Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Buku, Taman Kecil Kota, dan Maulidan Rahman Siregar: Nyala Cahaya Guru di Luar Kelas dan Pagar Sekolah

Ganda Cipta • Rabu, 26 November 2025 | 13:48 WIB

Maulidan Rahman Siregar
Maulidan Rahman Siregar

PADEK.JAWAPOS.COM-Ruang seorang guru dalam mendidik dan menyebarkan pengetahuan tidak hanya di kelas semata. Dari rumah atau taman kecil kota pun bisa. Maulidan Rahman Siregar salah satu contohnya.

DUA jam lagi matahari tenggelam. Tikar 2x4 meter pun dibentang. Ratusan buku digelar acak di atasnya. Seiring itu, belasan mungkin puluhan orang-orang silih berganti datang. Anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Di antara lalu lalang kendaraan, deru mesin sepeda motor, klakson mobil saut-bersaut, juga sayup-sayup musik odong-odong, mereka mulai melihat-lihat, memilih-memilih, dan membuka beberapa lembar buku.

Sebagian besar buku-buku, layak dibaca anak-anak dan remaja. Ada juga bertemakan parenting untuk orang tua. Jika cocok, lanjut baca. Boleh di mana saja.

Di atas ayunan, di bawah pohon, atau di bangku-bangku yang tersedia. Terpenting, di sekitar lapak sederhana itu dibuka.

Rori Aroka Rusji salah satunya. Bersama istri dan dua anaknya, kerap mendatangi lapak baca Siteba Berpuisi yang hadir setiap Minggu di Taman Nanggalo itu.

Sebuah taman dengan luas sekitar 300 meter persegi di pinggiran aliran Batang Kuranji. Tepatnya di Simpang Berok Siteba, Kelurahan Suraugadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.

“Liburan kecil keluarga. Sambil membawa anak membaca,” demikian alasan yang ia ungkapkan kepada Padang Ekspres, Minggu (16/11).

Mengisi akhir pekan seperti itu, menurutnya lebih humanis. Anak-Anak bisa merasakan bertemu teman-teman baru.

Aktivitas seperti yang dilakukan di Siteba Berpuisi, cukup jarang bisa ditemukan di Kota Padang. Kalaupun ada, sepertinya kurang tersosialisasi. Sehingga tak diketahui secara luas.

Sebab itu pula ia dan keluarga telah 12 kali berkunjung ke sana. Padahal, lelaki 37 tahun ini bukan lah warga Siteba dan sekitarnya.

Dia tinggal di Perumahan Graha Bungopasang, Kelurahan Bungopasang, Kecamatan Kototangah. Sekitar 15 menit perjalanan dengan sepeda motor.

Berawal dari Obrolan Ringan

Siteba Berpuisi diinisiasi Maulidan Rahman Siregar. Seorang guru di SMK Penerbangan Nusantara (SPN) Ketaping, Kabupaten Padangpariaman.

Ucok –begitu sapaan akrabnya— bukan guru biasa. Dia aktif di dunia kepenulisan, terkhusus sastra. Sejumlah karyanya terbit di media cetak juga online, baik nasional maupun lokal. Tiga buku puisi dan satu buku cerpen pun telah ia lahirkan.

Di luar itu, lelaki kelahiran 1 Februari 1991 ini kerap mengikuti sejumlah diskusi di berbagai kantong-kantong literasi di Kota Padang dan Sumbar.

Baik diskusi tentang buku, kesenian, budaya, sosial, juga lingkungan, dan lain sebagainya. Dari aktivitas itulah kemudian, lahir gerakan literasi Siteba Berpuisi.

Berawal dari obrol-obrol ringannya dengan penulis novel Boy Candra. Mereka berkesimpulan, diskusi-diskusi publik yang ada tidak banyak menyentuh orang di luar lingkaran para pegiatnya.

Gerakan Siteba Berpuisi tak sekadar mendekatkan buku bacaan pada masyarakat. Tetapi diniatkan juga menjadi pintu masuk ke ruang-ruang diskusi dan berbagai perpustakaan yang ada di daerah ini.

Di antaranya, Pustaka Steva di Kuraopagag, Kecamatan Nanggalo. Basis Ucok dan kawan-kawan berkegiatan. Pengunjung yang sering datang ke lapak baca Siteba Berpuisi, ia rekomendasikan untuk ke Steva yang buka setiap hari. Itu Agar dapat akses buku lebih.

Namun awalnya, cerita Ucok, Siteba Berpuisi dikhususkan untuk pegiat sastra, terutama puisi. Arahnya kemudian sedikit berbeda setelah adanya lapak baca.

Lebih meluas. Tidak ingin menyasar pecinta sastra saja. Salah satu jalannya dengan menghadirkan buku-buku anak.

“Kami mengupayakan, setiap edisi ada buku yang berbeda yang kami bawa. Misal, buku-buku agama, dan juga buku parenting. Agar imbang. Anaknya bisa baca buku anak, bapak atau ibu membaca buku-buku parenting. Alhamdulillah, buku-buku puisi tetap dibaca pengunjung remaja awal dan dewasa awal,” terangnya.

