Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Motor Hidrogen UPI Jawara: Teknologi Pintar, Emisi Nol, dan Jarak Tempuh 428 Km

Novitri Selvia • Rabu, 19 November 2025 | 13:21 WIB

ENERGI BERSIH: Muhammad Zidan (kanan), salah seorang anggota tim pengembang Motor Hidrogen UPI. Motor hasil pengembangan sejak 2024 itu berkecapatan maksimal 80 km/ jam.
ENERGI BERSIH: Muhammad Zidan (kanan), salah seorang anggota tim pengembang Motor Hidrogen UPI. Motor hasil pengembangan sejak 2024 itu berkecapatan maksimal 80 km/ jam.

PADEK.JAWAPOS.COM-Motor Hidrogen UPI yang dikembangkan sejak 2024 sarat teknologi pintar.

Dari sensor pendeteksi kebocoran gas dan untuk mematikan sistem otomatis, juga pemantau penggunaan energi, tekanan gas, dan suhu mesin melalui ponsel. Dengan 2 liter hidrogen mampu menempuh jarak 428 km.

ADA banyak peserta pameran inovasi pendidikan vokasional di Gedung Balai Pertemuan Umum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.

Namun, perhatian pengunjung banyak tertuju pada sebuah sepeda motor bertuliskan FCEV atau Fuel Cell Electric Vehicle Jawara. Motor listrik tersebut menggunakan hidrogen sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik, dengan hasil sampingan hanya uap air.

Motor sport berdesain futuristik tanpa suara mesin dan tanpa asap itu merupakan karya tim mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Pendidikan Teknik Industri (FPTI) UPI.

Motor Hidrogen UPI, demikian kendaraan tersebut dinamai, mampu melaju dengan kecepatan maksimum 80 km/jam, dengan jarak tempuh 428 km/2 liter hidrogen.

“Motor ini sepenuhnya digerakkan oleh energi bersih,” kata Muhammad Zidan, salah seorang anggota tim, kepada Radar Bandung di sela pameran (16/11).

Mahasiswa angkatan 2023 yang bertugas di bidang elektrika dan wiring harness body itu menuturkan, proyek tersebut mulai dikembangkan sejak 2024 oleh 10 mahasiswa di bawah bimbingan Sriyono, dosen Fakultas Pendidikan Teknologi Industri FPTI UPI.

Perakitannya memakan waktu sekitar tiga bulan efektif, dengan tahap desain memakan waktu lima bulan. Sekitar 80 persen bahan yang digunakan merupakan produk dalam negeri.

Hanya fuel cell, alat pengubah hidrogen menjadi listrik, yang didatangkan dari Meksiko karena belum tersedia di Indonesia. “Kami berharap suatu saat bisa membuat fuel cell sendiri agar proyek seperti ini benar-benar mandiri,” tutur Zidan.

Teknologi Pintar

Motor Hidrogen UPI dirancang bukan hanya untuk berfungsi, tetapi juga untuk membawa pesan besar: sustainability atau keberlanjutan. Tidak ada emisi gas buang karena satu-satunya hasil pembakaran adalah air murni.

Di balik bodinya yang ramping, motor ini sarat dengan teknologi pintar. Terdapat sensor hidrogen untuk mendeteksi kebocoran gas dan mematikan sistem otomatis (cut-off) saat terjadi potensi bahaya.

Selain itu, terdapat sistem IoT (Internet of Things) yang memungkinkan pemantauan penggunaan energi, tekanan gas, dan suhu mesin melalui ponsel.

Motor tersebut juga dilengkapi GPS tracker dan fitur tap card RFID sebagai sistem pengaman layaknya kendaraan Tesla. Bahkan, saat motor hilang, pemilik dapat mematikan mesin dari jarak jauh hanya dengan mengirimkan pesan singkat (SMS).

Motor sport satu jok ini mampu melaju dengan kecepatan maksimum 80 km/jam. Ketika bahan bakar habis, motor tetap dapat berjalan menggunakan baterai cadangan.

Dilengkapi pula dengan regenerative braking—sistem yang mengubah energi pengereman menjadi daya listrik tambahan.

Dari Kompetisi ke Inovasi

Cikal bakal motor hidrogen ini bermula dari ajang PLN ICE 2024, lomba rancang bangun motor hidrogen tingkat nasional yang diikuti oleh 30 kampus.

Tim UPI berhasil menjadi salah satu dari dua tim terpilih di Indonesia yang mendapat dukungan pendanaan untuk merealisasikan rancangan menjadi unit nyata.

“Waktu itu kami memulai dari konsep café racer yang dipadukan dengan desain motor sport. Sekarang, motor ini menjadi kebanggaan karena satu dari dua unit yang ada di Indonesia, satunya lagi di ITS,” jelas Zidan.

Dukungan dari pihak universitas menjadi faktor penting. UPI memberikan akses laboratorium selama 24 jam penuh bagi tim serta dispensasi akademik agar mereka dapat fokus menyelesaikan proyek ini tepat waktu.

Meski telah melahirkan inovasi besar, perjuangan tim otomotif UPI belum selesai. Mereka kini tengah menyiapkan prototipe mobil hidrogen serta mendorong terbentuknya stasiun pengisian bahan bakar hidrogen (hydrogen fuel station) di masa depan.

Baca Juga: Rekonstruksi Kasus Pembuangan Bayi di Bukittinggi Ungkap 24 Adegan Krusial

“Kendaraan hidrogen akan jadi masa depan transportasi dunia. Tapi untuk itu, kita butuh infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian yang aman dan mudah diakses,” jelas Zidan.

Tim yang juga merancang bus listrik kampus UPI (Evo 1 dan Evo 2) ini berharap dapat terus mengembangkan teknologi otomotif berkelanjutan yang ramah lingkungan dan dapat bersaing secara global.

Melalui inovasi ini, UPI menegaskan komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-7 (Energi Bersih dan Terjangkau) serta poin ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Dukungan yang ditunjukkan kampus sangat komprehensif, dari tingkat program studi, fakultas, sampai universitas. Buahnya, tim mahasiswa mereka memenangi sejumlah lomba inovasi level nasional hingga internasional.

“Awal tahun depan, atas dukungan universitas, kami juga akan mengikuti final lomba kendaraan hemat energi dengan kategori urban concept hydrogen pada ajang Shell Eco Marathon Asia and Middle East 2026,” kata Sriyono. (*/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#UPI Bandung #Motor Hidrogen UPI #Muhammad Zidan #teknologi pintar