Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengenal Band Space Rock YTTA: Band “Bapak-bapak” yang Konsisten Berkarya di Jalur Indie

Adetio Purtama • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:19 WIB
Band space rock asal Payakumbuh, YTTA, melakukan photo session usai manggung di Record Store Day Padang 2026 yang digelar di Fabriek Padang beberapa waktu lalu. (DOKUMENTASI YTTA/PENTAS KITA)
Band space rock asal Payakumbuh, YTTA, melakukan photo session usai manggung di Record Store Day Padang 2026 yang digelar di Fabriek Padang beberapa waktu lalu. (DOKUMENTASI YTTA/PENTAS KITA)

YTTA, grup musik yang mengusung genre alternative space rock ini terbentuk dari sebuah reuni sederhana antar-kawan lama di sebuah coffeeshop di Kota Payakumbuh pada tahun 2024. Di balik nama YTTA, tersimpan cerita unik sekaligus penuh semangat tentang persahabatan. Seperti apa ceritanya?

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang--

Kepada Padang Ekspres melalui pesan WhatsApp, para personel YTTA menceritakan bahwa awalnya band tersebut dibentuk oleh empat orang sahabat lama, yakni Indra pada gitar, Om Chenk sebagai bassis sekaligus vokalis, Bayu di gitar, dan Jone sebagai drummer.

Namun, seiring perjalanan waktu, formasi band mengalami perubahan, dan kini YTTA tampil sebagai trio yang terdiri dari Indra (gitar), Om Chenk (vokal dan gitar), serta Tyo (gitar dan vokal).

Baca Juga: Jelang Idul Adha 1447 H, Pemkab Tanahdatar Percantik Trotoar Lapangan Cindua Mato

Nama YTTA sendiri awalnya memiliki makna yang cukup jenaka. Mereka mengaku sempat memaknai YTTA sebagai singkatan dari “yang tua-tua aja” karena seluruh personelnya rata-rata sudah berstatus sebagai bapak-bapak. Namun, seiring waktu, candaan tersebut berubah menjadi identitas baru.

“Awalnya yang tua-tua aja karena kami rata-rata sudah bapak-bapak semua. Tapi makin ke sini kami merasa makin tampan, jadi kami sepakat jadi yang tampan-tampan aja,” ujar mereka.

Dari Punk Rock ke Alternative Space Rock

Dalam perjalanan musikalnya, YTTA ternyata tidak langsung memilih genre alternative space rock seperti yang mereka usung saat ini.

Baca Juga: Korbankan Kepentingan Pribadi demi Kebaikan Bersama

Pada awal pembentukan, mereka justru memainkan musik punk rock. Namun, para personel merasa ingin menghadirkan sesuatu yang lebih khas dan memiliki karakter suara berbeda.

Mereka kemudian memilih jalur alternative space rock sebagai identitas musikal baru. Genre tersebut dinilai mampu memberikan ruang eksplorasi lebih luas, terutama dalam membangun nuansa atmosferik dan emosional dalam lagu.

Menurut mereka, karakter sound space rock mampu menghadirkan energi yang berbeda kepada pendengar.

Baca Juga: Prof Djohermansyah: Jakarta Terjebak Transisi, Sulit Jadi Kota Global Tanpa Kewenangan Khusus

“Nuansa sound space membuat kami bisa mentransfer energi luar angkasa dan menyampaikan pesan lagu yang berat menjadi nyaman didengar,” ungkap mereka.

Dalam proses bermusik, YTTA banyak terinspirasi oleh sejumlah band dan musisi internasional maupun nasional seperti ONE OK ROCK, Thirty Seconds to Mars, Angels & Airwaves, U2, For Revenge, hingga Last Child.

Angkat Tema Kehidupan dan Pergulatan Manusia

Hingga kini, YTTA telah memiliki beberapa karya original, di antaranya lagu berjudul Prayana dan Amara. Selain itu, mereka juga tengah mempersiapkan lagu baru berjudul Nak dan Semesta yang masih berada dalam proses rekaman.

Baca Juga: Kepulauan Mentawai Diguncang Gempa 3,5 Magnitudo, Aktivitas Warga Tetap Normal

Lagu-lagu YTTA lebih banyak berbicara mengenai isi hati manusia dan perjalanan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mencoba menyampaikan pesan mendalam melalui lirik yang reflektif dan atmosfer musik yang luas.

