PADEK.JAWAPOS.COM-Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa selama masih ada anak muda yang jujur, berani, dan setia kepada bangsa serta rakyatnya, Indonesia tidak akan pernah bisa dikalahkan.
Hal tersebut ia pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun 2025 di Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Prabowo menyampaikan, penghargaan kepada para pemuda Indonesia yang pada 1928 meneguhkan tekad untuk bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Presiden menilai semangat para pemuda di masa lalu harus terus dilanjutkan melalui ilmu pengetahuan, kejujuran, disiplin, dan kerja keras untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, modern, dan sejahtera.
Kepala Negara juga mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai karena masih banyak rakyat yang hidup dalam kesulitan, seperti petani di sawah, nelayan di laut, buruh di pabrik, serta anak-anak muda yang bekerja keras demi keluarganya.
“Kepada mereka, kita wajib memastikan bahwa seluruh rakyat Indonesia harus hidup layak dan sejahtera, sehingga bangga menjadi bagian dari bangsa besar ini. Bangsa kita kaya, yang penting sekarang kita pandai menjaga dan mengelola kekayaan kita,” ucap Presiden.
Dalam pernyataannya, Prabowo juga menegaskan bangsa Indonesia tidak akan maju tanpa semangat dan kerja keras pemuda, tanpa cinta tanah air, kepribadian, serta keberanian dalam menegakkan kejujuran dan keadilan.
Cinta tanah air, katanya, bukan hanya diucapkan, melainkan harus dibuktikan dengan kerja keras, disiplin, rela berkorban, keberanian membela kebenaran, dan ketulusan melayani rakyat.
Presiden juga berpesan kepada pemuda untuk tidak takut bermimpi besar dan tidak takut gagal, karena bangsa besar lahir dari pemuda yang berani, mencintai bangsanya, dan rela berkorban untuk rakyatnya.
Kepala Negara mengajak generasi muda untuk mengobarkan semangat persatuan, gotong royong, dan semangat berbuat terbaik bagi negeri.
“Bersama kita buktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat, yang adil, yang makmur, dan disegani dunia karena rakyatnya sejahtera. Sekali lagi saya ucapkan selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun 2025. Pemuda-pemudi bergerak, Indonesia bersatu,” pungkasnya.
Medan Juang Beralih
Sementara itu, pengamat keamanan siber dan politik internasional Miftahul Ulum mengungkapkan bahwa medan juang generasi muda telah bergeser dari konfrontasi fisik di dunia nyata ke sebuah lanskap digital yang tak kasat mata.
Menurut dia, medan juang bagi generasi muda Indonesia saat ini yakni dunia metaverse, kecerdasan buatan (AI), dan algoritma. Ketiganya, menurut dia, adalah kekuatan tak terlihat, yang berkontribusi membentuk kebiasaan, mempolarisasi pandangan, dan cara berfikir seseorang.
“Beberapa dekade belakangan, bersosialisasi secara fisik itu terdisrupsi oleh media sosial. Lalu sekarang media sosial terdisrupsi oleh metaverse,” kata Miftahul.
Disrupsi teknologi dan pergeseran budaya, menurut dia, bukanlah fenomena baru. Pada zaman Plato, ada perubahan budaya oral, dimana orang berpidato, berdebat berubah menjadi budaya tulisan.
Dia mengatakan perubahan tersebut menimbulkan dinamika di masyarakat kala itu, namun hal tersebut memberikan sebuah peluang dan risiko bagi peradaban manusia.
Di sisi lain, dia menilai peluang di era teknologi digital bagi generasi muda sangatlah besar. Era ini memungkinkan Gen Z, Gen Alpha beralih dari sekadar konsumen menjadi global citizen creator, inovator, penggerak perubahan dan perdamaian yang dampaknya lintas batas.
“Mereka dapat membekali dirinya dengan pelajaran, keterampilan secara mandiri dan juga membangun komunitas untuk berbagi nilai kebaikan kepada masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Namun dibalik persona teknologi digital yang sempurna, menurut dia, terdapat hubungan interpersonal yang tergerus, hilangnya rasa memiliki yang otentik (authentic sense of belonging) yang menjadi ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa.
Dia menilai dalam ruang digital, masyarakat secara tidak langsung diisolasi oleh logika algoritma. Interaksi dengan gawai menghambat perkembangan empati, kemampuan membaca emosi, dan resilience (ketahanan) dalam menghadapi konflik di dunia nyata.
“Algoritma itu akan cenderung mengisolasi kita dengan yang dekat (serupa), sehingga terisolasi secara ideologis,” kata Ketua Program Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) itu.
Kondisi itulah, menurut dia, yang menjadi celah subur bagi infiltrasi propaganda ekstrem dan narasi kekerasan. Dia mengingatkan bahwa ruang virtual yang imersif, seperti game di metaverse, kini telah menjadi inkubator baru radikalisasi.
Dia pun meminta pemerintah responsif terhadap potensi risiko ini. Pengembangan kecerdasan imitasi dalam hal penguatan ideologi bangsa menjadi penting untuk membangun imunitas ideologi dalam menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045.
“Ketahanan siber tidak hanya tentang bagaimana how to detect, mendeteksi, tetapi juga bagaimana mencegah,” kata dia. (ant)
Editor : Novitri Selvia