Bagi alumni IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, membaca buku di zaman yang serba “berburu” ini dirasa amat perlu. Hasil bacaan bisa menjaga tiap individu agar tidak gampang terbawa arus zaman. Mereka jadi gampang bertanya dan mengkritisi.

“Kita perlu membaca agar punya banyak perspektif. Lalu dengan perspektif itu bisa menentukan jalan sendiri. Artinya, dengan membaca jadi tidak gampang didikte orang lain, didikte kekuasaan,” katanya.

Sejak Januari 2025, Siteba Berpuisi telah hadir di tengah-tengah masyarakat dalam 23 volume. Meskipun baru beberapa bulan, gerakannya cukup berkembang. Lomba baca puisi antar anak SD digelar.

Satu buku kumpulan puisi Tong Setan Telah Menyihir Kita pun telah diterbikan. Dunia digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube juga dirambah. Konten utamanya pembacaan puisi dan podcast literasi.

Respons dan Rencana

Gerakan ini cukup mendapat respons positif. Beberapa edisi sering terlihat keluarga yang sama datang setiap pelaksanaan. Di online pun masyarakat juga peduli.

Bahkan memberi saran agar kondisi lapak steril dari asap rokok. Sejak ada imbauan begitu, pengunjung yang merokok diminta menjauh dari lapak.

Ke depan, sejumlah kegiatan telah direncanakan. Satu di antaranya, berkunjung ke beberapa tempat di Padang, di luar jadwal Siteba Berpuisi.

Kemudian, pelatihan baca puisi, pelatihan menulis puisi, kunjungan ke beberapa sekolah di Siteba, dan Fetival Siteba Berpuisi. Penerbitan buku juga masuk list. Setidaknya, dalam setahun satu buku antologi puisi.

Ucok memang bukan warga Siteba. Tinggal di Palapa, Kabupaten Padangpariaman. Namun, bukan berarti ia melupakan sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya.

Rumahnya, selalu terbuka untuk siapa saja. Ia dibantu masyarakat, terutama Jorong V Palapa untuk mengerjakan apa yang dilakukan di Siteba Berpuisi.

Setidaknya, sejak dia masuk TVRI Sumbar beberapa waktu lalu, Pak Jorong minta pula untuk menggelar lapak baca buku di rumah. Alhasil, dibikin pula gerakan kecil lainnya. Informasinya bisa dilacak di Instagram @pustakasemilir.

Pustaka Semilir buka tiap Minggu, pukul 08.00 -14.00 WIB. Buku yang dibaca boleh buku apa saja yang ada di rumahnya. Tidak hanya buku anak dan buku puisi.

“Di sekolah, lain pula caranya. Meski sendiri yang menggalakkan literasi, tapi gerakannya pernah seru juga. Saya kombinasikan ajakan menulis dan membaca dengan jadwal apel dan jadwal ngajar. Jika saya yang jadi pengambil apel, biasaya akan senantiasa saya ajak anak-anak untuk membaca dan menulis,” tutur Ucok.

Rogoh Kocek Sendiri

Kegiatan literasi Ucok tak hanya di Siteba Berpuisi. Bersama sastrawan Alizar Tanjung dia mengelola portal Janang.id. Situs web yang salah satu kanalnya menerima tulisan-tulisan sastra.

Karya yang dimuat, diberi honor. Meskipun tak sebesar media-media arus utama. Sumbernya dari tim yang terlibat dan donator.

Termasuk dari kocek Maulidan sendiri. Ia sisihkan gaji gurunya yang tak seberapa. Juga dari honor dia menulis di sejumlah media di Indonesia.

“Janang.id merupakan media alternatif yang dirancang guna menampung jiwa-jiwa kritis. Menampilkan dua hal utama, sastra dan musik. Dua hal utama yang saya senangi,” tuturnya.

Sejak berdiri 2018 silam, Janang.id sempat tutup beberapa kali, sebelum dihidupkan kembali pada akhir 2022 karena keterbatasan biaya. Untuk bertahan, dari beberapa bulan lalu, mereka mengajak kawan-kawan berdonasi di Saweria, namun belum efektif.

Walau harus keluar urang pribadi, dari Janang.id Ucok dapat asupan besar untuk proses kreatifnya sebagai penulis.

“Saya dapat bacaan dari kiriman kawan-kawan penulis. Saya dapat kiriman lagu dari kawan-kawan pemusik. Nah, mengerjakan Janang.id itu sebenarnya menguntungkan,” ungkap dia.

Terkait Siteba Berpuisi, ia punya alasan pribadi. “Dendam” masa lalu. Karena sewaktu kecil tak dapat bahan bacaan dari keluarga di rumah.

Sehingga ia ingin generasi mendatang tidak punya pengalaman sepertinya. “Saya ingin, masyarakat terutama anak-anak, dekat dengan buku,” tukasnya. (GANDA CIPTA—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Maulidan Rahman Siregar #Gerakan Siteba Berpuisi #Taman Nanggalo #Nanggalo Kota Padang #Pustaka Steva