Lagu Prayana yang berarti “pergilah”, misalnya, mengangkat tema tentang proses perpisahan dengan ego manusia. Sementara Amara yang memiliki makna “jejak abadi” menjadi pesan reflektif tentang pilihan hidup manusia: apakah ingin menjadi sosok yang bermanfaat atau justru terlupakan.

Tantangan Musisi Independen di Sumbar

Sebagai band independen yang tumbuh di Sumatera Barat, YTTA mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal berkarya, tetapi juga menjaga kreativitas dan konsistensi di tengah minimnya ruang pertunjukan musik.

Baca Juga: Jaga Anak dari Tindakan Kekerasan

Mereka menilai kesempatan tampil atau gigs di Sumbar masih cukup terbatas sehingga promosi karya menjadi tantangan tersendiri bagi musisi lokal.

“Mungkin tantangannya harus lebih update dan sekreatif mungkin. Promosi juga susah di Sumbar karena jarang gigs,” ujar mereka.

Meski demikian, YTTA tetap aktif tampil di berbagai panggung musik di Payakumbuh maupun Padang. Salah satu pengalaman panggung yang paling membekas bagi mereka terjadi saat penampilan pertama.

Baca Juga: Senjata Nuklir: Kewaspadaan Global Menata Kehidupan dan Peradaban

Kala itu, tuning gitar mereka mengalami masalah dan terdengar fals di atas panggung. Namun mereka tetap menyelesaikan satu lagu hingga akhir meski dalam kondisi tidak ideal.

“Yang paling berkesan itu panggung pertama, tuning gitar kami fals dan tetap menyelesaikan satu lagu,” cerita mereka sambil tertawa.

Platform Digital jadi Senjata Musisi Independen

Di tengah keterbatasan ruang promosi konvensional, YTTA mengakui platform digital menjadi salah satu alat penting untuk memperluas jangkauan musik mereka.

Baca Juga: Kapolda Sumbar dan Polres Solok Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Program KUR Petani

Menurut mereka, layanan streaming musik sangat membantu musisi independen dalam memperkenalkan karya kepada pendengar yang lebih luas.

“Platform digital adalah salah satu senjata buat promo. Cakupannya luas dan sangat membantu musisi independen seperti kami,” ungkap mereka.

Meski era digital semakin dominan, YTTA menilai rilisan fisik tetap memiliki nilai prestise tersendiri bagi musisi dan penikmat musik.

Baca Juga: Kotomalintang Sulap Lahan Tidur jadi Produktif

“Kalau rilisan fisik masih penting karena rasanya beda. Koleksi fisik terasa lebih mewah saat ini,” ujar mereka.

Harapan untuk Ekosistem Musik Sumbar

YTTA juga menyoroti kondisi skena musik Sumatera Barat yang menurut mereka sebenarnya memiliki banyak potensi dan talenta berkualitas. Namun, mereka menilai konektivitas antarkota di Sumbar masih perlu diperkuat agar ekosistem musik bisa berkembang lebih solid.

Mereka berharap media lokal, komunitas, hingga pelaku industri kreatif dapat membantu memperluas eksposur bagi musisi daerah agar tidak selalu bergantung pada industri musik di Pulau Jawa.

Baca Juga: Program MBG dan Taruhan Kualitas SDM Indonesia

“Sumbar sebenarnya keren-keren, tapi mungkin kurang connected dari kota ke kota. Sumbar enggak harus ke Jawa kalau kita bisa buat ekosistem sendiri di Sumatera,” kata mereka.

Ke depan, YTTA berharap musik independen di Sumatera Barat semakin kreatif, mandiri, dan memiliki ekosistem yang sehat untuk berkembang bersama.

Saat ini, mereka tengah mempersiapkan lagu baru berjudul Nak yang sebelumnya sudah dibawakan dalam penampilan mereka di RSD Padang. Selain itu, YTTA juga berencana merilis mini album atau EP perdana dalam waktu dekat. “Insya Allah bulan depan kami proses EP pertama,” tutup mereka. (*)

Editor : Adetio Purtama
#YTTA #band space rock #payakumbuh #sumbar #band indie