Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Wakas digawangi oleh Restu Dimas (vokal), Alessandro (gitar), M. Habib (gitar), Arif Andriely (bass), dan Alif Hanafiah (drum). Kesamaan ketertarikan terhadap musik punk menjadi alasan sederhana namun kuat bagi mereka untuk sepakat membentuk band.
Nama Wakas sendiri tidak memiliki makna filosofis khusus. Nama tersebut diambil dari singkatan “Wakil Kepala Sekolah”, yang dipilih secara spontan dan kemudian melekat sebagai identitas band.
Secara musikal, Wakas mengusung genre punk dengan memasukkan beragam unsur gaya seperti school punk, college punk, hardcore punk, serta sentuhan punk rock. Mereka juga mengembangkan karakter bermusik sendiri, di tengah masih terbatasnya band dengan pendekatan serupa saat awal terbentuk.
Sejumlah band seperti Descendents, MILK, School Jerks, Social Circle, hingga pengaruh UK82 menjadi referensi utama yang membentuk warna musik Wakas dan masih memengaruhi karya-karya mereka hingga saat ini.
Ciri khas lain Wakas adalah durasi lagu yang singkat. Hal ini disengaja agar pesan yang ingin disampaikan dapat terasa langsung, padat, dan mengena bagi pendengarnya.
Sejak terbentuk, Wakas terbilang produktif. Pada awal 2023, mereka merilis EP berjudul Hinggap-Hinggap di Kepalaku yang berisi lima lagu. Di antaranya Iseng-iseng Pembuka, Bad Habit from Habit, Imajinasi Peninggi Birahi, Jiwa Imaji yang Terbebani, dan Masalahnya masih di Otak.
Kemudian pada November 2023, Wakas merilis Demo 2023 dengan tiga lagu. Puncaknya, pada Juni 2024, mereka melepas album penuh bertajuk HEY FRANKLIN yang memuat sepuluh lagu.
Proses penciptaan lagu Wakas banyak diambil dari lingkungan sekitar serta pengalaman pribadi para personel. Contohnya, album HEY FRANKLIN sendiri mengangkat cerita tentang perilaku seseorang yang merusak lingkungan pertemanan, hingga dampaknya meluas ke orang-orang di sekitarnya.
Dalam perjalanannya, tantangan utama Wakas adalah bagaimana musik mereka dapat diterima lebih luas dan pesan yang dibawa bisa tersampaikan ke pendengar di luar lingkar pertemanan lokal.
Sejumlah panggung berkesan telah mereka lewati, di antaranya penampilan perdana (first show) dan kesempatan tampil di DWF Fest 2024 di Palembang, yang menjadi pengalaman pertama Wakas tampil di luar Sumatera Barat sebagai sebuah band.
Wakas menilai platform digital sangat membantu band-band yang baru merintis untuk menjangkau pendengar lintas daerah bahkan mancanegara. Di sisi lain, mereka juga menilai rilisan fisik tetap penting sebagai sumber pendapatan sekaligus media dokumentasi sejarah dan identitas band.
Melihat skena musik Sumatera Barat, Wakas menilai perkembangan saat ini semakin berwarna dengan banyaknya warna baru. Mereka pun menyatakan dukungan penuh terhadap sesama musisi lokal.
Bagi Wakas, menembus pasar musik nasional bukanlah tujuan utama, melainkan bonus. Hal terpenting adalah membangun solidaritas, saling merangkul, dan saling mendukung antar pelaku musik di Sumatera Barat.
Ke depan, Wakas berharap musisi Sumatera Barat berani memainkan musik dengan gaya sendiri tanpa menjiplak yang sudah ada. Mereka juga memastikan tengah menyiapkan album berikutnya sebagai proyek lanjutan. (*)
Editor : Adetio Purtama