Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sunyi di Lorong Pasar Raya: Pedagang Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli

M. Fikri Al Fateh • Sabtu, 1 November 2025 | 12:11 WIB

Di lorong sunyi Pasar Raya Padang, pedagang masih setia menunggu pembeli yang kian jarang datang.
Di lorong sunyi Pasar Raya Padang, pedagang masih setia menunggu pembeli yang kian jarang datang.
PADEK.JAWAPOS.COM—Suara riuh tawar-menawar yang dulu akrab terdengar di Pasar Raya Padang kini perlahan menghilang. Jumat siang (31/10/2025), suasana di pasar terbesar di Kota Padang itu tampak lengang.

Hanya beberapa pembeli terlihat menenteng kantong belanja, berjalan cepat melewati deretan kios sembako dan kebutuhan rumah tangga.

Di antara kios-kios itu, sejumlah pedagang duduk termenung di depan dagangan mereka. Beberapa mencoba memecah sepi dengan sapaan ramah pada pembeli yang lewat.

“Sepi, dek. Beberapa bulan ini lah begini. Kakak lebih banyak duduk daripada melayani pembeli,” tutur Yuli (43), pedagang sembako yang sudah belasan tahun berjualan di sana.

Fenomena penurunan pembeli ini dirasakan hampir di seluruh blok pasar. Banyak pedagang mengaku omzet menurun drastis hingga kesulitan menutupi biaya sewa kios dan kebutuhan harian.

“Sekarang susah. Kalau dulu sehari bisa ramai, sekarang kadang cuma dua-tiga pembeli,” tambahnya.

Muklis (39), pedagang kebutuhan rumah tangga, menyebut perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu penyebab utama.

“Kebanyakan ibu-ibu malas ke pasar, mereka lebih memilih beli di kios tepi jalan atau lewat online. Sekarang zamannya sudah beda,” ujarnya sambil menata barang dagangan di rak.

Bagi mereka, pasar bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang sosial yang penuh kenangan. Di sinilah para pedagang saling berbagi cerita, bercanda di antara waktu senggang, dan saling membantu ketika dagangan tak laku.

Namun, suasana itu kini memudar. Lorong yang dulu riuh kini sunyi, hanya suara langkah kaki sesekali terdengar memantul di antara kios-kios yang setengah tertutup.

Meski kondisi tak lagi secerah dulu, semangat bertahan tetap mereka jaga. “Kami hanya bisa berdoa, semoga pasar ramai lagi. Kalau terus sepi, entah sampai kapan bisa bertahan,” kata Yuli dengan nada harap.

Pasar Raya Padang kini menjadi saksi perubahan zaman. Di tengah gempuran belanja daring dan gaya hidup praktis, para pedagangnya masih mengayuh asa—berharap roda ekonomi tradisional tak berhenti berputar.(cr5)

Editor : Hendra Efison
#ekonomi lokal #pasar raya padang #Pedagang Tradisional