Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

IFP Hidupkan Suasana Belajar di SMAN 4 Payakumbuh, Siswa Akui Lebih Interaktif

Syamsu Ridwan • Jumat, 21 November 2025 | 11:30 WIB

ANTUSIAS: Siswa SMAN 4 Payakumbuh tengah antusias belajar menggunakan Interactive Flat Panel (IFP), membuat suasana kelas lebih interaktif dan hidup.
ANTUSIAS: Siswa SMAN 4 Payakumbuh tengah antusias belajar menggunakan Interactive Flat Panel (IFP), membuat suasana kelas lebih interaktif dan hidup.

PADEK.JAWAPOS.COM-Di sebuah ruang kelas di SMAN 4 Kota Payakumbuh, suasana belajar siang itu tampak berbeda. Deretan laptop terbuka di meja siswa, sementara sebuah layar sentuh besar, Interactive Flat Panel (IFP), berdiri di depan kelas.

Mata para siswa tertuju pada panel canggih itu; sesekali mereka memperhatikannya, sesekali kembali menatap layar laptop masing-masing. Pembelajaran tidak lagi monoton. Ia hidup, bergerak, dan menyala.

IFP menggabungkan fungsi papan tulis, proyektor, dan televisi pintar dalam satu perangkat. Kini, alat ini mulai diperkenalkan dalam proses belajar di sekolah tersebut.

Bagi banyak siswa, perangkat ini menjadi pengalaman pertama menggunakan teknologi berbasis layar sentuh dalam pembelajaran formal.

“Ini pertama kalinya saya belajar pakai alat seperti ini,” ujar Andre Febrian, siswa kelas X E3, tidak menutupi antusiasmenya.

Ia mengaku belum pernah menyentuh perangkat serupa sebelumnya, baik di sekolah lama maupun lingkungan pendidikan lainnya.

Bagi Andre, IFP bukan sekadar perangkat modern yang memanjakan mata. Ia menganggapnya sebagai alat belajar yang memudahkan guru menyampaikan materi secara visual.

Meski begitu, panel ini juga bisa menjadi sarana bermain yang menyenangkan selama tetap dalam konteks belajar.

“Lebih seru pakai panel ini. Kalau pakai buku, isi tas jadi berat. Dengan panel, gambaran materi langsung terlihat,” katanya sembari tersenyum.

Meski sempat bingung pada awalnya, Andre mengatakan bahwa kebiasaan adalah kunci. “Awalnya memang bingung, tetapi lama-kelamaan sudah terbiasa. Sampai sekarang aman-aman saja,” ungkapnya.

Siswa lainnya, Kayyisah Ufaura, punya cerita yang mirip. Saat pertama melihat panel besar di depan kelas, pikirannya sempat tertuju pada hal-hal santai.

“Awalnya terpikir buat nonton,” ujarnya sambil tertawa kecil. Namun ternyata, lebih seru digunakan untuk pembelajaran.

Kayyisah merasa pembelajaran lewat panel membuatnya lebih tertarik. “Biasanya kalau pakai buku, kadang suntuk. Tapi dengan IFP, lebih fokus ke depan,” ulasnya.

Ia juga mengakui bahwa perkenalan pertama dengan IFP tidak selalu mulus. “Pasti bingung di awal. Tapi guru sudah memberikan sosialisasi, jadi insya Allah aman,” ungkapnya.

Menurutnya, kesulitan hanya muncul saat menyesuaikan diri dengan fitur-fitur di panel. Namun setelah terbiasa, semuanya terasa lancar. “Sekarang aman saja. Belum ada kerusakan yang fatal,” katanya.

Ketika ditanya mana yang lebih nyaman, belajar dengan panel atau langsung dengan guru, jawaban Kayyisah terasa diplomatis. “Aduh, 50:50. Dua-duanya enak,” katanya.

Ia menjelaskan, panel memberi ruang interaksi yang berbeda, lebih bebas dan visual. Namun pembelajaran lewat buku atau guru, menurutnya, memiliki kedekatan emosional tersendiri.

“Kalau pakai buku, ada kedekatan kita sama guru. Jadi lebih personal, seperti ada hubungan,” tuturnya.

Meski baru dikenalkan, penggunaan IFP sudah memberi warna baru dalam proses belajar di SMAN 4 Payakumbuh. Suasana kelas tampak lebih interaktif, siswa lebih fokus ke depan, dan materi bisa ditampilkan secara visual dan mudah dipahami. (SY RIDWAN— Payakumbuh)

Editor : Novitri Selvia
#IFP #SMAN 4 Kota Payakumbuh #Digitalisasi Pendidikan