: Segarnya Es Kuwut Bali, Inovasi Minuman Penyejuk yang Hanya Ada di Lubuk Minturun

Apa yang telah dilalui ibu tiga anak itu membuahkan apresiasi. Pada tahun 2020, ia mendapat penghargaan SATU Indonesia dari PT Astra. Sebuah pengakuan atas dedikasi dan kontribusinya.

Satu Harapan

Rika Delviyeni, 40, salah seorang tetangga yang menjadi penjahit tetap di Kampung Jahit Maharrani. Bergabung sejak tahun 2021. Ia dulunya penjahit gorden di Pasar Raya Padang.

Memutuskan bergabung lantaran ingin membantu perekonomian keluarga. Sebab, sang suami hanya pengemudi ojek online yang berpenghasilan tidak menentu.

Dalam seminggu, Ni Rika —begitu biasa ia dipanggil— mampu menyelesaikan 10 hingga 20 potong pakaian. Tergantung motif dan modelnya. Semakin rumit semakin butuh waktu. “Jadi kita ambil sesuai kemampuan saja,” bebernya.

Kehadiran Kampung Jahit ini diakui ibu tiga anak tersebut sangat membantunya. Ia bisa memiliki penghasilan sekitar Rp 500 ribu dalam seminggu.

Baginya Kampung Jahit Maharrani bukan sekadar tempat bekerja. Namun juga memberi harapan memperbaiki perekonomian keluarga. Juga mengajarkan bahwa wanita tetap mampu bekerja tanpa mengabaikan keluarga.

“Keinginan saya hanya satu. Semoga Kampung Jahit terus ada dan terus berkembang. Ini rumah kedua bagi kami,” jelasnya sembari tersenyum.

Sebagaimana Ni Rika, Kintan Mutia Haya juga bersyukur dengan keberadaan Kampung Jahit Maharrani. Perempuan 25 tahun itu seorang penjahit yang memiliki keterbatasan fisik. Hanya memiliki satu kaki.

Ia bergabung melalui rekrutmen terbuka setelah mengetahui Maharrani dari Instagram. “Di sini kami dirangkul dan diarahkan. Saya belajar terus dan mengembangkan diri, upgrade skill,” katanya.

Dalam seminggu, Kintan bisa menyelesaikan 50 potong jahitan, dengan penghasilan mencapai Rp 500 ribu hingga Rp1 juta. “Enak di sini. Lingkungannya enak,” tambahnya. (NOVITRI SILVIA—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#pemberdayaan perempuan #Elsa Maharrani #Kampung Jahit Koto Tingga #UMKM Padang